Hayuning Ratri Hapsari | Dian Haerani
Ilustrasi membaca buku (Pexels/https://kaboompics.com/)
Dian Haerani

Ada sesuatu yang berubah ketika kita beranjak dewasa. Hari-hari terasa berjalan jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Bangun tidur, membuka ponsel, memeriksa notifikasi, melihat media sosial, menyelesaikan pekerjaan, membalas pesan, lalu kembali menatap layar sampai akhirnya hari berganti. Semuanya bergerak begitu cepat.

Tanpa sadar, kita terbiasa melakukan banyak hal secara bersamaan. Makan sambil menonton video, bekerja sambil membuka media sosial, bahkan beristirahat sambil tetap memeriksa notifikasi. Rasanya seperti ada dorongan untuk selalu mengetahui sesuatu dan selalu melakukan sesuatu.

Di tengah ritme kehidupan seperti itu, aku menemukan satu aktivitas sederhana yang membuatku bisa berhenti sebentar, yaitu membaca. Membaca mungkin terdengar seperti kegiatan yang biasa saja. Namun, bagiku, membuka sebuah buku berarti memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk memperlambat langkah.

Ketika membaca, aku tidak bisa terburu-buru. Ada halaman yang harus dibaca, kalimat yang perlu dipahami, dan cerita yang memang membutuhkan waktu untuk dinikmati. Tidak seperti media sosial yang terus memberikan konten baru lewat satu gerakan jempol, buku mengajarkanku untuk menikmati sesuatu secara perlahan.

Awalnya, membaca mungkin terasa sulit dilakukan di tengah kebiasaan scrolling. Kita sudah terbiasa mendapatkan informasi dalam potongan-potongan pendek. Beberapa detik melihat video, beberapa detik membaca unggahan, kemudian berpindah lagi ke konten berikutnya.

Buku tidak bekerja seperti itu. Buku meminta kita untuk tinggal sedikit lebih lama. Dan mungkin, justru itulah yang kita butuhkan. Bukan karena membaca harus selalu membuat kita lebih pintar atau lebih produktif, tetapi karena terkadang kita membutuhkan aktivitas yang tidak menuntut kita untuk bergerak cepat.

Aku sendiri mulai melihat membaca bukan hanya sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan. Ada kalanya aku membaca hanya karena ingin menikmati sebuah cerita. Tidak ada target berapa buku yang harus selesai dalam sebulan. Tidak ada kewajiban untuk langsung mendapatkan pelajaran dari setiap halaman.

Aku hanya ingin membaca. Mungkin terdengar sederhana, tetapi di tengah kehidupan yang membuat kita terbiasa mengejar banyak hal, melakukan sesuatu hanya karena kita menikmatinya terasa seperti sebuah kemewahan kecil.

Ada hari ketika aku membaca beberapa halaman sebelum tidur. Ada juga saat ketika aku membawa buku ketika sedang ingin menghabiskan waktu sendirian. Kadang aku membaca sambil menikmati minuman favorit dan membiarkan waktu berjalan tanpa terlalu memikirkan apa yang harus dilakukan setelahnya.

Momen-momen seperti itu mungkin tidak menghasilkan pencapaian besar. Tetapi aku merasa lebih tenang. Dan mungkin, ketenangan memang tidak selalu harus menghasilkan sesuatu.

Kita sering menganggap bahwa waktu yang baik adalah waktu yang produktif. Membaca pun terkadang masuk ke dalam pola pikir tersebut. Kita membaca karena ingin menambah wawasan, meningkatkan kemampuan, memperbaiki diri, atau mencapai target tertentu.

Semua itu tentu tidak salah. Namun, sesekali, bukankah kita boleh membaca tanpa alasan yang rumit?

Kita boleh membaca novel hanya karena ceritanya menarik. Membaca buku yang sudah lama ingin dibaca. Mengulang buku favorit meskipun sudah tahu jalan ceritanya. Atau bahkan membaca beberapa halaman lalu menutup bukunya ketika mata mulai lelah.

Bagi generasi yang hidup di tengah derasnya informasi, membaca juga bisa menjadi bentuk jeda dari dunia digital. Bukan berarti kita harus sepenuhnya meninggalkan media sosial. Kita tetap bisa menggunakannya untuk berkomunikasi, mencari informasi, bekerja, dan mendapatkan hiburan.

Namun, mungkin ada baiknya jika kita sesekali memberikan jarak. Kemudian membiarkan diri kita berada di satu tempat tanpa merasa harus mengetahui apa yang sedang terjadi di tempat lain. Ada ketenangan tersendiri ketika kita tidak perlu terus mengikuti apa yang sedang ramai. Tidak perlu mengetahui unggahan terbaru.

Hanya ada kita, buku, dan waktu yang berjalan sedikit lebih lambat. Mungkin kita memang tidak bisa membuat dunia berhenti terburu-buru. Pekerjaan akan tetap memiliki deadline. Pesan akan tetap masuk. Media sosial akan terus bergerak. Masa depan akan tetap menunggu untuk dihadapi.

Tetapi kita bisa memilih untuk tidak selalu ikut berlari. Kita bisa menciptakan jeda kecil di tengah hari yang penuh tuntutan. Jeda untuk membaca satu bab. Jeda untuk menikmati beberapa halaman. Jeda untuk kembali mendengar suara pikiran sendiri.

Karena mungkin, hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai di tujuan. Mungkin ada bagian dari perjalanan yang justru perlu dinikmati pelan-pelan. Jadi, ketika dunia terasa terlalu terburu-buru, aku ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tidak harus selalu ikut berlari.

Sesekali, aku ingin duduk. Membuka sebuah buku. Membaca pelan-pelan. Lalu membiarkan dunia berjalan tanpa harus mengejarnya. Kamu sedang baca buku apa hari ini?