Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Unpopular Opinion (Unsplash/joeyy_Anne)
Oktavia Ningrum

Bagaimana seseorang bisa memulihkan kesehatan mental jika sumber kecemasannya adalah tidak punya pekerjaan dan tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Bagaimana seseorang diminta mengelola emosi ketika setiap hari harus menghadapi ketidakpastian ekonomi, jam kerja yang eksploitatif, biaya hidup yang meningkat, dan lingkungan yang semakin rusak? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak selalu bisa dipahami sebagai persoalan individu yang terpisah dari keadaan sosialnya.

Belakangan, pembicaraan tentang kesehatan mental semakin sering terdengar. Masyarakat didorong untuk mengenali emosi, beristirahat, mencari bantuan profesional, dan belajar menerima keadaan. Semua itu penting. Psikolog dan psikiater dapat membantu seseorang memahami masalah, menangani gejala, serta menemukan strategi untuk menghadapi tekanan. Namun, ada persoalan yang tidak selesai hanya dengan mengubah pola pikir: bagaimana jika sumber tekanan tersebut terus berlangsung karena keadaan hidup yang tidak memberi banyak pilihan?

Ketika masalahnya bukan sekadar cara berpikir, BAYANGKAN seseorang yang telah berbulan-bulan mencari pekerjaan, mengirim lamaran berkali-kali, tetapi belum juga memperoleh penghasilan. Tagihan tetap datang, kebutuhan makan tidak bisa ditunda, sementara tuntutan untuk terus produktif seolah tidak mengenal jeda. Dalam situasi demikian, kecemasan bukan semata-mata akibat ketidakmampuan mengelola pikiran. Ada ancaman nyata terhadap keberlangsungan hidup yang harus dihadapi.

Hal serupa dialami pekerja yang menghadapi jam kerja panjang, upah yang tidak sebanding dengan beban pekerjaan, atau ketidakpastian kontrak. Menyarankan mereka untuk berpikir positif mungkin dapat memberi penghiburan sesaat, tetapi tidak otomatis mengubah kondisi kerja. Jika sumber tekanan tetap ada, seseorang dapat terus mengalami kelelahan emosional meskipun telah berusaha menerapkan berbagai teknik pengelolaan stres.

Di sinilah pentingnya membedakan antara membantu individu menghadapi tekanan dan menghilangkan penyebab tekanan tersebut. Keduanya diperlukan, tetapi tidak bisa saling menggantikan.

Dunia yang karut-marut juga punya dampak psikologis. Tekanan mental tidak hanya muncul dari ruang privat. Krisis lingkungan, bencana, ketimpangan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan turut memengaruhi perasaan aman seseorang. Kebakaran hutan dan lahan, misalnya, bukan hanya persoalan kerusakan ekosistem. Kabut asap dapat mengganggu kesehatan, membatasi aktivitas, menghambat pekerjaan, dan menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga yang tinggal di wilayah terdampak.

Demikian pula, kerusakan lingkungan yang berulang dapat memunculkan perasaan tidak berdaya: masyarakat diminta menjaga kesehatan dan beradaptasi, tetapi keputusan yang memengaruhi lingkungan hidup mereka sering kali berada di luar kendali pribadi. Tekanan semacam ini tidak berarti setiap orang akan mengalami gangguan mental, tetapi menunjukkan bahwa kondisi sosial dan ekologis dapat menjadi sumber stres yang nyata.

Karena itu, pembicaraan mengenai kesehatan mental perlu melampaui nasihat untuk bermeditasi, berolahraga, atau membatasi penggunaan media sosial. Kebiasaan tersebut dapat membantu, tetapi tidak cukup untuk menjawab persoalan ketika seseorang kehilangan mata pencaharian, menghadapi lingkungan kerja yang buruk, atau hidup di tengah bencana yang berulang.

Jangan mengubah penderitaan struktural menjadi kegagalan pribadi. Salah satu risiko ketika kesehatan mental terlalu diindividualisasi adalah munculnya anggapan bahwa seseorang menderita karena kurang bersyukur, kurang tangguh, atau tidak pandai mengelola emosi. Akibatnya, orang yang sudah kesulitan justru dibebani tanggung jawab tambahan: bukan hanya harus bertahan hidup, tetapi juga harus selalu terlihat baik-baik saja.

Padahal, mencari pekerjaan dalam pasar kerja yang sulit bukan semata-mata persoalan motivasi. Bertahan dalam pekerjaan yang menekan juga tidak selalu berarti seseorang memiliki pilihan yang memadai untuk segera mengundurkan diri. Kondisi ekonomi, tanggungan keluarga, dan terbatasnya kesempatan kerja dapat membatasi keputusan yang tersedia.

Ini bukan alasan untuk meniadakan peran individu dalam merawat dirinya. Bantuan profesional tetap penting, terutama ketika tekanan mulai mengganggu tidur, aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, atau keselamatan diri. Namun, bantuan tersebut seharusnya berjalan beriringan dengan upaya memperbaiki kondisi yang membuat orang terus-menerus tertekan.

Kesehatan mental membutuhkan kebijakan publik.  Jika kesehatan mental merupakan bagian dari kesejahteraan manusia, kebijakannya tidak boleh berhenti pada kampanye kesadaran. Akses terhadap layanan psikologis dan psikiatris yang terjangkau perlu diperkuat. Pada saat yang sama, penciptaan pekerjaan layak, perlindungan pekerja, kepastian upah, lingkungan kerja yang manusiawi, jaminan sosial, serta penanganan krisis lingkungan juga harus menjadi bagian dari agenda kesehatan masyarakat.

Tempat kerja perlu menyediakan mekanisme pengaduan yang aman dan mencegah beban kerja berlebihan. Pemerintah perlu memperluas perlindungan bagi kelompok rentan dan memastikan masyarakat terdampak bencana memperoleh bantuan yang memadai. Masyarakat pun dapat membangun dukungan sosial yang tidak menghakimi orang yang sedang mengalami kesulitan.

Pada akhirnya, kesehatan mental bukan sekadar kemampuan seseorang untuk tetap tenang di tengah keadaan buruk. Ia juga berkaitan dengan apakah seseorang memiliki pekerjaan yang layak, tempat tinggal yang aman, akses terhadap pengobatan, dan masa depan yang masih dapat dibayangkan tanpa rasa takut berlebihan.

Kita boleh mengajarkan orang mengelola emosi, tetapi jangan menjadikan ketahanan mental sebagai alasan untuk membiarkan ketidakadilan berlangsung. Manusia memang perlu belajar bertahan menghadapi dunia yang sulit, tetapi dunia juga harus dibuat lebih layak untuk ditinggali. Sebab, kesehatan mental tidak hanya membutuhkan individu yang lebih kuat, melainkan masyarakat dan sistem yang tidak terus-menerus menguras kekuatan mereka.