Di era modern ini, kita sering dihantui dengan pertanyaan kapan menikah?. Pertanyaan itu tidak hanya dari keluarga terdekat namun juga dari teman, rekan kerja maupun relasi lainnya. Entah mengapa pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang populer sehingga menciptakan sebuah tekanan buat kita. Kita akui bahwa saat ini banyak orang yang lebih mengutamakan karier daripada menikah. Banyak orang yang mengutamakan pendidikan dari menikah. Itulah pilihan hidup.
Namun, dalam kenyataannya semua itu terasa hilang karena pertanyaan orang lain tentang pernikahan menjadi sesuatu yang utama dan populer. Padahal pertanyaan itu dapat diartikan baik dan dapat diartikan buruk pula.
Dapat Menciptakan Stres
Pertanyaan kapan menikah? merupakan sebuah pertanyaan yang dapat menciptakan stres. Pertanyaan tersebut bukanlah pertanyaan biasa-biasa saja tetapi sebuah pertanyaan yang merasuk ke pikiran dan hati. Setiap orang akan menjadi kepikiran karena ada tuntutan kapan menikah terutama dari orangtua atau sanak keluarga. Rasa-rasanya setiap orang ingin menikah namun jodohnya belum ada yang tepat di hati.
Karena itu, pertanyaan "kapan menikah" akan menjadi sebuah beban. Apalagi seseorang sedang dalam kesibukan bekerja dan ditambah pertanyaan "kapan menikah" akan menambah beban tersebut. Hal inilah yang kadang-kadang banyak pihak tidak ketahui. Betapa resahnya hati dan pikiran saat ditanya soal pernikahan. Betapa bisingnya kehidupan jika ditanya kapan menikah.
Sesuatu yang pasti adalah semua orang pasti ingin bahagia dan ingin mendapatkan pasangan sebagai teman hidup. Namun, sebuah perbedaan baik agama, suku maupun ras dapat menjadi penghalang. Bukan itu saja, mindset atau cara pandang setiap orang yang berbeda dapat menjadi pemicunya. Sebagian orang, menilai calon pasangannya dari mindset terhadap sebuah hubungan. Bukan itu saja, akan dinilai pula mindset dalam menyikapi sebuah masalah, apakah calon pasangan memiliki cara yang sama dalam menyelesaikan masalah.
Dari mindset dapat dipatok dan memberikan sebuah jawaban, apakah pasangan tersebut berjodoh atau tidak. Tidak sampai di situ, faktor lain yang menjadi beban dan harus diperhatikan adalah kemungkinan besar pria maupun wanita tersebut memiliki masa lalu yang kelam. Dengan kata lain, ada trauma terhadap sebuah hubungan sehingga membuatnya putus asa dan tidak mau untuk menikah. Jika sudah begitu, maka pernikahan tidak bisa dipaksakan.
Belum Mendapatkan Pasangan yang Dimimpikan
Banyak orang sifatnya pemilih. Pada dasarnya memilih itu sah-sah saja karena pernikahan cukup sekali seumur hidup. Sangat wajar bila ada orang yang melihat calon pasangan tidak hanya cantik, tetapi punya pekerjaan yang setara dan sepadan serta juga memiliki agama dan suku yang sama.
Setiap orang punya sosok pasangan yang dimimpikan. Punya pasangan sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan sehingga jika kriteria itu tidak ada dalam diri calon pasangan maka tidak akan terjadi sebuah pernikahan. Karena itulah, pertanyaan kapan menikah menjadi sebuah beban. Mungkin dalam kehidupan beberapa suku bahwa pernikahan itu sesuatu yang "wajib" karena menikah adalah sebuah kebahagiaan. Namun, harus disadari bahwa pernikahan tidak bisa dipaksakan.
Kita harus percaya bahwa ada rencana indah dari Tuhan. Tentu saja akan ada sesuatu yang indah dan terduga akan Tuhan berikan. Setiap orang harus berdoa dan berusaha tanpa ada tekanan dan paksaan. Pertanyaan kapan menikah harus tidak menjadi sebuah kebiasaan tetapi harus mampu menghormati setiap pilihan hidup orang lain. Mungkin saja di lain waktu akan ketemu jodoh yang tepat dan sesuai dengan hati. Alangkah baiknya, setiap orang harus mau untuk menunggu meskipun waktunya lama.
Baca Juga
-
Dari Sampah Jadi Cuan: Mengintip Potensi UMKM Berbasis Ekonomi Hijau di Indonesia
-
Jalur Migrasi Terputus Akibat Kebun, Bencana Besar Mengintai Populasi Gajah Kita
-
Jerat "Child Grooming" Makin Berbahaya, Orang Tua Harus Menyelamatkan Anak
-
Bukan Cuma Perkara Cinta, Ini 3 Batasan Wajib agar Gaya Pacaran Tetap Sehat dan Positif
-
Waspada Manipulasi Asmara: Saat Perhatian Berlebih Berujung Bencana Mental
Artikel Terkait
-
4 Bulan Baik untuk Menikah Menurut Kalender Primbon Jawa
-
Capek Ditanya Kapan Nikah? Ini Alasan Main Aplikasi Kencan Malah Terasa Kayak Interview Kerja
-
Bikin Kaget Fans, Kim Yong Ji Nikahi Pria Jepang dan Nantikan Anak Pertama
-
7 Arti Mimpi Menikah dengan Orang Tidak Dikenal Menurut Islam dan Primbon Jawa
-
Sering Mimpi Hamil Padahal Belum Menikah? Ini Artinya Menurut Psikologi
Kolom
-
Gaji Pas-pasan Tapi Dituntut Mapan di Usia 25? Jangan Insecure, Pahami Rahasia Compounding Interest
-
Stop Anggap Remeh Kenakalan Anak! Tragedi Pemalang Bukti Sekolah Gagal Lindungi Siswa
-
Krisis Ekologi di Kali Code: Dari Limbah Antibiotik Hingga Ketimpangan Kota
-
Kebebasan Pers Jadi Sorotan, Kritik Seharusnya Tak Berujung Intimidasi
-
Krisis Air dan Udara Panas di Cimahi: Cerita dari Lapang Rumput yang Hilang
Terkini
-
What I Talk About When I Talk About Running: Pelajaran tentang Disiplin dan Ketekunan
-
350 Hari Streak, Masih Kaku Ngobrol Bahasa Inggris? Coba 5 Cara Ini
-
Buku Control Your Expectation: Mengelola Ekspektasi agar Hidup Lebih Tenang
-
Indonesia Masuk Nominasi Grassroots dari AFC, Bukti Majunya Pembinaan Lokal
-
Review Empat Musim Pertiwi: Saat Trauma, Horor, dan UFO Menyatu di Bromo