Pulang tepat waktu, tidak lagi membalas pesan pekerjaan di luar jam kerja, dan menolak tugas tambahan yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Bagi sebagian orang, perilaku tersebut mungkin terlihat seperti penurunan semangat kerja.
Fenomena ini dikenal dengan istilah quiet quitting—gambaran sikap pekerja yang memilih menjalankan tugas sesuai tanggung jawab tanpa terus-menerus memberikan usaha ekstra di luar kewajibannya.
Namun, bagi sebagian pekerja muda, itulah cara mempertahankan keseimbangan hidup di tengah tuntutan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Sayangnya, keputusan ini malah sering dicap kurang berdedikasi.
Alih-alih menuding kurang loyal atau minim ambisi, jangan-jangan sebagian pekerja muda bukan kehilangan etos kerja, melainkan sedang kelelahan. Jadi, quiet quitting itu malas bekerja atau justru tanda membutuhkan jeda?
Ketika Dedikasi Diukur dari Seberapa Lama Kita Bekerja
Selama bertahun-tahun, pekerja ‘ideal’ sering digambarkan sebagai orang yang selalu siap membantu, bersedia lembur, dan mampu menyelesaikan pekerjaan melebihi ekspektasi. Semakin banyak waktu untuk pekerjaan, semakin tinggi pula anggapan tentang dedikasi.
Budaya seperti ini membuat batas antara tanggung jawab profesional dan kehidupan pribadi menjadi kabur. Pulang tepat waktu terasa seperti kesalahan. Menolak tugas tambahan menimbulkan rasa bersalah.
Bahkan, beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan terkadang dianggap sebagai tanda kurang ambisius. Padahal, bekerja dengan baik tidak selalu berarti bekerja lebih lama. Kita tetap bisa profesional tanpa harus selalu tersedia setiap saat.
Bukankah menyelesaikan tugas sesuai target, menjaga kualitas pekerjaan, dan menghormati kesepakatan jam kerja juga merupakan bentuk tanggung jawab? Lalu, kenapa dedikasi masih diukur dari seberapa lama kita bekerja?
Quiet Quitting Bukan Berarti Malas
Dalam banyak percakapan tentang dunia kerja, quiet quitting merujuk pada keputusan untuk tidak lagi memberikan usaha ekstra yang tidak diwajibkan, terutama saat pengorbanan tersebut tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima.
Bayangkan kita terus menerima tugas tambahan, rutin bekerja melewati jam kantor, tapi tidak mendapatkan kompensasi atau pengakuan yang sepadan. Lama-kelamaan, kita memilih membatasi keterlibatan dan hanya fokus pada tanggung jawab utama.
Apakah keputusan tersebut otomatis menunjukkan kemalasan? Belum tentu. Bisa jadi, tindakan ini bentuk evaluasi batas kemampuan dan hubungan antara usaha yang diberikan dengan penghargaan yang diterima.
Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Kelelahan Kerja?
Gen Z memasuki dunia kerja dalam situasi yang penuh tantangan. Persaingan, perubahan teknologi, ketidakpastian ekonomi, dan tuntutan untuk terus upgrade membuat banyak pekerja muda merasa harus selalu bergerak.
Mereka bukan hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan, tapi juga membangun personal branding, memperluas jaringan profesional, mengikuti perkembangan industri, dan mempersiapkan karier berikutnya.
Di luar pekerjaan, ada kebutuhan untuk mengelola keuangan, menjaga hubungan sosial, serta memenuhi ekspektasi keluarga dan diri sendiri. Belum lagi budaya produktivitas di media sosial yang membuat keberhasilan orang lain terlihat begitu mudah dicapai.
Semua itu bisa menjadi beban ketika tidak diimbangi dengan waktu istirahat yang memadai. Akibatnya, kelelahan bukan hanya berasal dari banyaknya pekerjaan, tapi juga dari tekanan untuk terus membuktikan diri.
Jeda Bukan Berarti Kehilangan Ambisi
Saya percaya bahwa memiliki batas bukan berarti kehilangan semangat untuk berkembang. Justru, mengenali batas diri dan mengelola kelelahan di dunia kerja bisa membantu seseorang membangun karier yang lebih berkelanjutan.
Mengenali batas tanggung jawab bisa dilakukan dengan memahami tugas utama, prioritas, dan kesepakatan kerja agar tidak terus-menerus mengambil beban yang tidak realistis. Memanfaatkan juga waktu istirahat untuk pemulihan energi.
Pastikan untuk berkomunikasi secara terbuka di tempat kerja. Jika beban kerja tidak sebanding dengan waktu dan sumber daya yang tersedia, diskusikan prioritas ini dengan atasan demi membangun budaya organisasi yang sehat.
Di sisi lain, perusahaan juga perlu mengambil bagian. Bukan sekadar memasang slogan keseimbangan hidup, perusahaan perlu ikut ambil bagian dalam bertanggung jawab menjaga kesehatan mental pekerja.
Membaca Ulang Arti Menjadi Pekerja yang Baik
Pada akhirnya, quiet quitting seharusnya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi cara kita memahami profesionalisme. Pekerja yang baik bukan berarti selalu mengiyakan semua permintaan. Begitu pula pulang tepat waktu tidak otomatis kehilangan ambisi.
Tentu saja, komitmen, disiplin, dan tanggung jawab tetap penting. Namun, semuanya perlu berjalan bersama penghormatan terhadap batas manusiawi. Jangan sampai pekerjaan dipandang sebagai sesuatu yang harus terus-menerus menguras seluruh energi.
Karier memang penting, tapi kehidupan tidak berhenti ketika jam kerja selesai. Kita berhak memiliki waktu untuk keluarga, pertemanan, hobi, dan diri sendiri tanpa terus merasa bersalah karena tidak sedang produktif.
Mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Gen Z terlalu mudah melakukan quiet quitting, melainkan apakah dunia kerja sudah memberikan ruang yang cukup bagi pekerja untuk berkembang tanpa mengorbankan kesejahteraannya.
Sebab, jeda bukan berarti berhenti berambisi. Terkadang, jeda justru menjadi cara agar kita bisa terus melangkah tanpa kehilangan diri sendiri di tengah perjalanan, termasuk saat mengejar karier demi masa depan.
Tag
Baca Juga
-
Tak Harus Selalu Upgrade Skill: Kita Juga Butuh Waktu Menjadi Diri Sendiri
-
Jeda dari Timeline Kehidupan: Tidak Semua Orang Harus Sukses di Usia Sama
-
Jeda dari Performative Happiness: Tersenyum di Medsos, Lelah di Dunia Nyata
-
Terjebak FYP Sampai Jam 1 Pagi? Ini Alasan Otakmu Gagal Berhenti Scrolling
-
Diet Informasi: Cara Merebut Kembali Kedamaian Pikiran di Era Digital
Artikel Terkait
-
Manfaatkan Fitur Lifestyle BRImo: Diskon Ultra Voucher Tembus 40 Persen!
-
Membedah Luka Lewat Sastra dan Psikologi di Communitimes: Book Talk and Community Support Circle
-
Scrolling saat Istirahat, Bisakah Menjadi Bentuk Jeda yang Kita Butuhkan?
-
Tak Semua Pesan Harus Dibalas Sekarang, Berhenti Jadi Terlalu Available!
-
OJK: Gen Z dan Milenial Problematik Kelola Uang, Paling Banyak Akses Pinjol
Kolom
-
Tak Harus Selalu Upgrade Skill: Kita Juga Butuh Waktu Menjadi Diri Sendiri
-
Takut Menikah dan Pilih Childfree: Kebebasan atau Cermin Krisis Ekonomi?
-
Tak Semua Pesan Harus Dibalas Sekarang, Berhenti Jadi Terlalu Available!
-
Jebakan Phubbing: Ketika Layar HP Mengikis Kehangatan Hubungan Nyata
-
Di Balik Rekor Kunjungan Wisatawan: Saat Air Bersih Warga Dikorbankan untuk Vila Mewah
Terkini
-
Ketika Latihan Militer Berujung Teror Alien di Film War Machine
-
Scrolling saat Istirahat, Bisakah Menjadi Bentuk Jeda yang Kita Butuhkan?
-
Ulasan Trisurya: Ketika Manusia Berhadapan dengan Ancaman dari Luar Bumi
-
A Waffle Lot of Love!: Kisah Persahabatan Manis yang Mengundang Tawa
-
SIGUMI Diluncurkan di Karangasem, Dorong Kesiapsiagaan Bencana di Kawasan Wisata