Nama UIN Sunan Kalijaga akhir-akhir ini sedang jadi buah bibir. Kampus tempat saya dulu menimba ilmu ini mendadak bikin heboh karena nangkring di posisi kedua nasional dalam Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027. Berada di kelompok 801–1000 dunia, posisi UIN sekarang malah satu barisan dengan UGM.
Sebuah pencapaian yang jelas sah-sah saja untuk dirayakan dengan penuh rasa syukur. Meski begitu, deretan angka peringkat ini sebaiknya jangan buru-buru kita telan bulat-bulat sebagai vonis mutlak siapa kampus paling hebat.
Pasalnya, mesin penilaian THE WUR 2027 ini bekerja memakai 17 indikator yang dipecah ke dalam lima pilar besar. Rinciannya adalah teaching diberi bobot 29,5 persen, research environment 29 persen, research quality 30 persen, international outlook 7,5 persen, dan industry 4 persen.
Dari hitungan matematis itu, kelihatan sekali kalau urusan riset dan penelitian memang memborong porsi paling gede. Jadi, wajar saja kalau hasil akhirnya sangat ditentukan oleh seberapa rajin sebuah kampus memutar roda laboratorium dan mesin ketik jurnal ilmiahnya.
Di sinilah letak uniknya cerita UIN Sunan Kalijaga. Merujuk data THE di laman resmi kampus, pilar research quality mereka melesat di angka 82,8, skor tertinggi dibanding pilar lainnya. Sebagai cermin perbandingan, pilar teaching cuma berada di angka 16,7, research environment 16,4, industry 18,3, dan international outlook 45,3.
Tentu saja skor 82,8 itu tidak lahir dari riuhnya tepuk tangan mahasiswa di dalam ruang kelas. THE menghitung kualitas riset lewat rumus rumit: citation impact, research strength, research excellence, dan research influence.
Semua data kutipan ilmiah ini disedot dari Scopus, lalu ditimbang berdasarkan bidang ilmu dan jumlah dosen. Singkatnya, angka mentereng ini murni cerita tentang seberapa rajin jurnal kampus dibaca dan dikutip oleh peneliti lain di luar sana.
Namun, ada kabar menggelitik yang baru saja diumumkan THE pada September 2026. Mereka berencana merombak metodologi untuk edisi 2028 demi mengerem dominasi citation impact dan membatasi hobi mengutip tulisan institusi sendiri (self-citation).
THE bahkan terang-terangan mencium adanya risiko kartel kutipan (citation cartels) dan akrobat manipulasi angka. Walhasil, angka ranking memang keren dan berguna, tapi kita wajib ingat kalau angka itu lahir dari cetakan mesin metodologi yang bisa berubah kapan saja.
Kritik model begini jelas bukan karena kita alergi sama yang namanya ranking. Dalam artikel From Eminent Men to Excellent Universities di jurnal Minerva (2018), Cris Shore dan Susan Wright membeberkan bagaimana peringkat bekerja sebagai mesin hitung yang membentuk pasar dan rezim penilaian kampus.
Bob Jessop lewat jurnal Higher Education (2017) juga sudah mengingatkan bahwa urusan ranking ini punya hubungan erat dengan standardisasi, jualan pasar, hingga apa yang ia sebut sebagai academic capitalism alias kapitalisme akademik.
Efek sampingnya dalam budaya sehari-hari di kampus menunjukkan bahwa kiblat yang melulu tertuju pada peringkat global bisa menyuburkan budaya harga diri dan keberhasilan akademik seorang dosen cuma diukur dari tumpukan jumlah publikasi dan angka sitasi jurnal saja.
Padahal, sejujurnya, kehidupan di dalam universitas itu jauh lebih indah ketimbang sekadar deretan angka di dashboard ranking. Ada mahasiswa yang giat mencari ruang belajar, dosen yang tekun mengajar di kelas, riuhnya organisasi kemahasiswaan, pusat studi, pengabdian masyarakat, urusan fasilitas, sampai nasib para alumni yang harus pontang-panting mencari kerja setelah wisuda.
Bahkan Rektor UIN Sunan Kalijaga sendiri, Prof. Noorhaidi Hasan, dalam orasi Dies Natalis ke-75 pada September 2026 sudah mengingatkan bahwa ranking hanyalah cermin yang memantulkan pengakuan atas kerja akademik, sementara tujuan sejatinya tetaplah membawa ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan masyarakat luas.
Jadi, silakan saja bangga dengan peringkat dua itu. Itu adalah capaian serius yang membuktikan kokohnya tradisi riset di UIN Sunan Kalijaga. Namun, bagi siapa pun yang sedang memilih kampus, jangan menyerahkan seluruh keputusan hidup pada selembar tabel peringkat.
Profil dosen, dinamika mahasiswa, rekam jejak alumni, kenyamanan lingkungan belajar, kurikulum, hingga ekosistem risetnya tetap wajib diintip. Biar bagaimanapun, universitas itu terlalu besar kalau cuma diringkas menjadi perlombaan angka saja.
Baca Juga
-
Ulasan Film Sunshine, Bedah Isu Aborsi dan Kriminalisasi Reproduksi
-
Ilusi Kekayaan Individual: Saatnya Literasi Finansial Jadi Gerakan Warga
-
Seni Perlawanan di JABFest 2026: Lomba Mewarnai Jadi Cara Lawan Impunitas
-
Soroti Pendidikan, Ugoran Sebut Aksi Kamisan Kini Jadi Kampus Rakyat
-
Berhenti Sebut Kampungan: Menyoal Arogansi Kota Lewat Kasus Omakase Tepe
Artikel Terkait
Kolom
-
Fangirling di Usia 20-an: Bolehkah Kita Bahagia Karena Hal Sesederhana Ini?
-
Efisiensi atau Pindah Beban? APBN Hemat di Kertas, Rakyat Mahal di Lapangan
-
Membedah Putusan MK soal Dokumen Pendidikan Wapres: Kepastian Hukum vs Realitas Administrasi
-
Tumbuh Seperti Bunga di Sela Jalanan Aspal
-
Secangkir Kopi Pagi Hari Tanpa Scroll: Jeda Kecil yang Sering Kita Lewatkan
Terkini
-
Anti-Breakout! 4 Acne Setting Spray Bikin Makeup Bebas Kilap pada Kulit Berminyak
-
Review Atonement: Saat Perang Usai, Rasa Bersalah Berubah Jadi Medan Tempur
-
Lagu 'Haters' Kotak Mengajarkan Cara Terbaik Menikmati Hidup Tanpa Beban
-
Kisah Pip, Burung Kecil yang Mengajarkan Arti Kepedulian
-
Tak Hanya Wangi, 5 Body Scrub Mawar Ini Bikin Kulit Auto Glowing dan Halus