Ulasan

Misteri Penemuan Candi: Apa yang Tersimpan dalam Manjali dan Cakrabirawa?

Misteri Penemuan Candi: Apa yang Tersimpan dalam Manjali dan Cakrabirawa?
Manjali dan Cakrabirawa Karya Ayu Utami (Gramedia)

Manjali dan Cakrabirawa (2010) adalah kelanjutan dari novel populer Bilangan Fu karya Ayu Utami. Kalau di buku pertama kita sudah dikenalkan dengan dunia mistis, sejarah, dan hubungan antar manusia yang rumit, buku ini makin memperdalam semuanya.

Kisah ini membawa kita mengikuti perjalanan tiga tokoh utama Marja, Parang Jati, dan Yuda, ditambah sosok arkeolog asal Prancis bernama Jacques. Cerita ini tidak cuma soal petualangan menemukan candi tua, tapi juga menyentuh sisi hati, sejarah kelam bangsa, dan pertanyaan besar soal kebenaran, kepercayaan, dan hubungan antar manusia.

Isi Buku

Cerita dimulai saat Yuda harus pergi ke Bandung dengan alasan sedang mengurus kuliah. Padahal, sebenarnya dia ikut latihan panjat tebing bersama militer, sesuatu yang harus dia rahasiakan dari Parang Jati karena pandangan keduanya soal militer sangat berbeda. Selama ditinggal Yuda, Marja dan Parang Jati bersama-sama menemani Jacques yang ingin meneliti sebuah candi baru yang ditemukan di dekat Gunung Lawu.

Di sanalah keajaiban dan pertanyaan bermunculan. Nama Marja ternyata sama dengan Ratna Manjali, putri tokoh legendaris Calwanarang, seorang ratu sakti yang hidup di masa kerajaan Kahuripan. Mereka juga menemukan arca Syiwa Bhairawa dan lempengan emas berisi mantra bernama Bhairawa Cakra. Nama ini mengingatkan pada pasukan pengawal presiden bernama Cakrabirawa yang terlibat dalam peristiwa kelam tahun 1965.

Di sisi lain, kita juga mengikuti kisah Yuda. Dia bertemu dengan seorang perwira bernama Musa Wanara yang punya minat besar pada ilmu gaib. Dari Musa, Yuda justru menemukan benda yang berhubungan dengan Cakrabirawa. Lambat laun, terlihat benang merah antara kisah masa lalu, kepercayaan rakyat, dan sejarah nyata yang pernah dialami Indonesia.

Selain petualangan dan sejarah, buku ini juga membahas perasaan Marja yang mulai bimbang. Dia masih mencintai Yuda, tapi juga makin tertarik pada Parang Jati. Ada juga pertanyaan besar mana yang lebih benar penjelasan logis atau penjelajahan gaib? Apakah kebetulan itu cuma kebetulan atau ada rencana dibaliknya?

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Ayu Utami pandai mengkaitkan cerita lama dengan masa kini. Cerita tentang Calwanarang dan putrinya Ratna Manjali dari masa Kerajaan Raja Airlangga menjadi jembatan yang berbicara soal politik kekuasaan, kesetiaan, dan pandangan baik buruk. Ayu juga menyelipkan pembahasan soal tingkatan makhluk halus mulai dari luhur (leluhur atau dewa penjaga), madya (jin atau roh yang belum pulang), asor (demit, banaspati, genderuwo, leyak), juga kepercayaan soal titik hu, jalan gaib, dan sopan santun ke alam tak kasat mata.

Bagi saya, keberadaan mitos soal Dewa Syiwa dalam wujud Bhairawa (pemusnah kejahatan), lingga-yoni, dan kekuatan mantra Cakra yang diyakini punya daya luar biasa mampu menyentuh sisi mistis yang melekat pada peninggalan candi. Hal ini membuat penemuan arkeolog terasa hidup, bukan cuma tumpukan batu. Ayu merangkai nilai rohani dan sejarah yang menyatu.

Di samping kelebihan, saya merasa ada kekurangan buku ini di beberapa bagian cerita. Penjelasan soal sejarah, arkeologi, atau mitos cukup panjang, sehingga kadang membuat alur terasa lambat. Oleh karena itu dengan banyaknya unsur sekaligus pembaca harus benar-benar fokus agar tidak kehilangan jejak hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. 

Melanjutkan pendapat saya, buku ini mencampuri banyak unsur akibatnya ada bagian yang terasa terlalu banyak dan ada yang kurang. Misalnya, masalah sejarah tahun 1965 dan pasukan Cakrabirawa hanya disinggung sekilas, tidak dibuat berlapis. Padahal, namanya ada dalam judul yang memang menjadi daya tarik utama pembaca.

Pesan Moral

Buku ini mengajarkan ada kebenaran yang bisa dijelaskan dengan logika, ilmu pengetahuan, dan akal sehat seperti cara Jacques melihat peninggalan candi sebagai benda sejarah yang bisa diteliti. Namun di sisi lain, ada juga makna dan kebenaran yang bisa dirasakan lewat keyakinan, perasaan batin, dan tradisi yang turun temurun seperti cara orang desa dan Parang Jati memandang keberadaan roh leluhur serta aturan menghormati alam. Keduanya tidak harus bertentangan melainkan bisa berdampingan untuk membentuk pemahaman yang lengkap.

Identitas Buku

  • Gambar Sampul dan Isi: Ayu Utami
  • Tataletak Sampul: Wendie Artswenda
  • Tataletak Isi: Bernadetta Esti W.U., dkk.
  • ISBN: 9789799102607
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
  • Tebal: 252 Halaman

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda