Ulasan

Post Kantoor Cikini, Restoran Vintage di Bekas Kantor Pos Zaman Belanda

Post Kantoor Cikini, Restoran Vintage di Bekas Kantor Pos Zaman Belanda
Post Kantoor – Koffie . Art . Kultur. (Dok Pribadi/Tarassa Q)

Jakarta selalu punya cara untuk menyimpan sejarahnya, salah satunya melalui bangunan-bangunan tua yang diberi kehidupan baru. Di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, berdiri Post Kantoor – Koffie. Art. Kultur, sebuah restoran yang menempati bangunan bekas kantor pos peninggalan zaman Belanda. Alih-alih mengubahnya menjadi bangunan modern, proses restorasi justru mempertahankan karakter klasiknya sehingga pengunjung masih bisa merasakan nuansa kolonial yang begitu kuat sejak pertama kali melihatnya.

Dari luar, fasad bangunan masih mempertahankan arsitektur khas era kolonial dengan dinding kokoh, jendela-jendela besar, serta detail yang membuatnya tampak elegan sekaligus bersejarah. Memasuki bagian dalam, suasana berubah menjadi perpaduan antara museum kecil dan kafe bergaya vintage. Berbagai barang antik menghiasi hampir setiap sudut ruangan, mulai dari perabot lawas, mesin tik, dekorasi klasik, hingga ornamen yang seolah membawa pengunjung kembali ke masa puluhan tahun silam. Hampir setiap sudutnya juga sangat fotogenik sehingga tak heran banyak pengunjung yang menghabiskan waktu untuk berfoto.

Perjalanan saya menuju tempat ini juga cukup menyenangkan. Saya memilih menggunakan KRL dan turun di Stasiun Cikini. Dari stasiun, saya berjalan kaki sekitar 1,7 kilometer menuju lokasi. Meski cukup jauh untuk ukuran berjalan kaki di Jakarta, rutenya relatif mudah diikuti dan menjadi kesempatan menikmati suasana kawasan Cikini yang dipenuhi bangunan bersejarah.

Saya tiba sekitar pukul 08.30 WIB pada hari kerja. Suasananya masih sangat tenang dan sepi karena belum banyak pengunjung yang datang. Kondisi ini justru membuat pengalaman terasa lebih nyaman. Saya bisa leluasa mengamati interior restoran, mengambil beberapa foto tanpa harus menunggu antrean, dan menikmati atmosfer vintage yang menjadi daya tarik utama tempat ini.

Ragam Menu Bernuansa Nusantara dengan Sentuhan Belanda

Makanan yang dipesan di Post Kantoor - Koffie. Art. Kultur. (Dok Pribadi/Tarassa Q)
Makanan yang dipesan di Post Kantoor - Koffie. Art. Kultur. (Dok Pribadi/Tarassa Q)

Salah satu hal yang menarik dari Post Kantoor adalah pilihan menunya. Mayoritas makanan yang disajikan merupakan hidangan khas Nusantara, seperti sate ayam, soto Betawi, dan rawon. Selain itu tersedia pula berbagai camilan, mulai dari lumpia goreng, tempe mendoan, hingga truffle fries.

Meski mengusung konsep bangunan peninggalan Belanda, restoran ini juga menghadirkan beberapa menu yang terinspirasi dari kuliner Belanda, seperti bitterballen, klappertaart, dan bistik Belanda. Perpaduan tersebut terasa selaras dengan konsep tempat yang menggabungkan sejarah, budaya, dan pengalaman bersantap.

Karena saya sudah sarapan sebelum datang, saya memutuskan hanya memesan roti bakar keju seharga Rp50.000 dan segelas ice green tea latte seharga Rp65.000. Teman saya memilih ice chocolate dengan harga yang sama. Penyajiannya cukup menarik dan rasanya juga enak, terutama minumannya yang terasa menyegarkan untuk menemani pagi itu.

Namun, jika berbicara soal harga, saya harus jujur mengatakan bahwa makanan di sini tergolong mahal. Menu termurah adalah tempe mendoan seharga Rp50.000, sementara yang paling mahal adalah brenebon soup dengan harga Rp170.000. Saya dan teman saya sama-sama merasa harga tersebut cukup tinggi, apalagi melihat ukuran porsinya yang menurut kami relatif sedikit.

Meski demikian, saya tidak sampai menyesal mengeluarkan biaya tersebut. Bagi saya, yang dibayar bukan hanya makanannya, melainkan juga pengalaman menikmati hidangan di sebuah bangunan bekas kantor pos zaman Belanda yang berhasil dipertahankan keasliannya. Nilai sejarah, suasana, dan konsep tempat menjadi daya tarik yang sulit ditemukan di restoran biasa.

Pengalaman Menulis Kartu Pos Seperti Kembali ke Masa Lalu

Kartu pos dan stempel di Post Kantoor – Koffie. Art. Kultur. (Dok Pribadi/Tarassa Q)
Kartu pos dan stempel di Post Kantoor – Koffie. Art. Kultur. (Dok Pribadi/Tarassa Q)

Salah satu aktivitas yang paling saya sukai justru bukan saat makan, melainkan ketika menemukan bahwa Post Kantoor – Koffie. Art. Kultur masih mempertahankan tradisi berkirim kartu pos. Pengunjung dapat membeli kartu pos dengan berbagai desain menarik, lengkap dengan perangko yang juga dijual di lokasi.

Harga kartu posnya Rp20.000 per lembar, sedangkan perangko dijual Rp5.000 per buah atau Rp40.000 jika membeli satu set. Saya memutuskan membeli dua kartu pos karena desainnya cukup beragam dan menarik untuk dijadikan kenang-kenangan.

Yang membuat pengalaman ini semakin menyenangkan adalah setiap pembelian kartu pos memberikan kesempatan menggunakan stampel yang telah disediakan. Pilihan stampelnya ternyata cukup banyak, mulai dari desain klasik hingga tema-tema yang lebih modern.

Sayangnya, setiap pembelian hanya diperbolehkan menggunakan maksimal empat stampel. Saya sendiri tidak mengetahui alasan di balik pembatasan tersebut, padahal rasanya ingin mencoba lebih banyak desain. Akhirnya saya memilih beberapa stampel bertema Ghibli, lalu bergantian dengan teman saya yang memilih desain berbeda agar hasil kartu pos kami menjadi lebih bervariasi.

Menariknya lagi, mereka juga menyediakan sekitar tiga set stampel bertema Ghibli yang dapat digunakan secara gratis. Bagi penggemar Studio Ghibli, fasilitas kecil ini tentu menjadi kejutan yang menyenangkan dan membuat aktivitas menghias kartu pos terasa semakin personal.

Setelah selesai menghias kartu pos, saya dan teman saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk berkeliling dan berfoto di berbagai sudut restoran. Hampir setiap ruangan memiliki dekorasi yang berbeda sehingga tidak terasa membosankan. Mulai dari rak-rak berisi koleksi barang antik, meja-meja kayu bergaya klasik, hingga dekorasi bernuansa kantor pos tempo dulu semuanya berhasil menciptakan latar foto yang unik.

Menariknya, pengunjung sebenarnya tidak diwajibkan memesan makanan jika hanya ingin membeli kartu pos. Jadi, bagi kolektor kartu pos atau mereka yang sekadar ingin mencoba pengalaman menggunakan stampel khas Post Kantoor, tempat ini tetap bisa dikunjungi tanpa harus makan.

Secara keseluruhan, Post Kantoor – Koffie. Art. Kultur menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar restoran. Tempat ini memadukan sejarah, arsitektur, seni, budaya, dan kuliner dalam satu ruang yang terasa hidup. Memang, harga makanannya menurut saya cukup tinggi jika dibandingkan dengan porsi yang diberikan. Namun, kekurangan tersebut berhasil ditutupi oleh pengalaman unik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Bagi pencinta bangunan bersejarah, fotografi, atau sekadar ingin menikmati suasana vintage di tengah hiruk-pikuk Jakarta, tempat ini layak masuk dalam daftar kunjungan. Saya pulang dengan membawa dua kartu pos, banyak foto, dan pengalaman yang berkesan. Jika harus memberi penilaian, saya memberikan rating 8,5/10 untuk Post Kantoor – Koffie. Art. Kultur.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda