M. Reza Sulaiman | Rahel Ulina Br Sembiring
Ilustrasi Bunga di Sela Jalanan Aspal (Nano Banana/Gemini AI)
Rahel Ulina Br Sembiring

Pernah gak kamu merasa sudah berbuat kebaikan kepada orang lain, tapi turns out yang kamu dapat malah zonk alias orang tersebut gak membalas seperti yang kamu lakukan?

Saya pernah dulu saat zaman kuliah memberikan  kado untuk teman saya yang sempro atau sidang. Tapi begitu saya yang sidang, mereka datang saja tidak. Atau meminta maaf karena tidak bisa datang saja tidak, benar-benar muka tembok. Hal-hal seperti itu saya rasa kerap terjadi dalam kehidupan saya.

Rasa tidak adil karena sepertinya lebih banyak saya yang harus mengerti orang lain, namun orang lain jarang yang mengerti saya. Padahal saya selalu berusaha menghormati orang lain dan menghormati diri saya sendiri, tapi somehow orang-orang tidak begitu ke saya.

Keadaan ini makin terasa menantang ketika saya masuk ke dunia kerja. Waktu awal-awal menjadi guru itu sangat berat rasanya karena saya bukan dari background pendidikan dan tidak ada basic mengajar sama sekali karena saya berasal dari jurusan ilmu murni. Dan hal yang tidak diharapkan terjadi, yaitu ada murid saya yang berkata kotor ke saya. Perasaan saya? Saya sedih selama seminggu.

Di kelas saya bisa saja memakai topeng dengan ketawa-ketawa sama murid, berusaha semuanya biasa saja. Tapi di rumah? Pemikiran kenapa dan selalu kenapa itu terus muncul, dan terkadang saya tidak menemukan jawabannya. Momen-momen seperti ini sering kali bikin kita lelah secara mental, terus-menerus mempertanyakan nilai dari kebaikan yang sudah kita berikan, hingga berujung pada rasa kecewa yang mendalam.

Namun di tengah krisis emosional itu, akhirnya saya sampai kepada suatu kesimpulan bahwa saya harus mengerti tidak semua orang bisa mengerti.

Dan soal kebaikan? Mulai hari ini saya harus belajar mengikhlaskan. Saya harus ikhlas ketika kebaikan yang saya buat nantinya tidak berbalas, atau malah dibalas dengan cara yang menyakitkan. Saya harus paham bahwa tidak semua orang memiliki kedewasaan yang sama.

Mungkin nampaknya seperti harus saya yang terus-menerus mengerti orang lain, namun saya percaya Tuhan tidak tidur. Saya percaya Dia mampu mengubah hati orang tersebut tanpa saya harus mengeluarkan energi besar atau mengotori tangan saya. Kebaikan yang saya buat hari ini, kalaupun tidak berbalas langsung ke saya, mungkin nanti akan berbalas ke keluarga atau keturunan saya kelak.

Mungkin juga balasannya sesimpel saya yang selalu keluar dari urusan rumit dengan cara yang paling simpel, atau uang saya yang selalu ada walaupun secara logika harusnya sudah habis.

Ketika kita bisa melihat dari sudut pandang yang lebih luas seperti ini, beban di dada rasanya jadi jauh lebih ringan. Kita tidak lagi menggantungkan kesehatan mental kita pada respons orang lain.

Seperti yang pernah saya baca di buku Milk and Honey:

"Adalah anugerah untuk tetap berlaku baik di lingkungan yang kejam."

''Menjadi lembut adalah menjadi perkasa.''

Suatu kehormatan jika kamu bisa tumbuh seperti bunga, yang bahkan lingkungannya tidak mendukung untuk tumbuh. Kamu pernah kan melihat bunga cantik yang tumbuhnya di sela jalanan aspal? Bagaimana mungkin bunga secantik itu bisa bertahan di kondisi yang sama sekali tidak mendukung?

Kita pun begitu. Kalau kita bisa tetap tumbuh dan berbuat baik walaupun lingkungan sekitar tidak memungkinkan, itu adalah sebuah blessing. Menjaga kesehatan mental bukan berarti kita harus memaksa orang lain bersikap baik, melainkan tentang memberi jeda pada diri sendiri untuk bernapas, merawat hati, dan tetap memilih menjadi orang baik tanpa kehilangan kedamaian diri.