Narasi bahwa kuliah adalah scam akhir-akhir ini semakin menarik perhatian generasi muda. Salah satu figur yang kerap dikaitkan dengan pandangan ini adalah Timothy Ronald, seorang influencer yang aktif mendiskusikan masalah keuangan melalui kisah sukses pribadinya.
Pesan-pesan kuliah scam seperti yang selalu dibawakan oleh Timothy Ronald di dalam videonya menjadi mudah diterima di tengah realitas tingginya biaya pendidikan tinggi dan tantangan mendapatkan pekerjaan yang layak saat ini.
Keresahan yang dirasakan anak muda tersebut tentu sangat bisa dipahami. Banyak dari mereka yang telah menginvestasikan waktu dan biaya untuk kuliah dengan harapan bisa meraih masa depan yang lebih baik. Ketika ekspektasi tersebut belum sepenuhnya terwujud, fungsi pendidikan tinggi pun mulai dievaluasi.
Kendati demikian, melihat tantangan ini secara menyeluruh membantu kita menyadari bahwa persoalan lapangan kerja dan pendidikan sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar melabeli sistem sebagai sebuah penipuan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui tabel Pengangguran Terbuka per Agustus 2025, tercatat ada sekitar 904.440 penganggur dengan latar belakang pendidikan universitas. Angka ini memberikan gambaran bahwa ijazah sarjana memang tidak otomatis langsung mengantarkan seseorang pada sebuah pekerjaan.
Meskipun demikian, angka tersebut merupakan jumlah absolut dan bukan persentase total dari seluruh lulusan sarjana yang ada.
Data ini juga mengajak kita untuk melihat faktor-faktor pendukung lainnya secara lebih luas, seperti dinamika pasar kerja, keselarasan keterampilan dengan kebutuhan industri, mutu pendidikan, hingga ketersediaan lapangan kerja yang terus diupayakan untuk berkembang.
Pendidikan tinggi pada dasarnya memiliki fungsi yang melampaui urusan mencari pekerjaan semata. Proses belajar di kampus melatih mahasiswa untuk terbiasa membaca penelitian, menguji argumen, memahami metode ilmiah, hingga menulis dan menarik kesimpulan secara terstruktur berdasarkan bukti nyata.
Bagi mahasiswa humaniora, mempelajari bidang seperti sosiologi atau antropologi membuka peluang besar untuk memahami berbagai isu dari sudut pandang sejarah dan dinamika sosial.
Kemampuan berpikir kritis ini sangat membantu seseorang dalam menganalisis masalah secara lebih mendalam dan komprehensif, terutama didukung oleh kualitas pengajaran yang baik serta kesungguhan dalam proses belajar.
Kritik konstruktif terhadap perguruan tinggi tetap diperlukan untuk terus mendorong peningkatan mutu. Laporan OECD (2022) bertajuk Does Higher Education Teach Students to Think Critically? mencatat adanya ruang perbaikan terkait kesenjangan antara gelar formal dan penguasaan keterampilan generik, seperti literasi, penalaran analitis, serta komunikasi.
Temuan ini menjadi dasar evaluasi yang berharga agar kampus dapat lebih fokus memastikan mahasiswa benar-benar mengembangkan keahlian nyata selama masa studi, bukan sekadar menyelesaikan mata kuliah.
Di sisi lain, investasi pada pendidikan tinggi tetap menawarkan prospek yang menjanjikan. Dokumen OECD yang lain berjudul “Education at a Glance 2025” menunjukkan bahwa pekerja dengan latar belakang pendidikan tinggi memperoleh pendapatan rata-rata 54 persen lebih tinggi dibandingkan lulusan menengah atas secara internasional.
Meskipun angka global ini tidak bisa langsung disamakan dengan kondisi di Indonesia, data tersebut memperlihatkan bahwa manfaat ekonomi dari ijazah sarjana akan semakin optimal jika diselaraskan dengan karakteristik pekerjaan dan kebutuhan pasar kerja setempat.
Kuliah memang bukan tiket otomatis menuju kesuksesan finansial. Berbagai tantangan nyata seperti biaya yang besar, ketimpangan akses, serta perlunya keselarasan dengan dunia kerja adalah persoalan penting yang terus diupayakan solusinya.
Kendati demikian, kritik terhadap institusi sebaiknya tidak menyurutkan semangat belajar itu sendiri, sebab esensi perguruan tinggi terletak pada pengembangan pengetahuan, kompetensi, pengalaman, serta perluasan jejaring sosial.
Pada akhirnya, nilai sebuah pendidikan melampaui selembar ijazah. Fokus utama ke depan adalah bersama-sama membangun sistem pendidikan yang lebih terjangkau, relevan, dan adaptif.
Dengan begitu, perguruan tinggi dapat menjadi wadah yang optimal dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan nyata untuk menghadapi tantangan kehidupan yang sebenarnya.
Tag
Baca Juga
-
350 Hari Streak, Masih Kaku Ngobrol Bahasa Inggris? Coba 5 Cara Ini
-
Krisis Ekologi di Kali Code: Dari Limbah Antibiotik Hingga Ketimpangan Kota
-
OJK DIY Catat Belasan Ribu Laporan Scam, Kerugian Tembus Ratusan Miliar
-
Tingkatkan Literasi Pelajar, Permata Bank Gelar Edukasi di SMP Negeri 3 Ngaglik
-
PLTSa DIY Ubah Sampah Jadi Listrik, Solusi Masalah atau Beban Baru?
Artikel Terkait
Kolom
-
Berhenti Tanya Kapan Nikah! Menikah Bukan Perlombaan, tapi Soal Kesiapan Mindset dan Jodoh
-
Gaji Pas-pasan Tapi Dituntut Mapan di Usia 25? Jangan Insecure, Pahami Rahasia Compounding Interest
-
Stop Anggap Remeh Kenakalan Anak! Tragedi Pemalang Bukti Sekolah Gagal Lindungi Siswa
-
Krisis Ekologi di Kali Code: Dari Limbah Antibiotik Hingga Ketimpangan Kota
-
Kebebasan Pers Jadi Sorotan, Kritik Seharusnya Tak Berujung Intimidasi
Terkini
-
What I Talk About When I Talk About Running: Pelajaran tentang Disiplin dan Ketekunan
-
350 Hari Streak, Masih Kaku Ngobrol Bahasa Inggris? Coba 5 Cara Ini
-
Buku Control Your Expectation: Mengelola Ekspektasi agar Hidup Lebih Tenang
-
Indonesia Masuk Nominasi Grassroots dari AFC, Bukti Majunya Pembinaan Lokal
-
Review Empat Musim Pertiwi: Saat Trauma, Horor, dan UFO Menyatu di Bromo