Sobat Yoursay, kalau lagi cari makan di luar, biasanya apa satu hal pertama yang jadi pertimbangan kalian sebelum memutuskan membeli?
Pertanyaan itu bisa punya jawaban yang bermacam-macam. Mungkin harga, rasa, interior tempat dan kenyamanannya, atau yang lain.
Saya pernah mendengar kalimat ini: "Kalau laris dan banyak yang antre, berarti makanannya enak atau murah." Jadi, jika biasanya orang menghindari antrean panjang karena enggan menunggu, ia justru memilih ikut mengantre karena yakin bisa mendapatkan salah satu dari dua hal itu.
Anggapan itu ternyata ada benarnya. Beberapa kali, saya pun mendapati tempat makan atau pedagang kaki lima dengan kriteria serupa. Seperti penjual ayam geprek dan penyetan dekat kampus, misalnya. Di jam makan siang, warungnya selalu ramai. Setelah mencoba sendiri, rupanya yang membuat warung tersebut ramai adalah harganya yang anak kos friendly dan menunya yang beragam. Ada pula warung makan lain yang ramai karena porsinya mengenyangkan dan rasanya pun bikin pelanggan ketagihan.
Hal serupa juga terjadi saat seseorang berbelanja di online shop. Jumlah produk terjual yang tinggi dan ulasan pembeli sebelumnya sering kali menjadi salah satu pertimbangan sebelum memutuskan untuk membeli. Angka penjualan dan ulasan positif tersebut bisa membuat calon pembeli menilai bahwa produknya berkualitas, harganya sesuai, atau penjualnya dapat dipercaya. Hal ini menjadikan popularitas sebagai salah satu petunjuk awal ketika calon pembeli belum mengetahui kualitas produk secara langsung.
Dalam ilmu psikologi, fenomena ini rupanya dikenal dengan sebutan social proof atau bukti sosial. Secara sederhana, konsep ini menjelaskan bagaimana pilihan orang lain dapat memengaruhi penilaian dan keputusan kita. Ketika belum memiliki cukup informasi untuk menentukan pilihan, kita cenderung memperhatikan apa yang dilakukan orang lain sebagai salah satu bahan pertimbangan.
Dalam contoh yang sempat saya sebutkan sebelumnya, antrean panjang dan tingginya angka penjualan menjadi petunjuk yang digunakan calon pelanggan untuk menilai sesuatu yang belum mereka coba secara langsung. Meski begitu, popularitas tidak serta-merta menjamin kualitas. Ada faktor lain yang bisa membuat suatu tempat makan atau produk diminati banyak orang, seperti lokasinya yang mungkin memang strategis dan mudah dijangkau.
Akan tetapi, meski sama-sama berkaitan dengan pengaruh orang lain, social proof tidak selalu berarti FOMO. Dalam social proof, popularitas menjadi salah satu petunjuk yang kita gunakan untuk menilai sesuatu. Sementara itu, FOMO (fear of missing out) lebih berkaitan dengan kekhawatiran akan tertinggal dari pengalaman atau tren yang sedang dinikmati orang lain. Meski berbeda, keduanya bisa saling berkaitan. Misalnya saat melihat sesuatu yang populer, lalu muncul rasa penasaran, yang kemudian berkembang menjadi kekhawatiran tertinggal jika kita tidak ikut mencobanya.
Rasa penasaran tersebut terkadang juga membuat kita ingin merasakan sendiri pengalaman yang ramai dibicarakan orang lain. Kita mungkin ingin mengetahui apakah makanan yang diantre banyak orang memang seenak itu atau apakah produk yang terjual ribuan kali benar-benar sesuai dengan ekspektasi. Dalam hal ini, mencoba sesuatu yang populer bisa menjadi cara untuk menjawab rasa penasaran, selama kita tetap mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan diri sendiri.
Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa popularitas memang bisa menjadi salah satu hal yang memengaruhi penilaian kita terhadap suatu hal. Mengikuti pilihan mayoritas juga bukan hal buruk. Bahkan, dalam banyak hal mempertimbangkan pengalaman orang lain bisa membantu kita dalam mengambil keputusan.
Meski demikian, jangan sampai hal itu menjadi satu-satunya alasan kita memilih atau mencoba sesuatu. Sebelum membuat keputusan, tetap ada baiknya jika kita juga memeriksa informasi lain, seperti: membaca ulasan yang terperinci, membandingkan harga, atau mempertimbangkan apakah produk tersebut memang sesuai kebutuhan.
Baca Juga
-
6 Rekomendasi Drakor yang Menyimpan Kritik terhadap Sistem Peradilan Formal
-
Dilema Usia 20-an: Ingin Menikmati Masa Muda, tapi Takut Kehabisan Uang
-
Lagu 'Tutur Batin': Pelukan Hangat untuk yang Ingin Bangkit dari Kegagalan
-
Harganya Bikin Mikir Dua Kali, Kenapa Kafe Estetik Tetap Banyak Diminati?
-
Bukan Kesepian, Solo Date Bisa Menjadi Cara Seseorang Menikmati Jeda Bersama Diri Sendiri
Artikel Terkait
Kolom
-
Miris! Warga di 'Paru-Paru Dunia' Justru Kesusahan Bernapas, Salah Siapa?
-
DPR Musikal Terbukti Nyata: Saat Isu Karhutla Kalah Tajam dari Drama Medsos
-
PLTSa DIY Ubah Sampah Jadi Listrik, Solusi Masalah atau Beban Baru?
-
Paspor Hijau di Negeri Orang: Ketika Dokumen Negara Menjadi Citra Bangsa
-
Jebakan Halusinasi Kemenangan, Mengapa Judi Online Bikin Orang Ketagihan?
Terkini
-
Studio Dead by Daylight Garap AAA Sci-Fi FPS Baru, Detail Dirahasiakan
-
Belok Kiri Langsing: Ketika Transformasi Fisik Dimulai dari Mencintai Diri
-
Bukan Tablet Biasa! iQOO Pad Pro Andalkan Layar OLED 165Hz dan Kipas Pendingin Aktif
-
Drama Korea Good Partner 2 Rilis Poster Perdana, Jang Nara Cari Rekan Baru
-
5 HP 3 Jutaan dengan Chipset Gahar untuk Gaming