Banjir, kebakaran hutan, konflik, gempa bumi, badai, hingga wabah penyakit dapat memicu gangguan bagi kehidupan masyarakat sekaligus mengancam ketahanan pangan.
Bencana bisa dengan mudah menghancurkan tanaman dan ternak, merusak persediaan makanan, mencemari air, hingga memutus akses masyarakat untuk memperoleh bahan baku pangan, seperti pasar.
Fenomena tersebut menjadi kian memprihatinkan ketika perubahan iklim membuat berbagai bencana berpotensi terjadi lebih sering dengan membawa dampak yang lebih besar.
Namun, sebuah studi menguak temuan bahwa bencana tidak harus selalu berakhir menjadi permasalahan krisis pangan.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa negara bisa saja memutus korelasi bencana dengan kerawanan pangan dengan membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan unggul.
Ketahanan Pangan jadi Kunci Hadapi Bencana
Para peneliti mengkaji data dari puluhan negara selama lebih dari satu dekade untuk mencari tahu bagaimana berbagai negara ini mengatasi guncangan dan bencana.
Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi suatu negara tidak hanya ditentukan oleh seberapa intens atau seberapa parah bencana itu terjadi.
Kesiapan serta kapasitas negara dalam membangun ketahanan juga menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat.
Beberapa negara, khususnya di Asia, bahkan memperlihatkan pola ketahanan pangan yang membaik meskipun mengalami bencana dengan tingkat yang lebih parah dibandingkan negara lain.
"Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa krisis pangan bukan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan penderitaan dapat dicegah jika negara, khususnya sistem pangannya, cukup siap," kata peneliti utama, Chris Béné, dikutip dalam laman resmi Phys, Selasa (22/9).
Dengan kata lain, meningkatnya ancaman bencana tidak serta-merta membuat masyarakat akan mengalami kelaparan.
Kemampuan sistem pangan untuk tetap berjalan dan berfungsi sebagaimana mestinya saat terjadi gangguan menjadi bagian terpenting dalam menghadapi situasi tersebut.
Sistem Pangan Perlu Menyiapkan Banyak Opsi
Peneliti menemukan bahwa dengan memiliki lebih dari satu cara guna mendapatkan pangan sangat membantu dalam meminimalisir risiko terjadinya krisis.
Diversifikasi tersebut membuat sistem pangan tidak selalu bergantung pada satu sumber yang bisa saja ikut mengalami gangguan ketika bencana melanda.
Di samping itu, efektivitas pemerintah juga dinilai menjadi faktor penting. Pemerintah dengan layanan publik yang mampu berfungsi dengan baik memiliki kapasitas lebih mumpuni untuk mengantisipasi serta merespons guncangan.
Keterampilan tersebut ternyata juga perlu didukung oleh sarana dan prasarana, akses terhadap teknologi baru hingga akses ke pasar keuangan. Dengan faktor-faktor itulah masyarakat dapat terbantu dalam menghadapi bencana.
Tidak Boleh Hanya dengan Mengejar Efisiensi
Dalam penelitiannya, tim peneliti turut menyoroti pentingnya mengubah cara sistem pangan itu dirancang. Ketahanan ternyata tidak cukup hanya dibanding dengan mengejar efisiensi dan mengandalkan rantai pasok sesaat.
Sistem pangan justru perlu memiliki keberagaman dan cadangan agar tetap mampu beroperasi ketika salah satu bagian itu mengalami gangguan.
"Untuk memperkuat sistem pangan yang tangguh, pemerintah, lembaga pembangunan dan institusi keuangan perlu mendahulukan penguatan kapasitas pemerintah untuk mengantisipasi dan merespons guncangan serta bencana," tutur salah satu penulis dalam penelitian tersebut, Jose-Luis Vivero-Pol.
Ia meyakini penguatan tersebut perlu dilaksanakan dengan mendorong keberagaman dan redundansi dalam sistem pangan, bukan hanya mengejar efisiensi.
Kemampuan masyarakat serta komunitas dalam melindungi nutrisi dan aset rumah tangga juga perlu dipererat.
Semakin rumitnya ancaman yang dapat mengganggu pangan, kesiapan menjadi salah satu kunci penting dalam menekan dampakn tersebut.
Sebab, bencana tidak selalu bisa diprediksi. Namun, dengan adanya sistem pangan yang memiliki kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dapat membantu dalam mencegah gangguan tersebut berubah menjadi krisis pangan.
Baca Juga
-
Jamuan Puan Rimba, Membawa Cerita Perempuan Penjaga Hutan Lewat Pangan Lokal
-
Blusukan Pasar Minggu Bareng TRIPTIS, Melihat Wajah Asli Jakarta yang Sering Terlupakan
-
Curah Hujan Tinggi tapi Kekeringan, Ahli UGM Ungkap Masalah Air Jawa Barat
-
Mengenal TRIPTIS: Ruang 'Haha-Hihi' Buat Dewasa Muda yang Mulai Kehilangan Teman Nongkrong
-
Belajar Menjaga Sungai dari Tradisi Lubuk Larangan Malako Kociak
Artikel Terkait
-
Belanja Negara Tembus Rp 4.000 T di 2027, Pemerintah-DPR Akan Genjot Pajak-PNBP
-
Uang Negara Bukan Cek Kosong: Pelajaran dari Putusan MK soal APBN
-
Bukan Cuma Cuaca Ekstrem, Krisis Iklim Juga Ancam Gizi Anak: Kenapa?
-
Sebulan Lebih Pascagempa, 23.578 Warga NTT Masih Mengungsi
-
Korps Kadet Dinilai Jadi Salin Rupa Menwa Era Orba, Berpotensi Lahirkan Siswa Arogan
Kolom
-
Bukan Cuma Main Game: Mengapa Anak SD Sekarang Lebih Betah di Roblox?
-
Stop Merasa Nggak Enakan! Ini Alasan Perempuan Wajib Berani Nego Gaji Saat 'Interview'
-
Jangan Terus Membuat Aturan Baru Jika Aturan Lama Saja Tak Dijalankan
-
Solo Date: Saat Jalan-Jalan Sendiri Berubah Jadi Bentuk Perawatan Diri
-
Program Pemerintah Harus Punya Umur Panjang, Bukan Sekadar Anggaran Panjang
Terkini
-
Review Serial The Fixers: Sajian Aksi Kriminal Asia Terbaru di Netflix!
-
Manga World Trigger Kembali Hiatus, Cuaca Pengaruhi Kondisi Ashihara
-
Drama Kill It Mengungkap Kisah Tragis Anak-Anak Bernomor di Panti Asuhan
-
Mangkir 102 Hari saat Wamil, Song Min-ho WINNER Divonis Hukuman Percobaan
-
Jamuan Puan Rimba, Membawa Cerita Perempuan Penjaga Hutan Lewat Pangan Lokal