News

Saat Ibu Rumah Tangga Bertani: Cerita Keteguhan Perempuan KWT Sumber Rejeki

Saat Ibu Rumah Tangga Bertani: Cerita Keteguhan Perempuan KWT Sumber Rejeki
Kelompok Wanita Tani (KWT) "Sumber Rejeki" Karanglo, Sidomoyo, Godean, Sleman, Yogyakarta (Dok. pribadi/Ancilla)

Karanglo, Sidomoyo, menjadi saksi perjuangan para perempuan yang beralih dari dapur ke ladang. Dengan semangat gotong royong, KWT (Kelompok Wanita Tani) Sumber Rejeki tumbuh menjadi ruang pemberdayaan yang menumbuhkan kemandirian perempuan desa. 

Yuli Ningsih Siti Handayani (53), Ketua KWT Sumber Rejeki, menuturkan bahwa tanah bukan sekadar tempat berpijak, tapi sumber kehidupan. Ia masih mengingat jelas Desember 2015, saat KWT Sumber Rejeki pertama kali dibentuk dan dirinya dipercaya menjadi sekretaris. 

Waktu itu, tak banyak yang menyangka para ibu rumah tangga bisa mengelola lahan bersama. Namun, semangat mereka tumbuh dari kebutuhan sederhana, ingin makan sayur segar tanpa harus jauh-jauh ke pasar.

“Ibu-ibu jadi semangat bertani dan beternak karena kalau belanja itu ngaruh juga di waktu. Tidak perlu jauh-jauh ke pasar, di dekat sini sudah ada dan lebih sehat,” tutur Yuli sambil tersenyum mengenang awal perjuangan kelompoknya.

Ia menambahkan, hasil panen dari tangan sendiri selalu punya rasa berbeda.

“Kalau di pasar kan kadang tangan ke berapa itu, kalau di sini fresh. Bisa petik sendiri, langsung dimasak,” lanjutnya. 

Lebih dari 100 jenis tanaman dan buah-buahan tumbuh subur di ladang KWT Sumber Rejeki. Tak lupa, para perempuan disini juga memelihara ayam bahagia dan lele yang menambah lengkap sumber pangan.

Bertani Jadi Jalan Hemat bagi Perempuan

Potret Yuli sebagai Ketua KWT Sumber Rejeki (Dokumentasi Pribadi/Ancilla)
Potret Yuli sebagai Ketua KWT Sumber Rejeki (Dok. Pribadi/Ancilla)

Bagi Yuli, kegiatan bertani bukan sekadar hobi yang mengisi waktu luang di sela urusan rumah tangga. Ia menyebut, aktivitas ini justru jadi cara paling nyata bagi para ibu rumah tangga untuk membantu ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan rumah.

“Penting sekali untuk bertani, karena ini mengurangi dana belanja ibu-ibu,” ujarnya. Dengan menanam sendiri, kebutuhan dapur bisa dipenuhi tanpa harus sering ke pasar.

Harga hasil panen dari kelompok juga jauh lebih terjangkau dibanding pasar, apalagi swalayan. Yuli bahkan menuturkan bahwa harganya dapat berbeda sangat jauh. 

“Sudah lebih murah, lebih sehat, lebih segar. Bahkan bisa separuh dari harga pasar, kadang seperempatnya kalau dibanding swalayan,” jelas Yuli.

Ketika panen berlimpah, sebagian hasil dijual untuk menambah kas kelompok, sebagian lagi dibagi untuk anggota. Pembagian hasil ini biasanya dilakukan setiap akhir tahun.

“Kalau dijual itu memang untuk pemasukan kas. Tapi kalau berlebih, ibu-ibu bisa bawa pulang tanpa beli,” tuturnya.

Ia bercerita, setiap akhir tahun kelompok membagikan hasil usaha atau SHU kepada para anggota. Namun, keuntungan itu tak selalu pasti. Terkadang KWT Sumber Rejeki juga mengalami pendapatan yang naik turun. 

“Sekarang kami sempat merugi karena cabai terserang hama. Obat-obatannya mahal sekali, jadi hasilnya berkurang,” kata Yuli pelan.

Meski begitu, semangat mereka tentunya tak surut. Hujan, panas, hingga serangan hama tak menghalangi para perempuan tangguh KWT Sumber Rejeki untuk terus menanam dan beternak.

Bertanam, Berdaya, dan Memanen Kemandirian

Salah satu hasil panen KWT Sumber Rejeki (Dokumentasi Pribadi/Ancilla)
Salah satu hasil panen KWT Sumber Rejeki (Dok. Pribadi/Ancilla)

KWT Sumber Rejeki bukan hanya tempat belajar menanam, tapi juga ruang tumbuh bagi kepercayaan diri perempuan desa. Bagi Yuli, di sinilah para ibu menemukan arti kemandirian lewat tangan mereka sendiri. 

“Kalau mandiri jelas, karena semuanya di sini diampu sama ibu-ibu,” tutur Yuli.

Perempuan di KWT Sumber Rejeki selalu mengenyam kemandirian untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari. 

Mulai dari mengolah media tanam, menanam, memanen, hingga menjual, semua dilakukan bersama tanpa bergantung pada siapa pun. Perubahan itu terasa nyata bagi seluruh anggota. 

“Yang dulu sama sekali tidak bisa bertanam, sekarang bisa. Bisa mengolah media, bisa menjual, bahkan bisa menanam di rumah sendiri,” katanya bangga. 

Lewat edukasi dari KWT, para anggota kini juga mengenal manfaat berbagai toga atau tanaman obat keluarga. Selain bermanfaat untuk kesehatan, pengetahuan ini membuat mereka semakin mandiri karena bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitar rumah.

“Dulu nggak tahu gunanya untuk apa, sekarang lebih percaya diri. Kalau demam atau masuk angin, nggak usah beli obat. Tinggal ambil serai atau jahe, direbus, langsung enakan,” jelasnya sambil tersenyum.

Kepercayaan diri itu tumbuh seiring bertambahnya hasil kebun mereka. Dari buah-buahan, sayuran, bahkan tanaman hias, kebun KWT kini makin lengkap dan hidup. Bahkan setiap tamu yang datang dapat mengambil hasil panennya.

“Mahasiswa yang datang ke sini biasanya senang, mereka bisa metik sendiri stroberi atau sirsak,” cerita Yuli.

Dukungan Kelembagaan yang Menjadi Pupuk Semangat KWT Sumber Rejeki

Kelompok Wanita Tani (KWT)
Kelompok Wanita Tani (KWT) "Sumber Rejeki" Karanglo, Sidomoyo, Godean, Sleman, Yogyakarta (Dok. pribadi/Ancilla)

Di balik semangat para ibu yang terus menanam, ada sosok-sosok yang tak kalah penting di balik layar. Dukungan dari kelembagaan menjadi pendorong utama mereka untuk berani berkarya lewat pertanian.

“Penyemangat kami itu jelas dari Dinas Pertanian,” ujar Yuli. Dengan adanya pendampingan ini, para perempuan merasa tidak sendirian dan lebih yakin untuk mencoba hal-hal baru di kebun.

 Ia juga menuturkan, kehadiran para pembimbing dari UPT membuat anggota KWT merasa lebih percaya diri meski banyak yang belum pernah berkebun sebelumnya. 

Mereka tak hanya diajari menanam, tapi juga memahami cara mengolah media tanam hingga merapikan hasil panen. Bagi Yuli dan rekan-rekannya, pendampingan itu bukan sekadar bimbingan teknis, tapi juga bentuk kepercayaan. 

“Kami langsung diajari juga caranya mengolah media, cara merapu, dan juga menanam,” katanya.

“Jadi kami tidak ragu atau patah semangat untuk bertani. Jelas semangat sekali, karena ada pembimbingnya,” lanjutnya dengan nada penuh syukur.

Menanam Kebaikan dan Menuai Berkah

Kelompok Wanita Tani (KWT)
Kelompok Wanita Tani (KWT) "Sumber Rejeki" Karanglo, Sidomoyo, Godean, Sleman, Yogyakarta (Dok. pribadi/Ancilla)

Di sisi lain, Yuli menuturkan bahwa harapan terbesar dari kegiatan bertani ini bukan hanya soal panen yang melimpah, tapi bagaimana perempuan bisa lebih berdaya dan menularkan semangat hidup sehat. Ia ingin para ibu di desanya sadar bahwa menanam sayur di halaman sendiri bisa membawa perubahan besar.

“Sekarang ini banyak ibu-ibu yang memberi anaknya makanan junk food. Padahal, kalau punya tanaman sendiri, bisa lebih sehat dan hemat,” ujarnya.

Dengan menanam sendiri, para ibu bisa menanam kebiasaan makan sehat sejak dini bagi anak-anak mereka. Ia berharap para ibu, terutama yang memiliki balita atau cucu, bisa kembali rajin memasak sayur dari hasil kebun sendiri.

Baginya, KWT Sumber Rejeki bukan hanya wadah ekonomi, tapi juga sarana edukasi dan kepedulian sosial. Yuli dan anggota kelompok sering mengajak warga sekitar untuk ikut belajar menanam, bahkan meski bukan anggota resmi. 

“Paling tidak ada edukasi untuk menanam. Banyak menguntungkan,” katanya.

Ia bermimpi agar tiap rumah di Karanglo memiliki tanaman sayur atau toga sendiri. Menurutnya, hal kecil seperti itu bisa memberi dampak besar bagi lingkungan, membuat udara lebih sehat dan warga lebih mandiri.

Harapan itu perlahan mulai berkembang. Yuli bercerita, KWT Sumber Rejeki juga memiliki harapan untuk memberi edukasi kepada anak-anak PAUD, TK, hingga SD yang sekolahnya berada di sekitar lokasi. Edukasi ini diharapkan agar dapat menumbuhkan rasa ingin bertani sejak dini.

“Kami ingin sejak kecil mereka mengenal nikmatnya menanam,” ujarnya dengan mata berbinar.

Lebih jauh lagi, harapan mulia KWT Sumber Rejeki juga terwujud. Tak hanya fokus pada lahan, kelompok ini juga aktif berbagi hasil panen untuk kegiatan sosial. Meski jumlahnya tak seberapa, momen berbagi itu memberi kepuasan batin tersendiri bagi para anggota. 

“Kami pernah masak dari hasil panen untuk Jumat Berkah, membagikan nasi kotak, lalu membagikan hasil pertanian kepada lansia yang tidak mampu dan difabel,” kata Yuli.

“Kami sampai menangis. Rasanya bahagia bisa berbagi walau sedikit. Doa dari para lansia itu yang bikin kami semangat,” ucapnya haru.

Kini, ia berharap semakin banyak perempuan yang mau ikut bergerak di bidang pertanian. Yuli percaya, dengan dukungan dan edukasi yang tepat, generasi muda juga bisa melanjutkan langkah mereka lewat program petani milenial. Suatu program yang difokuskan untuk para pemuda dibawah umur 40 tahun.

 “Sekarang yang muda-muda itu juga bisa kaya dari bertani. Kalau mau belajar dan tekun, dijamin hasilnya luar biasa,” pungkasnya.

Dari ladang kecil di Karanglo, semangat para perempuan KWT Sumber Rejeki tumbuh menjadi teladan tentang arti keteguhan, kemandirian, dan ketulusan. Bagi Yuli dan rekan-rekannya, bertani bukan sekadar menanam sayur, melainkan menanam harapan, kepercayaan diri, dan kebaikan yang terus berbuah bagi sesama.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda