Dongeng masa kecil sering kali identik dengan pesan moral, keajaiban, dan akhir bahagia. Namun, film Pinocchio: Unstrung justru memilih jalan sebaliknya dengan menyuguhkan hal-hal gelap yang bikin mimpi buruk.
Film ini merobek lapisan manis cerita klasik The Adventures of Pinocchio karya Carlo Collodi, lalu mengubahnya menjadi kisah horor slasher yang gelap, brutal, dan mengganggu.
Dijadwalkan tayang di Indonesia pada 2026, film ini menjadi bagian kelima dari Twisted Childhood Universe, sebuah semesta film independen yang terkenal dengan reinterpretasi kelam cerita anak-anak.
Disutradarai sekaligus ditulis oleh Rhys Frake-Waterfield dan Scott Chambers, serta diproduksi oleh Jagged Edge Productions bersama ITN Studios, film Pinocchio: Unstrung menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar mengandalkan nostalgia, melainkan mengubahnya menjadi sumber ketakutan baru.
Alih-alih boneka kayu yang ingin menjadi anak sungguhan, film ini menghadirkan sosok Pinocchio sebagai makhluk polos yang memiliki pemahaman moral berbahaya dan mematikan.
Sinopsis Lengkap Film Pinocchio: Unstrung
Cerita Pinocchio: Unstrung berpusat pada seorang anak laki-laki bernama James yang mengunjungi kakeknya, Geppetto, seorang pria tua penyendiri dengan masa lalu yang samar.
Dalam kunjungan itu, Geppetto memperkenalkan James pada sebuah boneka kayu bernama Pinocchio, yang ia klaim memiliki keajaiban tersendiri. Boneka tersebut tampak hidup, mampu bergerak dan berpikir, meski dengan pemahaman dunia yang masih sangat terbatas.
Awalnya, Pinocchio terlihat seperti teman yang sempurna bagi James: setia, penasaran, dan selalu ingin belajar. Namun masalah muncul ketika James mulai memperkenalkan Pinocchio pada dunia nyata lingkungan sosial, konflik manusia, dan konsep baik serta buruk. Tanpa disadari, Pinocchio menyerap semua informasi itu secara harfiah, tanpa filter emosi atau empati.
Dalam pikirannya yang polos, dunia terbagi secara ekstrem di mana yang baik harus dilindungi, yang buruk harus dihilangkan.
Kesalahpahaman moral itulah yang menjadi awal tragedi. Pinocchio mulai melakukan tindakan-tindakan korektif terhadap hal-hal yang ia anggap salah, seperti orang-orang yang berbohong, menyakiti, atau dianggap tidak bermoral. Namun, tindakan itu segera berubah menjadi pembantaian berdarah. Apa yang ia sebut sebagai pembersihan, bagi manusia adalah teror yang tak terbayangkan.
James perlahan menyadari bahwa ia telah membuka pintu bagi sesuatu yang tidak bisa dihentikan. Sementara Geppetto sendiri menyimpan rahasia besar tentang penciptaan Pinocchio rahasia yang membuat batas antara kesalahan, penyesalan, dan kegilaan menjadi kabur.
Film ini kemudian berkembang menjadi perjuangan untuk bertahan hidup, di mana kepolosan Pinocchio justru menjadi senjata paling mematikan.
Horor Slasher dengan Pesan Moral yang Menyimpang
Sebagai bagian dari Twisted Childhood Universe, Pinocchio: Unstrung mempertahankan ciri khas semestanya mengubah karakter ikonik masa kecil menjadi simbol ketakutan modern. Namun, film ini memiliki pendekatan yang sedikit berbeda.
Terornya tidak hanya datang dari kekerasan fisik, tetapi juga dari ide yang mendasarinya bagaimana moralitas yang disederhanakan secara ekstrem dapat melahirkan kekejaman.
Secara atmosfer, film ini cenderung gelap dan muram. Visual boneka kayu yang kaku, tatapan kosong Pinocchio, serta ekspresi wajahnya yang nyaris tidak berubah menciptakan ketegangan yang konstan. Setiap gerakannya terasa salah, setiap keputusannya memicu kecemasan, karena penonton tahu bahwa Pinocchio tidak memahami batasan manusia.
Dari sisi narasi, film ini bermain dengan ironi. Pinocchio tidak membunuh karena dendam atau keserakahan, melainkan karena ia percaya sedang melakukan hal yang benar. Inilah yang membuat horornya terasa lebih tidak nyaman. Kekerasan yang dilakukan tanpa kebencian justru terasa lebih dingin dan kejam.
Karakter James berfungsi sebagai jangkar emosional cerita. Lewat sudut pandangnya, penonton diajak menyaksikan bagaimana rasa ingin tahu anak-anak dapat berubah menjadi malapetaka. Sementara Geppetto tampil sebagai figur tragis bukan sekadar pencipta, melainkan seseorang yang mungkin telah lama menyadari konsekuensi dari keajaiban yang ia ciptakan.
Sebagai film slasher independen, Pinocchio: Unstrung kemungkinan tidak ditujukan untuk semua penonton. Pendekatannya yang kasar, interpretasi ekstrem terhadap cerita klasik, serta nuansa nihilistiknya bisa terasa mengganggu bagi sebagian orang.
Namun bagi penggemar horor gelap, film ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar darah sebuah refleksi menyeramkan tentang moral, tanggung jawab, dan bahaya mengajarkan dunia pada makhluk yang belum siap memahaminya.
Pinocchio: Unstrung adalah bukti bahwa dongeng anak-anak dapat menjadi medium horor yang efektif ketika dibedah dengan sudut pandang gelap. Dengan konsep slasher, karakter ikonik, dan pesan moral yang terdistorsi, film ini berpotensi menjadi salah satu rilisan horor independen paling kontroversial di 2026.
Jika kamu penasaran melihat bagaimana kepolosan bisa berubah menjadi pembunuhan tanpa rasa bersalah, Pinocchio: Unstrung adalah tontonan yang siap membuatmu merinding bukan karena monster, melainkan karena logika yang terlalu polos untuk disebut manusia.
Baca Juga
Artikel Terkait
Entertainment
-
Trailer Minions & Monsters Rilis, Ambisi Kuasai Hollywood Menjadi Kekacauan
-
Mahalini Siap Gelar Konser Tunggal usai Hiatus, Akui Kerap Merasa Tertekan?
-
Kim Sung Cheol dan Jin Ki Joo Berpotensi Bintangi Drama Sleeping Doctor
-
Ong Seong Wu Perpanjang Kontrak Fantagio, Ingin Capai Banyak Hal Bersama
-
Kang Daniel Resmi Jalani Wajib Militer, Unggah Pesan Haru untuk Penggemar
Terkini
-
Eksplorasi Ekologi dan Nasib Hiu di Papua Nugini dalam The Shark Caller
-
Review POCO F8 Ultra: Paket Sultan Harga Masih Masuk Akal
-
The Atala, Novel Perpaduan Time Travel dan Misteri Sejarah Nusantara
-
Warung Mekar Jaya, Menikmati Gurihnya Nasi Genjes Khas Kota Malang
-
Obsesi Kekuasaan dan Keserakahan Manusia atas Alam dalam Novel Aroma Karsa