M. Reza Sulaiman
ilustrasi biaya tersembunyi di sekolah. (Gemini AI/Nano Banana)

Semalam saat scrolling media sosial sebelum tidur, sebuah postingan di X menarik perhatian saya. Cuitannya sederhana, menanyakan cerita masa SMA yang paling diingat, lengkap dengan tempelan gambar meme seorang pria mengenakan seragam putih abu-abu yang tersenyum santai di hadapan puluhan pedang.

Membaca cuitan tersebut, ingatan saya mendadak terlempar jauh ke masa lalu. Waktu itu tahun 2005. Masa orientasi siswa tingkat SMA baru saja usai. Di hari pertama masuk sekolah, saya berangkat ke sekolah masih memakai seragam putih biru peninggalan masa SMP, yang warnanya sudah mulai kusam. Alasan saya memakainya sangat sederhana. Saya memang belum sanggup membeli seragam putih abu-abu yang baru pada saat itu. 

Ketiadaan seragam inilah perkenalan pertama saya dengan bentuk nyata dari biaya siluman, sebuah ongkos pendidikan yang harus dibayar jauh sebelum materi pelajaran di kelas dimulai. Malam sebelumnya, saya memberanikan diri meminta uang kepada Ayah untuk membeli seragam sekolah. Ayah menatap saya dan menjawab dengan tenang, walau raut wajah lelahnya sangat nyata terlihat.

"Besok Ayah cari dulu duitnya," katanya singkat.

Keesokan harinya di sekolah, pemandangannya membuat nyali saya ciut. Ternyata ada tidak lebih dari tiga murid yang bernasib serupa dengan saya. Sisanya sudah rapi, bersih, dan wangi dengan seragam putih abu-abu baru kebanggaan anak SMA. Tentu saja, ada ledekan yang mampir ke telinga saya hari itu. 

"Eh, kok ada anak SMP masuk sini, sih?" kata seorang kawan. Saya hanya bisa tersenyum masam. Rasanya saya ingin pulang saja, karena malu sekali.

21 tahun berlalu, kenangan itu menyisakan satu pertanyaan reflektif di kepala saya. Apakah anak-anak kita zaman sekarang masih merasakan kebingungan dan kecemasan yang sama?

Tragedi siswa SD di Ngada, NTT diduga mengakhiri hidup karena tak mampu beli buku dan pena. (Dok. Suara.com)

Generasi Sandwich dan Tagihan yang Tak Pernah Absen

Sebagai bagian dari generasi sandwich, rutinitas awal bulan saya nyaris tidak pernah luput dari agenda mengalokasikan penghasilan secara ketat. Saya harus memastikan kebutuhan harian rumah tangga aman, menyisihkan dana rutin untuk orang tua, dan kini mulai memutar otak menyiapkan tabungan masa depan bagi anak saya yang baru menginjak usia tiga tahun.

Memikirkan masa depan balita usia tiga tahun berarti harus bersiap menghadapi perhitungan rumit bernama inflasi dana pendidikan. Bayangan tentang tingginya ongkos sekolah anak inilah yang sering kali memicu sebuah kontradiksi besar di kepala saya.

Secara makro, pemerintah sebenarnya sudah sangat lantang menggaungkan program sekolah gratis. Biaya SPP bulanan dan uang pangkal di banyak daerah memang telah dihapuskan. Langkah progresif tersebut jelas patut kita apresiasi dengan sangat tinggi.

Kenyataannya, realitas di lapangan kerap memunculkan wajah yang jauh lebih rumit dari sekadar deretan angka subsidi di atas kertas. Ongkos transportasi harian, biaya seragam dari koperasi, buku paket yang rutin berganti, alat tulis, hingga kuota internet nyatanya adalah wujud biaya siluman yang tetap membutuhkan uang segar. Semua daftar pengeluaran tersebut terus membayangi dan membebani dompet keluarga menengah ke bawah.

Nyawa Melayang demi Alat Tulis Sepuluh Ribu Rupiah

Contoh nyata betapa mengerikannya jerat biaya siluman ini terjadi di penghujung Januari 2026. Seorang siswa kelas 4 SD berinisial YBR di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia. Di usianya yang baru menginjak 10 tahun, ia diduga kuat mengakhiri hidupnya lantaran putus asa tidak mampu membeli buku dan pena. Pikiran kecilnya juga mendapat beban dari tekanan biaya operasional sekolah yang terlalu berat untuk dipikul.

Sebelum kejadian malang tersebut, YBR dikabarkan sempat meminta uang yang nominalnya tidak sampai sepuluh ribu rupiah kepada ibunya. Ibu YBR yang berprofesi sebagai buruh tani disebut tak mampu memenuhi permintaan anaknya. Bisa jadi, boro-boro memikirkan urusan pelengkap sekolah, memastikan ada nasi di atas piring untuk esok hari saja sudah membuatnya pusing. 

Berita sedih ini langsung memicu gelombang keprihatinan berskala nasional. Berbagai tokoh penting, mulai dari anggota DPR hingga Menteri Sosial, menyoroti betapa rentannya kondisi mental anak di tengah pusaran kemiskinan. Pihak Kepolisian Daerah NTT pun segera turun tangan. Mereka langsung mengirimkan tenaga psikolog khusus untuk mendampingi masa berkabung keluarga korban. Para sosiolog dari berbagai kampus juga ikut angkat bicara mengenai pentingnya literasi kesehatan mental anak dan betapa urgennya menciptakan ruang aman di dalam ekosistem sekolah. 

Kasus YBR merupakan sebuah panggilan darurat bagi kita semua untuk segera merapatkan kembali sistem jaring pengaman sosial. Pendidikan gratis pada praktiknya selalu menyisakan biaya tersembunyi yang diam-diam menguras dompet masyarakat kecil. 

Banjir Bantuan di Atas Kertas, di Lapangan Bagaimana?

Pemerintah sejatinya sudah memiliki sejumlah program dengan anggaran yang tidak sedikit untuk mengurai masalah pelik ini. Mari kita urai satu per satu peta kebijakan yang sudah tersedia:

1. Program Indonesia Pintar (PIP)

Program ini memberikan suntikan dana tunai langsung bagi peserta didik dari keluarga miskin atau rentan miskin. Niat kebijakannya sangat mulia. Tantangannya sering kali terletak pada eksekusi birokrasi di lapangan. Terkadang muncul masalah pemadanan data yang membuat proses pencairan tersendat, sehingga dana penting itu terlambat sampai ke tangan siswa. Masalah sinkronisasi data ini yang disebut juga terjadi pada kasus YBR.

Program Indonesia Pintar (PIP). [Website PIP Kemendikdasmen]

2. Program Keluarga Harapan (PKH)

Bantuan sosial ini memiliki komponen khusus untuk anak sekolah. Sayangnya, karena dana ini masuk ke kantong kebutuhan rumah tangga secara umum, uangnya sering kali habis terlebih dahulu untuk urusan logistik dapur. Membeli beras dan lauk pauk harian tentu menjadi prioritas kelangsungan hidup yang lebih utama ketimbang membeli buku cetak atau seragam.

3. Sekolah Rakyat

Inisiatif dari Kementerian Sosial ini digenjot untuk menyisir dan menampung anak-anak yang terpaksa putus sekolah. Pendekatannya sangat baik karena berada di bawah payung pemerintah dengan fasilitas negara. Harapannya, program ini bisa menjangkau lebih banyak anak miskin di berbagai pelosok yang telanjur terlempar dari sistem sekolah formal biasa.

Menagih Janji Pendidikan Tanpa Biaya Siluman

Mengingat kembali masa remaja saya yang canggung akibat seragam pudar dan menyandingkannya dengan realitas pahit yang menimpa siswa seperti YBR, rasa sesak itu rasanya enggan pergi. Walaupun begitu, membiarkan diri kita habis ditelan rasa frustrasi jelas tidak akan serta-merta melunasi tunggakan buku pelajaran anak-anak yang sedang kesusahan di luar sana. Kita tetap harus merawat kewarasan dan mengambil sikap yang jelas.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2026 nanti harus menjadi momentum yang lebih bermakna dari sekadar seremoni potong tumpeng atau pembacaan pidato di lapangan sekolah. Mari jadikan hari tersebut sebagai sebuah desakan kolektif.

Para pemangku kebijakan, mulai dari kementerian, pemerintah daerah, hingga komite sekolah, wajib duduk bersama merumuskan ulang definisi kata 'gratis' di dalam tata kelola pendidikan kita. Pihak sekolah dituntut untuk lebih berani memangkas biaya tambahan yang membebani, dan birokrasi pendataan siswa miskin harus segera dibenahi agar hak mereka tidak lagi disandera oleh rumitnya urusan administratif kependudukan.

Rasa optimis untuk wajah pendidikan Indonesia yang lebih baik itu tetap ada di kepala saya. Namun, optimisme tersebut pantang disandarkan lagi pada keikhlasan guru honorer, donasi buku dari para relawan muda, atau keringat orang tua miskin yang terpaksa berutang demi anak.

Harapan terbesar saya amat sederhana. Kelak, ketika anak saya atau jutaan tunas bangsa lainnya tiba di depan gerbang sekolah, mereka bisa melangkah masuk dengan kepala tegak. Tidak boleh ada lagi rasa was-was akibat atribut seragam yang belum terbeli, dan tidak ada lagi kecemasan soal biaya siluman yang diam-diam mencekik leher orang tua mereka di rumah.