Lee Soo Man, sosok yang dikenal sebagai salah satu pelopor sistem produksi K-Pop modern, resmi kembali meramaikan industri musik Korea Selatan dengan memperkenalkan dua grup idol sekaligus. Melalui agensi A2O Entertainment, ia meluncurkan boy group beranggotakan 15 orang bernama A2O SOUL dan girl group beranggotakan sembilan orang, A2O LITE. Keduanya diperkenalkan dalam showcase bersama bertajuk WELCOME TO SOULITE From A2O SOUL A2O LITE di KINTEX, Goyang, pada 12 Oktober 2026.
Peluncuran ini menandai proyek musik domestik pertama Lee sejak masa larangan berkompetisi atau non-compete agreement selama tiga tahun berakhir pada Februari 2026. Sebelumnya, pada 2023, Lee menjual sahamnya di SM Entertainment kepada HYBE setelah perselisihan dengan manajemen perusahaan yang ia dirikan. Kesepakatan tersebut membatasi aktivitasnya dalam produksi musik dan bisnis hiburan di Korea Selatan selama tiga tahun.
Setelah meninggalkan SM Entertainment, Lee mendirikan A2O Entertainment yang berkantor pusat di Singapura. Agensi ini lebih dahulu memperkenalkan grup A2O MAY di China pada 2024 sebelum akhirnya memperluas aktivitasnya ke pasar Korea Selatan melalui A2O SOUL dan A2O LITE.
Kedua grup tersebut memiliki total 24 anggota yang seluruhnya masih berusia remaja. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk Korea Selatan, China, Jepang, Thailand, dan Amerika Serikat. A2O juga merancang kedua grup dalam satu semesta fiksi bersama bernama SOULITE, yang memungkinkan para anggotanya mengembangkan karier melalui unit berbeda, aktivitas solo, maupun proyek lainnya.
A2O SOUL dan A2O LITE menjalani debut resmi pada 13 Oktober dengan merilis single digital masing-masing. A2O SOUL memperkenalkan lagu SUPERSTAR, sedangkan A2O LITE merilis NEON.
Dalam showcase tersebut, Lee menjelaskan bahwa ia ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda melalui musik, koreografi, video musik, pertunjukan panggung, hingga konser. Namun, menurutnya, perbedaan saja tidak cukup karena tujuan akhirnya tetap membuat karya yang dapat dicintai oleh pendengar.
Arah musik kedua grup diperkenalkan melalui istilah Zalpha Pop, perpaduan konsep generasi Z dan generasi Alpha. Untuk mengembangkan musik serta penampilan mereka, Lee kembali bekerja sama dengan produser Yoo Young-jin, yang sebelumnya terlibat dalam berbagai lagu populer artis SM Entertainment, termasuk aespa dan NCT.
Mantan anggota Girls' Generation, Sunny, juga memberikan dukungan dengan membantu melatih para trainee dan memperkenalkan mereka kepada publik melalui proyek A2O Rookies.
Selain musik dan konsep grup, Lee turut menyoroti penggunaan teknologi dalam proyek terbarunya. Ia memperkenalkan 4D Gaussian Splatting (4DGS), teknologi yang merekam penampilan artis menggunakan banyak kamera dari berbagai sudut, kemudian menggabungkan data tersebut menjadi representasi tiga dimensi. Dengan begitu, pergerakan kamera baru dapat dibuat setelah proses pengambilan gambar selesai.
Lee menyebut teknologi tersebut sebagai pergeseran dari kamera yang sekadar merekam menjadi kamera yang mampu menciptakan perspektif baru. Ia mengungkapkan bahwa pengembangan pendekatan ini telah menjadi perhatiannya selama sekitar 16 tahun, termasuk sejak masa kerjanya di SM Entertainment.
Menurut Lee, pendekatan tersebut merupakan bagian dari konsep Culture Technology (CT), gagasan yang ia kembangkan ketika masih memimpin SM. Baginya, teknologi tidak sekadar menjadi pelengkap budaya. Jika sebuah karya membutuhkan teknologi yang belum tersedia, ia ingin mencari cara untuk mengembangkannya.
A2O juga memperkenalkan BloomingTalk, platform komunikasi penggemar yang direncanakan menghadirkan fitur interaksi langsung. Agensi tersebut turut merencanakan fitur interaktif berbasis teknologi AI agar penggemar dapat berkomunikasi dengan representasi digital artis.
Selama memimpin SM Entertainment, Lee berperan dalam perkembangan sejumlah nama besar K-Pop, mulai dari H.O.T., S.E.S., BoA, TVXQ, Girls' Generation, SHINee, EXO, Red Velvet, hingga NCT dan aespa. Kini, melalui A2O SOUL dan A2O LITE, ia kembali mencoba memadukan sistem grup berskala besar, konsep lintas negara, dan teknologi hiburan.
Baca Juga
-
Fantasi Banget! Narnia: The Magician's Nephew Rilis Trailer, Tayang 2027
-
Manga Horor Junji Ito The Hanging Balloons Diadaptasi Jadi Film Thailand
-
Raih Rating Tinggi, Doctor X: Mafia in White Dikritik soal Akurasi Medis
-
Audisi Global Live Action Naruto Dibuka, Sutradara Ungkap Alasan Adaptasi
-
Sekuel Dr. STONE TERRAFORMING Resmi Diproduksi, Petualangan Senku Berlanjut
Artikel Terkait
-
Review Film Back to the 90s: Sensasi Nostalgia Era Boyband yang Penuh Warna
-
TREASURE Resmi Jadi Brand Ambassador Chitato, Siapkan Beragam Aktivitas Seru untuk Fans
-
Arashi Resmi Bubar Setelah 26 Tahun Berkarier, Konser We Are Arashi Jadi Salam Perpisahan Buat Fans
-
Siap Nonton MONSTA X di Jakarta? Ini Jadwal Penukaran Tiket dan Rundown Konsernya
-
NCT Wish Tampil All Out di Konser Jakarta, Panggung Megah dan Aksi Penuh Energi Bikin Fans Histeris
Entertainment
-
4 Episode Pertama Between Steps: Dinamika Hubungan di Tengah Lab Robotika
-
Fantasi Banget! Narnia: The Magician's Nephew Rilis Trailer, Tayang 2027
-
Sinopsis Narnia: The Magicians Nephew, Ungkap Awal Mula Dunia Narnia
-
5 Pesan Moral Four Hands Two Sonatas: Sisipkan tentang Trauma dan Ambisi
-
Manga Horor Junji Ito The Hanging Balloons Diadaptasi Jadi Film Thailand
Terkini
-
Tak Perlu Server Cloud, Mini PC Asus Ini Bisa Jalankan AI Lokal!
-
4 Ide OOTD Casual Chic ala Kim Young Kwang, Cocok buat Cowok Anti-Ribet
-
Batas Tipis Jaga Mental Health dan Hilang Empati, Kapan Self-Care Berubah Jadi Masalah?
-
Bukan Wajib Militer, Negara Justru Lebih Butuh Hacker dan Praktisi IT Buat Jadi 'Komcad'
-
Bukan Hanya Salah El Nino: Mengurai Akar Krisis Karhutla Kalimantan