facebook

Profil Deng Xiaoping: Bapak Reformasi Ekonomi China

Zidan Patrio
Profil Deng Xiaoping: Bapak Reformasi Ekonomi China
Deng Xiaoping (japan-forward.com)

Tiongkok saat ini adalah negara yang memiliki tingkat perekonomian yang cukup maju. Bisa dibilang bahwa negara ini sudah mampu menyaingi negara adidaya yang ada saat ini (AS) dan diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Keberhasilan pemerintah Tiongkok dalam meningkatkan perekonomian tak lepas dari peran beberapa tokoh yang sebelumnya berkuasa di Tiongkok.

Salah satu yang paling berperan dalam hal ini adalah Deng Xiaoping. Dialah yang membawa Tiongkok dari era tertutup menjadi era yang terbuka bagi hubungan luar negeri Tiongkok di tahun 70-an. Disaat negara-negara komunis menutup diri, Tiongkok malah berusaha untuk membuka diri demi kelangsungan ekonominya. Berikut beberapa fakta mengenai Deng Xiaoping sang pelopor kebijakan terbuka yang mampu mereformasi ekonomi Tiongkok.

Masa muda 

Deng Xiaoping lahir pada 22 Agustus 1904 di provinsi Szechwan, Tiongkok. Dia adalah seorang anak dari pemilik tanah yang sangat kaya bernama Deng Xixian. Pada tahun 1921, dia pergi ke Paris, Prancis, dalam sebuah program studi. Di sana dia bertemu dengan calon perdana menteri Tiongkok, Zhou Enlai.

Pada tahun 1922, Deng bergabung dengan cabang Liga Pemuda Komunis Tiongkok yang dibentuk oleh Zhou. Karena memiliki keterampilan organisasi yang kuat, dia segera dipilih menjadi pemimpin kelompok itu.

Pada tahun 1925, Deng pergi ke Moskow. Di sana dia belajar di Universitas Oriental selama dua tahun. Pada tahun 1926, Deng menjadi tenaga pengajar di Akademi Militer Chungsan. Dia mengajar di tempat itu hingga pemimpin nasionalis Tiongkok, Chiang Kai-Sek, secara tiba-tiba melakukan pembersihan kaum komunis dari aliansi militer pada bulan April 1927.

Bergabung dengan Mao Zedong 

Pada masa-masa pembersihan kaum Komunis oleh partai nasionalis, Deng berusaha bersembunyi di Shanghai. Namun dia kemudian bergabung dengan Mao Zedong dan anggota komunis lainnya di provinsi selatan Jiangxi. Di wilayah itu, Deng menjadi kepala biro propaganda Tentara Merah. Dia mendirikan pemerintahan komunis di wilayah tersebut. Tentu hal tersebut ditentang oleh Chiang Kai-Sek, dia tetap berniat untuk menghancurkan gerakan Komunis di Tiongkok. Pasukan Nasionalis berhasil mengalahkan Tentara Merah Komunis di Jiangxi.

Akhirnya komunis mundur dan memulai long march. Kaum Komunis Tiongkok melakukan sebuah perjalanan sejauh 9.654 kilometer dari Jiangxi ke Tiongkok barat laut dimana mereka masih memiliki harapan untuk membuat pangkalan baru. Setidaknya terdapat sekitar 86.000 orang yang ikut dalam perjalanan panjang itu, tetapi cuman 9.000 yang berhasil sampai di tujuan.

Era perang dunia 

Pada tahun 1939, Jepang menginvasi Tiongkok. Kedua partai: Nasionalis dan Komunis Tiongkok untuk sementara  bersatu melawan pendudukan Jepang itu. Selama perang dunia 2, Deng bekerja sebagai pejabat politik Tentara Merah. Hingga masa perang saudara Kembali berkecamuk, dia tetap memegang jabatan itu. Deng berhasil naik pangkat melalui partai Komunis. Pada tahun 1945, ia bergabung dengan Komite Sentral yang menjalankan operasi sehari-hari Partai Komunis. Deng memiliki semangat yang luar biasa, walau hanya memiliki tinggi 1,5 meter, dia dijuluki “Meriam kecil”.

Mao awalnya memuji Deng Xiaoping karena keterampilannya dalam berorganisasi, tetapi dia mulai tidak disukai pada 1960-an selama revolusi kebudayaan. Deng lebih menekankan pada self interest-nya dimana hal itu bertentangan dengan kebijakan egaliter Mao. Deng akhirnya dicopot dari semua jabatannya. Dia kemudian diasingkan bersama keluarganya ke provinsi pedesaan Jiangxi untuk menjalani pendidikan ulang.

Deng Xiaoping membuka Tiongkok untuk dunia luar  

Pada tahun 1973, Perdana Menteri China Zhou Enlai, merasa bahwa Tiongkok membutuhkan keterampilan organisasi Deng untuk meningkatkan ekonomi. Deng diangkat kembali dan melakukan reorganisasi besar-besaran dalam pemerintahan. Dia segera diangkat ke Politbiro. Deng secara luas dianggap sebagai penerus Zhou. Namun, setelah kematian Zhou, Gang of Four berhasil menyingkirkan Deng dari kepemimpinan.

Setelah kematian Mao pada tahun 1977, Gang of Four itu sendiri dibubarkan dan Deng kembali ke ranah politik. Dia merendahkan warisan pemerintahan Mao, menghancurkan lawan-lawannya, dan melarang organisasi "tidak resmi". Ketika kekuatannya menguat, Deng dengan cepat melembagakan kebijakan ekonomi baru yang membuka Tiongkok untuk perdagangan dan investasi internasional. Hal ini menmbuat Tiongkok mengadakan perjanjian damai dengan Jepang, meningkatkan hubungan dengan Uni Soviet, mendapat pengakuan resmi oleh Amerika Serikat, dan kembalinya kontrol atas Koloni Inggris di Hong Kong.

Reformasi ekonomi dan pembantaian di lapangan Tiannanmen 

Pada pertengahan 1980-an, Deng telah memperkenalkan reformasi ekonomi di bidang pertanian dan industry serta menyediakan lebih banyak tenaga kerja lokal, dan menerapkan kebijakan radikal “one child policy” untuk mengendalikan populasi Tiongkok yang terus meningkat. Dalam semua reformasi ini, Deng bersikeras bahwa Tiongkok tetap menjadi negara sosialis dengan kontrol terpusat. Reformasi meningkatkan kualitas hidup, namun juga menciptakan ketimpangan yang besar antar kelas.

Pada pertengahan 1980-an, gerakan demokrasi meluas di Tiongkok. Puncaknya terjadi pada tahun 1989 dimana kepemimpinan otoriter Deng Xiaoping dalam menghadapi para oposisi. Serangkaian demonstrasi yang meluas di Lapangan Tiananmen membubarkan pemerintah selama kunjungan Perdana Menteri Soviet Mikhail Gorbachev.

Pada tanggal 3-4 Juni 1989, terjadi kerusuhan di kalangan pengunjuk rasa. Pemerintah menerjunkan pihak militer bersenjata lengkap untuk membubarkan massa. Ribuan korban berjatuhan dikalangan demonstran. Peristiwa ini dikenal dengan Tiananmen Square Massacre.

Kematian Deng Xiaoping 

Meskipun Deng menghadapi kritik besar di seluruh dunia atas pembantaian Lapangan Tiananmen, ia tetap terus berkuasa. Dengan perubahan berbagai sektor yang terus dilakukannya, ekonomi Tiongkok tumbuh dan standar hidup meningkat di bawah pemerintahan otoriter yang tunduk pada pemerintahan satu partai. 

Di tahun-tahun terakhirnya berkuasa, Deng dengan hati-hati memilih orang yang akan menggantikannya kelak. Pada 19 Februari 1997, Deng meninggal di Beijing pada usia 92 tahun. Setelah kematiannya, Tiongkok dipimpin oleh Jiang Zemin yang dipilih secara langsung oleh Deng para pemimpin senior lainnya pada Juni 1989.

Itulah beberapa fakta terkait dengan Deng Xiaoping. Perannya dalam pemerintahan Tiongkok sangat berdampak hingga kini dimana ekonomi Tiongkok mampu menyaingi negara-negara barat. Jadi, bagaimana menurutmu?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak