M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Komunitas Klabu Bacaman (Baca bareng di Taman) Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan (18/6/26). (Dok. Pribadi/Vicka Rumanti)
Vicka Rumanti

Bagaimana cara menumbuhkan kecintaan membaca pada anak di era gempuran layar gawai? Komunitas Klabu (Klub Baca Ibu) di Jagakarsa menjawab dengan sangat sederhana: mulailah dari ibunya. Komunitas Klabu menempatkan peningkatan kapasitas literasi ibu rumah tangga sebagai pilar utama pengasuhan. Mereka percaya bahwa minat baca anak tidak dapat tumbuh hanya melalui perintah, melainkan harus distimulasi lewat contoh nyata dari orang tua.

Inisiator Klabu, Pipit Dwia, menegaskan bahwa posisi strategis seorang ibu dalam keluarga menuntut mereka untuk terus memperluas wawasan intelektualnya. "Membaca buku itu bisa jadi prioritas kesepian. Tapi di satu sisi, ibu-ibu juga sebenarnya perlu pintar karena kan yang pertama kali menghadapi anak-anak itu kan ibu. Jadi kita tuh melihat bahwa ibu punya tugas penting," jelas Pipit. Melalui pembiasaan membaca yang konsisten, para ibu diharapkan mampu membangun tradisi literasi yang kuat di rumah masing-masing.

Pipit menyatakan bahwa komunitas ini secara sengaja membidik para ibu rumah tangga yang memiliki keterbatasan waktu namun memikul tanggung jawab besar dalam mendidik anak. "Target utama kami ibu rumah tangga karena mereka memang perlu lebih ditingkatkan literasinya ya karena lebih sibuk biasanya. Sisi lain juga jelas, ibunya lebih pintar, pasti kesadaran diri meningkat," terang Pipit. Menurutnya, ibu yang memiliki kesadaran diri dan wawasan luas akan lebih bijak dalam mengarahkan konsumsi informasi anak-anak mereka.

Pipit menjelaskan bahwa Klabu berupaya memfasilitasi kebutuhan keseimbangan antara peran domestik dan pemenuhan kebutuhan intelektual ibu tanpa mengabaikan kodrat seorang ibu sebagai pengasuh utama. "Gimana caranya bisa balance. Ibu bisa mengupgrade dirinya dengan membaca buku, ibu juga bisa tetap menjalankan tugasnya sebagai ibu. Jadi Klabu ini mencoba memberi ruang ibu. Kita encourage ibu tetap membaca buku," ujar Pipit.

Anak-Anak Hadir di Tengah-Tengah Mereka

Komunitas Klabu Bacaman (Baca bareng di Taman) Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan (18/6/26). (Dok. Pribadi/Vicka Rumanti)

Dalam setiap pertemuan di taman publik, Klabu menciptakan suasana yang inklusif. Di satu sisi, para ibu duduk melingkar untuk berdiskusi, bertukar perspektif, dan membedah alur buku yang mereka baca. Di sisi lain, anak-anak mereka bermain dengan aman di area terbuka hijau. Kehadiran anak-anak dalam ekosistem ini bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan bagian dari metode pembelajaran berbasis pengamatan langsung.

"Harapannya supaya anak-anak juga menumbuh minat bacanya sampai dia dewasa. Dan itu biasanya kan dicontohkan oleh orang tua, lebih efektif dicontohkan oleh orang tuanya," urai Pipit mengenai visi jangka panjang komunitasnya.

Proses edukasi di Klabu tidak berhenti pada diskusi di taman, melainkan berlanjut hingga ke platform digital, di mana ulasan buku para ibu diunggah secara bergantian di media sosial. Langkah ini tidak hanya mendokumentasikan proses belajar para ibu, tetapi juga menjadi rekam jejak digital yang positif, membuktikan bahwa ibu yang melek literasi adalah kunci utama dalam mencetak generasi masa depan yang cerdas dan berwawasan luas.

Harmoni antara edukasi orang tua dan ruang ramah anak inilah yang membuat Klabu menjadi gerakan kecil yang berdampak masif. Melalui rutinitas sederhana seperti membawa bekal dan membaca buku bersama di taman, para ibu di Jagakarsa ini sedang menanamkan pesan yang kuat kepada anak-anak mereka bahwa membaca adalah bagian dari gaya hidup yang menyenangkan, dan akan menjadi nilai yang terus membekas hingga anak-anak tersebut tumbuh dewasa.