Teman mengajak nongkrong, tetapi kita menolak karena ingin menjaga mental health. Pesan WhatsApp dari sahabat yang sedang curhat dibiarkan menumpuk karena kita sedang ingin me time. Saat seseorang kecewa, kita buru-buru berkata, “Aku juga punya masalah sendiri, ya.” Semua terdengar masuk akal. Toh, menjaga diri sendiri memang penting. Namun, kapan self-care berubah menjadi alasan untuk berhenti peduli kepada orang lain?
Ini kenapa hyper-individualism menjadi persoalan yang perlu ditelaah lebih dalam. Di tengah populernya narasi self-care, kita makin terbiasa memprioritaskan kebutuhan pribadi, menetapkan batasan, dan menjauh dari hal-hal yang menguras energi. Masalahnya, ketika semua hubungan diukur berdasarkan kenyamanan diri, kepedulian bisa terasa seperti beban. Kita sibuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi lupa bahwa manusia juga membutuhkan orang lain untuk bertahan.
Ketika Self-Care Berubah Menjadi Alasan untuk Tidak Peduli
Coba perhatikan cara kita membicarakan hubungan hari ini. Ada istilah toxic people, protect your peace, set boundaries, sampai choose yourself. Istilah-istilah ini membantu banyak orang memahami hubungan yang tidak sehat. Seseorang yang terus-menerus direndahkan, dimanipulasi, atau dimanfaatkan memang berhak mengambil jarak. Menjaga diri bukan tindakan egois.
Namun, persoalan muncul ketika semua ketidaknyamanan dianggap sebagai ancaman terhadap kesehatan mental. Teman yang sedang membutuhkan bantuan dicap terlalu bergantung. Pasangan yang mengajak berdiskusi soal konflik dianggap menguras energi. Keluarga yang meminta waktu bersama dinilai tidak menghargai batasan pribadi. Sedikit-sedikit cut off, sedikit-sedikit memilih pergi.
Padahal, hubungan yang sehat tidak selalu terasa nyaman. Ada kalanya kita perlu mendengarkan keluhan teman saat sedang lelah, meminta maaf ketika bersalah, atau bertahan dalam percakapan sulit agar masalah tidak menggantung. Semua itu memang membutuhkan energi, tetapi bukan berarti otomatis merugikan kesehatan mental.
Hyper-individualism menjadi berbahaya ketika kepentingan pribadi dijadikan ukuran utama untuk menilai semua hubungan. Orang lain baru dianggap layak dipertahankan selama mereka menyenangkan, mendukung, dan tidak merepotkan. Begitu mereka membutuhkan sesuatu, hubungan terasa seperti transaksi yang merugikan.
Narasi self-care yang seharusnya membantu kita mengenali kebutuhan diri justru bisa berubah menjadi pembenaran untuk menghindari tanggung jawab emosional. Kita ingin dipahami, tetapi enggan memahami. Kita ingin ditemani saat rapuh, tetapi buru-buru menghilang ketika orang lain mengalami hal serupa.
Media Sosial, Budaya Produktivitas, dan Hubungan yang Makin Transaksional
Mengapa pola pikir seperti ini terasa makin dekat dengan kehidupan anak muda? Salah satu jawabannya adalah cara media sosial mengemas pengembangan diri. Konten tentang mencintai diri sendiri, menghindari orang negatif, dan memprioritaskan kebahagiaan pribadi mudah ditemukan. Pesannya sering dikemas singkat, tegas, dan cocok dijadikan kutipan di Instagram atau TikTok.
Masalahnya, nasihat yang sebenarnya membutuhkan konteks sering berubah menjadi aturan mutlak. Kita bisa melihat seseorang membagikan kutipan tentang tidak berutang penjelasan kepada siapa pun, tetapi lupa bahwa hubungan tetap membutuhkan komunikasi. Kita bisa mengunggah pesan tentang menjaga energi, tetapi mengabaikan kenyataan bahwa orang-orang terdekat juga memiliki batas kemampuan dan persoalannya sendiri.
Budaya produktivitas turut memperkuat kecenderungan ini. Anak muda menghadapi tuntutan kuliah, pekerjaan, biaya hidup, dan persaingan karier. Waktu istirahat terasa mahal. Hubungan sosial pun berpotensi dinilai berdasarkan manfaatnya: siapa yang bisa membuka peluang kerja, siapa yang mendukung karier, dan siapa yang dianggap menghambat kemajuan.
Dalam situasi seperti ini, mengurangi interaksi memang kadang menjadi cara realistis untuk menghemat energi. Namun, ketika semua hubungan harus memberikan keuntungan langsung, persahabatan perlahan kehilangan sifat saling menolongnya. Kita bukan lagi membangun komunitas, melainkan mengkurasi orang-orang yang dianggap cocok dengan kebutuhan pribadi.
Menurut informasi Kementerian Kesehatan RI dalam artikel Gangguan Kesehatan Mental, Semakin Ngetren dan Perlu Diwaspadai, kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan seseorang mengatasi tekanan, bekerja secara produktif, dan memberikan kontribusi kepada orang lain. Kemenkes juga memasukkan dukungan sosial sebagai salah satu hal yang penting untuk menjaga kesehatan mental.
Gagasan tersebut memberi perspektif yang menarik seperti kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial. Kita memang membutuhkan waktu sendiri, tetapi dukungan emosional, persahabatan, dan rasa menjadi bagian dari suatu kelompok juga punya nilai. Menarik diri sesekali bisa membantu pemulihan, sedangkan memutus hubungan dengan semua orang bukanlah satu-satunya jalan menuju ketenangan.
Penelitian Widiasavitri dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Gadjah Mada Journal of Professional Psychology pada 2021 juga menguji terapi seni berbasis kelompok daring pada mahasiswa psikologi. Penelitian dengan sepuluh partisipan tersebut menemukan penurunan skor depresi, kecemasan, dan stres pada kelompok yang mendapatkan intervensi dibandingkan kelompok kontrol. Skala penelitian ini memang kecil sehingga hasilnya tidak bisa digeneralisasi secara luas. Namun, studi tersebut memberi contoh bahwa aktivitas perawatan diri dapat berlangsung bersama dukungan kelompok, bukan harus dilakukan sendirian.
Belajar Menjaga Diri Tanpa Kehilangan Kepedulian
Lantas, apakah kita harus selalu tersedia bagi orang lain agar tidak dicap egois? Tentu tidak. Orang yang sedang kelelahan boleh menolak ajakan, membatasi komunikasi, dan meninggalkan hubungan yang membahayakan. Batasan pribadi tetap penting, terutama ketika seseorang menghadapi kekerasan atau manipulasi.
Yang perlu diubah adalah cara kita memahami batasan. Boundaries bukan tembok untuk menghindari semua persoalan, melainkan kesepakatan tentang bagaimana hubungan bisa berjalan dengan sehat. Menolak membantu teman karena sedang tidak sanggup bisa disampaikan dengan jujur. Kita juga bisa menawarkan waktu lain atau sekadar memberi tahu bahwa pesan mereka sudah dibaca dan akan dibalas ketika memungkinkan.
Kepedulian tidak harus berupa pengorbanan besar. Menanyakan kabar teman, mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, membantu pekerjaan kelompok secara adil, atau hadir ketika keluarga membutuhkan bantuan merupakan bentuk perhatian yang sederhana. Kita tidak harus menjadi penyelamat semua orang. Cukup belajar agar kebutuhan diri dan kebutuhan orang lain mendapat ruang yang wajar.
Sekolah, kampus, dan tempat kerja juga punya peran. Lingkungan yang hanya menghargai pencapaian individu akan membuat kolaborasi terasa seperti kompetisi. Ruang diskusi yang aman, budaya saling membantu, dan pembagian tanggung jawab yang adil dapat mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu harus diraih dengan berjalan sendirian.
Mungkin kita terlalu sering bertanya, “Apakah hubungan ini membuatku bahagia?” Pertanyaan itu penting, tetapi ada pertanyaan lain yang layak menyusul: “Apakah aku juga memberi ruang bagi orang lain untuk menjadi manusia yang tidak selalu baik-baik saja?”
Sebab, kedewasaan bukan soal selalu mengutamakan orang lain, apalagi mengabaikan diri sendiri. Kedewasaan adalah kemampuan memahami kapan harus berkata tidak dan kapan perlu hadir meski situasinya tidak nyaman. Self-care seharusnya membantu kita kembali menjalani kehidupan dengan lebih sehat, termasuk membangun hubungan yang lebih baik.
Jangan sampai kita berhasil menjaga ketenangan dengan mengusir semua orang dari kehidupan, lalu bingung ketika tidak ada siapa pun yang tersisa untuk diajak berbagi. Merawat diri itu penting, tetapi merawat hubungan juga bagian dari merawat kemanusiaan kita sendiri.
Baca Juga
-
Ruang Laktasi : Saat Ibu Menyusui Tak Dianggap Pengguna Ruang Publik
-
Ketika AI Jadi Jalan Pintas, Buku Makin Ditinggalkan
-
AI Membuat Kita Bingung Membedakan Realitas dan Kepalsuan Digital
-
Self Reward dan Budaya Boros yang Diam-diam Dinormalisasi Gen Z
-
Gonta-Ganti HP Cuma Buat Gengsi? Awas, Kelas Sosial dari Layar Gadget Seringnya Cuma Ilusi!
Artikel Terkait
-
Kekerasan Spiritual di Gereja Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental
-
Kasus Gangguan Jiwa Berat di Kalbar Tembus 4.323, Skizofrenia Mendominasi
-
Rayakan Hari Kesehatan Mental Sedunia Lewat Konser YE alias Kanye West di GBK
-
10 Oktober Memperingati Hari Apa? Ini 7 Momentum Penting yang Perlu Diketahui
-
Room Reset, Mind Reset: Saatnya Memberi Jeda untuk Diri Sendiri
Kolom
-
Bukan Wajib Militer, Negara Justru Lebih Butuh Hacker dan Praktisi IT Buat Jadi 'Komcad'
-
Bukan Hanya Salah El Nino: Mengurai Akar Krisis Karhutla Kalimantan
-
E-book Bukan Solusi: Menyoal Keterjangkauan Buku di Tengah Digitalisasi
-
Kekayaan Alam indonesia Melimpah, tapi Kenapa Kesejahteraan Rakyat Tidak Merata?
-
Dilema Usia 20-an: Ingin Menikmati Masa Muda, tapi Takut Kehabisan Uang
Terkini
-
Mandatalam Earth Run 2026 1 BIB 1 Bibit: Hadir di 3 Kota, Satu Langkah untuk Bumi yang Lebih Hijau
-
Selamat Jalan Martha Tilaar: Perjalanan sang Maestro Kosmetik Indonesia yang Bermodal Niat di Garasi
-
Speak Up soal Karhutla, Bare Minimum yang Bisa Dilakukan Para Influencer
-
Bersihkan Wajah Tanpa Bikin Kering, Ini 4 Micellar Water Low pH Terbaik
-
Jadwal dan Prediksi Liga Champions Malam Ini: 2 Laga Big Match Tersaji