Ketika langit dipenuhi asap, udara mengancam kesehatan, dan anak-anak harus berjuang menghirup udara bersih, tentu tidak masuk akal bila situasi masih disebut normal. Barangkali aktivitas ekonomi memang belum berhenti sepenuhnya. Jalanan masih ramai, toko masih buka, dan sebagian orang tetap berangkat bekerja. Namun, apakah kehidupan yang terus berjalan otomatis berarti masyarakat baik-baik saja?
Normal bukan berarti aman. Dan masyarakat yang terpaksa bertahan bukan berarti tidak sedang menderita. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar gangguan pemandangan atau persoalan lingkungan yang bisa diselesaikan dengan imbauan agar warga memakai masker.
Asap membawa partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. Paparan polusi ini meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa anak-anak sangat rentan terhadap dampak asap kebakaran karena paru-paru, sistem kekebalan tubuh, dan fungsi kognitif mereka masih berkembang. UNICEF juga memperingatkan bahwa paparan asap dapat menimbulkan dampak kesehatan yang berlangsung lama serta mengganggu kesempatan anak untuk belajar dan bermain. Jadi, ini bukan sekadar persoalan udara yang terasa pengap. Ini menyangkut kualitas hidup dan masa depan generasi berikutnya.
Dampak asap tidak berhenti ketika seseorang selesai batuk atau kembali masuk kelas. Paparan polusi udara dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan dan fungsi otak. Sejumlah penelitian mengenai polusi udara dan perkembangan anak menemukan hubungan dengan berbagai hasil kognitif dan neurologis yang merugikan. Justru karena risikonya nyata dan dampak jangka panjangnya masih terus diteliti, pencegahan seharusnya menjadi prioritas. Negara tidak perlu menunggu penelitian menyimpulkan seluruh akibatnya secara sempurna untuk mengambil langkah perlindungan.
Bayangkan anak yang harus belajar di tengah udara tercemar. Konsentrasinya terganggu, aktivitas luar ruang dibatasi, dan keluarganya harus memikirkan biaya kesehatan serta keselamatan sehari-hari. Sementara itu, anak-anak dari wilayah yang udaranya bersih dapat belajar dalam kondisi yang lebih layak.
Ketimpangan seperti ini tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi biasa dari musim kemarau. Anak tidak memilih tempat tinggalnya, tidak menyalakan api yang membakar hutan, dan tidak memiliki kuasa untuk memperbaiki kebijakan lingkungan. Namun, mereka bisa menjadi pihak yang paling lama menanggung akibatnya.
Pesawat saja mempertimbangkan keselamatan
Ketika jarak pandang memburuk atau kondisi udara mengganggu keselamatan penerbangan, penerbangan dapat ditunda atau dibatalkan. Tentu, keputusan penerbangan memiliki standar teknis tersendiri dan tidak bisa disamakan begitu saja dengan kondisi manusia di permukaan. Namun, prinsip dasarnya jelas: ketika risiko meningkat, keselamatan tidak boleh dikalahkan oleh keinginan untuk berpura-pura bahwa semuanya berjalan biasa.
Manusia pun membutuhkan perlindungan dari udara berbahaya. Karena itu, pemerintah daerah harus menggunakan data kualitas udara untuk menentukan langkah yang proporsional, termasuk penyesuaian kegiatan sekolah, penyediaan ruang aman, distribusi masker yang sesuai, layanan kesehatan, dan penyampaian informasi risiko secara terbuka.
Pemerintah pusat juga harus memastikan penanganan kebakaran tidak berhenti pada pengerahan personel dan pemadaman. Penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, pengawasan konsesi, pemulihan lahan gambut, serta pencegahan kebakaran berulang merupakan bagian penting dari penyelesaian masalah.
Kepemimpinan bukan seni menyangkal kenyataan
Di tengah bencana, masyarakat tidak membutuhkan pejabat yang paling pandai merangkai kalimat penenang. Mereka membutuhkan pejabat yang berani mengakui masalah, menjelaskan tingkat bahayanya, dan menyampaikan tindakan konkret yang dapat diperiksa publik.
Menyebut keadaan normal ketika risiko belum tertangani bukanlah bentuk optimisme. Jika pernyataan itu mengabaikan data dan pengalaman warga, ia justru berpotensi membuat masyarakat meremehkan bahaya. Pemimpin yang bertanggung jawab tidak harus menguasai semua jawaban.
Namun, ia harus bersedia mendengarkan ilmuwan, tenaga kesehatan, guru, pemerintah daerah, dan warga yang terdampak. Kritik bukan ancaman bagi kepemimpinan; kritik adalah salah satu cara untuk mengetahui apakah kebijakan benar-benar melindungi masyarakat.
Kebakaran hutan mungkin dipengaruhi kemarau dan kondisi iklim. Tetapi besarnya dampak juga berkaitan dengan kesiapan, tata kelola lahan, pengawasan, dan kecepatan respons. Faktor alam tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari pertanggungjawaban atas hal-hal yang sebenarnya dapat dicegah.
Jangan sampai kita baru mengakui besarnya bencana setelah anak-anak jatuh sakit, sekolah terpaksa berhenti, dan kerusakan kesehatan menjadi sulit dipulihkan. Asap akan menghilang ketika api padam dan kondisi berubah. Namun, sebagian dampaknya mungkin bertahan jauh lebih lama. Dan jika negara gagal melindungi anak-anak hari ini, generasi mendatanglah yang akan membayar harga dari kelalaian yang seharusnya bisa dicegah.
Baca Juga
-
Rp2,7 Miliar KIP Kuliah Salah Salur ke Mahasiswa Meninggal, Kok Bisa Lolos?
-
Membangun Bangsa vs Bank: Kritik atas Pembangunan yang Terobsesi Angka
-
Terjebak di Tengah Masa Lalu yang Belum Usai dalam Novel Cincin Kedua
-
Tak Cuma Berpikir Positif, Pentingnya Mengamati Pola Hidup di Buku 59 Detik
-
Jangan Tunggu Ditegur Negara Tetangga: Karhutla Butuh Keseriusan Pemerintah
Artikel Terkait
Kolom
-
Ironi The Perfect Victim: Mengapa Korban Harus Sempurna untuk Layak Dibela?
-
Rp2,7 Miliar KIP Kuliah Salah Salur ke Mahasiswa Meninggal, Kok Bisa Lolos?
-
Literasi AI untuk Orang Tua: Mencegah Jejak Digital Anak Jadi Bumerang di Masa Depan
-
Membangun Bangsa vs Bank: Kritik atas Pembangunan yang Terobsesi Angka
-
Ironi Kaderisasi Kampus: Aturan PKKMB Diterabas dan Senioritas Berkuasa
Terkini
-
Direstui oleh John Herdman, Taisei Marukawa Segera Bela Timnas Indonesia
-
Agnez Mo Bintangi Film Hollywood C.L.A.Y. Bareng Nicolas Cage
-
Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga: Buku Sempurnakan Akhlak dengan Adab
-
Review Serial #Love: Perpaduan Manis Drama Komedi dan Isu Asmara Digital
-
Ulasan Novelis as a Vocation: Mengurai Sistem Kerja Menulis ala Haruki Murakami