Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Sekelompok petani sedang memanen padi di hamparan sawah yang hijau nan subur. (Pexels/hartono subagio)
Fairus Farizki

Waktu sekolah dulu, guru geografi saya pernah menjelaskan bahwa Indonesia hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau, karena letaknya yang berada di garis khatulistiwa. 

Penjelasan itu memang tidak keliru dan tertanam kuat di ingatan saya sampai sekarang. Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam berbagai publikasi resminya tetap menegaskan bahwa Indonesia secara umum memiliki dua musim utama.

Pemahaman kaku saya seketika buyar setelah berkunjung ke Dusun Siyono di Rongkop, Gunungkidul. Lewat sesi Podol-Podol di Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026, kawan-kawan Laboratorium Sedusun memperlihatkan cara warga membaca musim yang jauh lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Bagi warga di sana, musim bukan cuma urusan langit mendung atau matahari terik khas ramalan cuaca. Ada Bediding, masa ketika malam bikin menggigil tapi siangnya bisa-bisa membakar kulit. Ada Ngawu-awu, saat petani mulai sibuk mengolah tanah sambil menerka kapan gerimis pertama jatuh. Ada pula Lemarengan, dan banyak lagi yang lainnya.

Istilah-istilah ini adalah intisari kehidupan bagi warga Gunungkidul. Dari nama-nama itulah para petani paham betul kapan harus mencangkul, kapan benih aman disebar, dan bagaimana cara terbaik berkompromi dengan alam.

Berdasarkan catatan lapangan saya di Laboratorium Sedusun, warga Siyono itu tipe-tipe manusia yang hidupnya menggantungkan sepenuhnya pada air langit alias pertanian tadah hujan. Alih-alih sibuk scrolling ramalan cuaca di sosmed, mereka lebih milih "berdialog" dengan alam. 

Mulai dari belajar soal rasi bintang, mengamati gosip antarternak, sampai membaca gelagat tumbuhan. Pokoknya, ilmu titen ini sudah mendarah daging lewat jalur tradisi turun-temurun, bukan tutorial YouTube.

Plot syoknya, aksi titen ala warga Siyono ini ternyata bukan klenik, tapi punya bekingan ilmiah! Riset Mohammad Ghofur yang nangkring di Jurnal Pemikiran Sosiologi UGM (2024) mengamini kalau petani di kawasan karst Gunungkidul memang nasibnya cukup ekstrem, air permukaan seret, irigasi modern absen, tanahnya menantang, dan topografi nya bikin lutut gemetar. 

Nah, dalam kondisi senggol-bacok dengan alam begini, jurus lokal bernama Ngawu-awu keluar sebagai penyelamat buat menentukan kapan waktu yang tepat untuk menanam sebelum hujan akan nge-prank mereka.

Di Gunungkidul juga urusan membaca musim ini adalah soal menyambung hidup. Catatan Fakultas Geografi UGM menegaskan bahwa kawasan karst di sini didominasi lahan kering tadah hujan. Salah hitung musim, taruhannya adalah isi piring di meja makan mereka.

Dari kondisi itulah Laboratorium Sedusun bergerak. Mereka mencoba berikhtiar agar desa ini tetap punya alasan logis untuk ditinggali oleh anak mudanya. Dari 76 keluarga di Dusun Siyono, jumlah anak muda yang bertahan sempat menyusut drastis hingga di bawah sepuluh orang akibat stigma desa yang kering dan miskin.

Cerita miring itu kini mulai dibalik lewat kerja keroyokan lintas generasi. Bapak-bapak yang dulu cuma jadi buruh jahit maklon, sekarang naik kelas membuat produk upcycle sendiri dari karung pakan dan sak semen lewat jenama “Giat Baik Sedusun”. 

Ibu-ibunya juga sibuk menyulap hasil panen tegalan menjadi panganan bernilai jual, sementara anak-anak mudanya selalu berurusan dengan produksi, pemasaran, hingga pasang iklan di media sosial, sebagaimana peran yang paling mereka kuasai dan gemari.

Di titik itulah saya sadar bahwa urusan musim ternyata bukan cuma perkara ramalan cuaca di tv-tv. Cara warga membaca gerak alam rupanya ikut menentukan bagaimana mereka merawat tradisi dan warisan ilmu, hingga memutar roda ekonomi di tingkat tapak.

Barangkali, gaya hidup berkelanjutan yang sering diomongin orang itu justru lahir dari hal sederhana seperti ini, sebagaimana warga Gunungkidul mengenali tanah tempat kaki mereka berpijak, mendengarkan nasihat orang-orang tua yang hidup bersamanya, lalu menggarap potensi itu ramai-ramai.

Secara ilmu meteorologi, hafalan sekolah tentang dua musim itu jelas tidak salah. Dusun Siyono hanya menyentil ingatan saya bahwa kehidupan nyata di antara musim hujan dan kemarau ternyata jauh lebih kaya, dinamis, dan berisi, ketimbang sebaris kalimat kaku yang pernah saya catat di buku pelajaran dulu.