Hayuning Ratri Hapsari | Ernik Budi Rahayu
Ilustrasi Kebakaran Hutan (pexels.com/Petr Wolf)
Ernik Budi Rahayu

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya menyisakan lahan terbakar atau pepohonan yang menghitam. Di balik asap yang menyelimuti langit, ada masyarakat yang harus tetap menjalani kehidupan di tengah kondisi lingkungan yang tidak ideal.

Anak-anak berisiko mengalami gangguan pernapasan, petani kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, sementara masyarakat lainnya harus menyesuaikan rutinitas akibat kualitas udara yang memburuk. Situasi ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada persoalan lingkungan, tetapi merembet ke berbagai lini kehidupan.

Ketika Balita Harus Menghadapi Ancaman Kabut Asap

Dampak karhutla terhadap kesehatan anak menjadi salah satu persoalan yang patut mendapat perhatian. Berdasarkan pemberitaan Suara.com pada 14 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 62.400 bayi dan balita berusia 0–5 tahun mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak hingga 12 Oktober 2026.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia yang masih rentan harus menghadapi risiko kesehatan akibat kondisi lingkungan di sekitarnya. Padahal, anak-anak belum memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri dari paparan asap secara optimal.

Orang tua memang dapat membatasi aktivitas anak di luar rumah dan berusaha menjaga kualitas udara di dalam ruangan. Namun, upaya tersebut tidak selalu mudah dilakukan, terutama bagi keluarga yang tinggal di wilayah dengan paparan asap berkepanjangan.

Karena itu, perlindungan anak tidak seharusnya hanya bergantung pada kemampuan setiap keluarga untuk mengantisipasi dampak karhutla. Ketersediaan layanan kesehatan, informasi kualitas udara, dan tempat dengan udara yang lebih bersih juga menjadi bagian penting dari upaya perlindungan.

Petani Juga Harus Bertahan di Tengah Asap

Persoalan lain terlihat dari kehidupan petani di Kalimantan Barat. Dalam pemberitaan Suara.com pada 16 Oktober 2026, seorang petani mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama tidak melihat matahari selama sekitar tiga bulan akibat kabut asap tebal.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana karhutla dapat memengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak. Bagi petani, lingkungan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga ruang untuk bekerja dan memperoleh penghasilan.

Kabut asap yang berlangsung lama dapat mengganggu aktivitas di luar ruangan. Kondisi udara yang buruk juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan, terutama bagi mereka yang harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di sinilah dampak karhutla menjadi semakin kompleks. Tidak semua orang memiliki pilihan untuk menghentikan aktivitas ketika asap menyelimuti lingkungan. Sebagian masyarakat tetap harus bekerja meskipun kondisi di sekitarnya tidak mendukung.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak selalu dirasakan secara merata. Masyarakat dengan keterbatasan ekonomi bisa menghadapi beban berlapis karena harus mempertimbangkan kesehatan sekaligus kebutuhan untuk memperoleh penghasilan.

Karhutla Bukan Hanya Urusan Pemadaman Api

Selama ini, pembahasan mengenai karhutla sering berpusat pada titik api, luas lahan yang terbakar, dan upaya pemadaman. Padahal, keberhasilan penanganan juga perlu dilihat dari sejauh mana masyarakat terlindungi dari dampak yang ditimbulkan.

Ketika asap sudah menyebar ke permukiman, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman. Masyarakat juga membutuhkan akses terhadap layanan kesehatan, informasi kualitas udara yang mudah dipahami, serta dukungan agar aktivitas penting tetap dapat berjalan dengan aman.

Pencegahan pun perlu menjadi perhatian utama. Pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran, penanganan sumber api, dan penegakan aturan terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran perlu berjalan secara konsisten.

Langkah tersebut penting agar penanganan karhutla tidak hanya bersifat reaktif, yakni bergerak setelah kebakaran meluas dan masyarakat mulai merasakan dampaknya.

Masyarakat Tidak Seharusnya Terus Beradaptasi

Karhutla yang berdampak pada kesehatan balita dan kehidupan petani menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat.

Ketika anak-anak menghadapi risiko gangguan pernapasan dan petani harus menjalani aktivitas di tengah kabut asap, persoalannya bukan lagi semata-mata tentang perubahan kondisi alam. Ada kebutuhan masyarakat yang harus dilindungi dan dipenuhi.

Memang, masyarakat dapat melakukan berbagai langkah untuk mengurangi paparan asap. Namun, kemampuan beradaptasi memiliki batas, terlebih jika kondisi tersebut berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Oleh karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan, pemadaman, pemulihan lingkungan, hingga perlindungan bagi warga terdampak.

Pada akhirnya, keberhasilan menangani karhutla bukan hanya tentang seberapa cepat api dipadamkan atau seberapa luas lahan berhasil diselamatkan. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat tidak terus-menerus menanggung dampaknya.

Sebab, udara bersih bukan sekadar kebutuhan tambahan. Udara bersih merupakan bagian penting dari kehidupan yang layak, baik bagi balita yang sedang tumbuh maupun petani yang menggantungkan hidupnya pada alam.