alexametrics

Perubahan Iklim: Masalah Serius dan Berbahaya yang Sering Disepelekan

Nindi Anjani
Perubahan Iklim: Masalah Serius dan Berbahaya yang Sering Disepelekan
Api berkobar-kobar menuju Deesa Gouves, Pulau Evia, Yunani pada 8 Agustus 2021. Kebakaran hebat di Yunani dipicu gelombang panas yang semakin sering terjadi dan semakin ekstrem akibat perubahan iklim. [AFP/Angelos Tzortzinis]

Pada pertengahan abad ke-21, dunia diguncang berbagai peristiwa alam, seperti banjir bandang, badai, topan, dan gelombang panas yang berkepanjangan. Lantas, apakah ini tanda kemarahan Tuhan pada manusia yang tidak peduli terhadap ciptaan-Nya? Lalu, sampai kapan kita akan dirundung bencana ini? 

Saat ini keadaan dunia semakin mengkhawatirkan dengan adanya climate change atau yang kita kenal dengan perubahan iklim. Climate change merupakan fakta yang tidak bisa disangkal lagi. Climate change bukanlah persoalan biasa, melainkan sebuah bencana atau malapetaka besar yang akan terjadi di dunia. Namun, masalah serius ini kerap diabaikan dan dipandang sebelah mata. Padahal, climate change sangat berbahaya bagi keberlangsungan makhluk hidup di dunia. 

Climate change adalah suatu masa di mana kondisi lingkungan terjadi perubahan iklim, suhu, dan cuaca yang berpengaruh terhadap ekosistem manusia. Sedangkan menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), climate change merupakan perubahan jangka panjang dalam pola cuaca rata-rata yang telah datang untuk menentukan iklim lokal, regional, dan global bumi.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters menunjukkan, planet semakin gelap karena perubahan iklim serta pergantian iklim secara natural. Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan perkiraan baru bahwa kemungkinan tingkat pemanasan global akan terjadi hingga 1,5°C atau bahkan 2°C dalam beberapa dekade mendatang.

Akibat perubahan iklim inilah menjadikan gletser kehilangan rata-rata 267 miliar ton atau 267 gigaton es per tahun. Hal itu berarti permukaan air laut per tahunnya naik sekitar 0,74 milimeter atau sekitar 21 persen. 

Climate change terjadi di seluruh negara penjuru dunia, yang artinya bahaya bencana akan terjadi di mana dan kapan saja. Tak terkecuali Indonesia. Indonesia merupakan salah satu dari sekian negara yang rawan terhadap bencana alam akibat pengaruh climate change atau perubahan iklim. 

Regulasi tentang climate change dan bencana di Indonesia telah diatur di berbagai pasal, di antaranya, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 46 tahun 2008, Pasal 4 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change. 

Meskipun telah dibuat peraturan oleh pemerintah Indonesia, perubahan iklim masih saja menjadi salah satu momok masyarakat yang pelik dan kerap dipandang sebelah mata. Banyak pemerintah dan masyarakat yang kurang menggubris akan hal ini. Mereka cenderung memperhatikan masalah ekonomi, politik, agama, sosial dan budaya.

Padahal, masalah climate change merupakan akar dari pokok persoalan dalam negara tersebut. Seperti halnya, masyarakat kehilangan pekerjaan akibat adanya bencana alam yang telah meluluhlantahkan wilayah pokok penghidupan daerah mereka. Oleh sebab itu, masyarakat harus mewaspadai dan ‘mewanti-wanti’ bahaya climate change, seperti yang disampaikan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. 

Berdasarkan pantauan data IQ Air terbaru, Indonesia menempati peringkat 9 dengan kualitas udara terburuk dan berpolusi di dunia. Sedangkan untuk kota besar yang ada di dunia, Jakarta menempati posisi 5 dari sekian banyaknya kota besar di dunia. Berdasarkan data tersebut, Jakarta adalah kota besar yang dikategorikan buruk dan tidak sehat. 

Meskipun demikian, kita sudah sepantasnya melek akan climate change ini. Karena dampak dan bahayanya bisa membuat bumi menjadi lenyap dalam waktu yang singkat. Sebenarnya mudah saja untuk mengurangi risiko bencana alam akibat climate change. Tanpa kita sadari, upaya untuk mencegah climate change itu merupakan tindakan yang kecil tetapi besar akibatnya.

Misalnya kita bisa melakukan tindakan agar tidak membakar sampah. Hal tersebut bisa digantikan dengan memendam (menimbun) sampah dalam tanah, kurangi penggunaan air secara berlebihan. Meskipun harganya terjangkau, kita harus tetap bijaksana dalam menggunakan air. 

Terlebih lagi, pemerintah harus menegakkan hukum yang lebih tegas lagi terkait dengan perusakan alam. Pemerintah juga harus mengupayakan hal-hal lain agar masyarakat lebih terbuka dan sadar tidak akan melakukan tindakan yang berakibat terhadap climate change.

Kita harus selalu mengingat bahwa “Tuhan memberi kita penghidupan melalui alam semesta, sehingga salah satu cara bersyukur manusia dengan senantiasa menjaga, merawat, dan melestarikan alam dengan penuh cinta dan kasih sayang”.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak