Sekar Anindyah Lamase | Anggia Khofifah P
SUGA BTS (koreabiomed.com)
Anggia Khofifah P

Min Yoongi, yang dikenal sebagai SUGA dari BTS, resmi menjadi salah satu penulis buku terapi berbasis musik bertajuk MIND Program. Proyek ini tidak hanya menunjukkan sisi kreatifnya sebagai musisi, tetapi juga kepeduliannya terhadap isu kesehatan mental, khususnya pada anak dan remaja dengan autisme.

Buku ini merupakan panduan klinis yang dirancang untuk membantu pengembangan keterampilan sosial melalui pendekatan musik. Program ini dikembangkan bersama ahli psikiatri anak terkemuka, Cheon Geun Ah, yang juga menjabat sebagai direktur pusat terapi yang didanai oleh SUGA.

Kolaborasi Musik dan Terapi Sosial

Program MIND (Music, Interaction, Network, Diversity) dirancang sebagai metode terapi kelompok yang memanfaatkan musik untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang biasanya bergantung pada kemampuan verbal dan kognitif, program ini menekankan pengalaman langsung melalui aktivitas musik.

Peserta program diajak untuk berinteraksi melalui kegiatan seperti memilih alat musik, bermain bersama dalam kelompok, hingga tampil dalam sesi kolaboratif. Melalui proses ini, mereka belajar mendengarkan, menunggu giliran, serta memahami ekspresi nonverbal dari orang lain.

Program ini disusun dalam 12 sesi bertahap, dimulai dari interaksi dasar hingga pengembangan kemampuan yang lebih kompleks seperti komunikasi emosional dan kerja sama. Pendekatan ini dinilai lebih inklusif, terutama bagi anak-anak dengan kemampuan komunikasi verbal yang terbatas.

Dalam kata pengantar buku, Profesor Cheon menyebut bahwa keterlibatan SUGA sangat penting dalam mewujudkan program ini. Ia menilai SUGA memiliki pemahaman mendalam tentang kekuatan musik sebagai media penyembuhan, sekaligus komitmen tulus terhadap kelompok rentan.

Peran Aktif SUGA di Balik Program

Keterlibatan SUGA dalam proyek ini tidak hanya sebatas nama. Ia diketahui berpartisipasi langsung sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan awal program.

Kolaborasi antara SUGA dan Profesor Cheon dimulai pada tahun 2024, ketika keduanya memiliki visi yang sama mengenai pentingnya terapi jangka panjang bagi anak dengan autism spectrum disorder (ASD). Dari diskusi tersebut, lahirlah ide untuk menciptakan program terapi berbasis musik yang lebih aplikatif.

Selama pengembangan program, SUGA juga terlibat sebagai relawan. Ia turut mengajar sesi musik, termasuk bermain gitar bersama anak-anak peserta program. Pengalaman langsung ini menjadi dasar penting dalam penyusunan metode terapi yang lebih relevan dan efektif.

Profesor Cheon menyatakan bahwa kontribusi SUGA sangat krusial, tidak hanya dari sisi ide, tetapi juga dalam implementasi nyata di lapangan. Ia bahkan menegaskan bahwa program ini tidak bisa dilepaskan dari peran SUGA dalam proses pembuatannya.

Donasi dan Pusat Terapi Min Yoongi

Selain kontribusi intelektual dan waktu, SUGA juga memberikan dukungan finansial yang besar untuk proyek ini. Pada Juni 2025, ia menyumbangkan sekitar 5 miliar won Korea untuk mendirikan pusat terapi khusus di Severance Children's Hospital.

Pusat tersebut, yang dikenal sebagai Min Yoongi Treatment Center, resmi dibuka pada September tahun yang sama. Fasilitas ini menjadi tempat utama pelaksanaan program MIND sekaligus pusat penelitian terapi berbasis seni di lingkungan rumah sakit universitas.

Program ini bahkan disebut sebagai salah satu model terapi pertama di dunia yang mengintegrasikan seni, khususnya musik, ke dalam sistem klinis formal untuk mendukung kemandirian pasien.

Dampak dan Harapan ke Depan

Hasil awal dari uji coba program menunjukkan dampak yang positif. Dalam evaluasi terhadap peserta, ditemukan adanya peningkatan kemampuan adaptasi sosial, pemahaman isyarat nonverbal, serta motivasi untuk berinteraksi dengan orang lain.

Beberapa peserta yang sebelumnya kesulitan mengekspresikan emosi secara verbal juga menunjukkan perkembangan melalui interaksi berbasis musik.

Profesor Cheon berharap buku panduan ini dapat digunakan oleh tenaga medis dan profesional di berbagai negara. Meski saat ini belum ada rencana untuk versi bahasa Inggris, ia optimistis program ini akan mendapat perhatian global.

Dengan hadirnya MIND Program, SUGA menunjukkan bahwa musik bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga alat yang kuat untuk membantu proses penyembuhan dan membangun koneksi antarmanusia.