M. Reza Sulaiman | Sukatman Sukatman
Ilustrasi perajin batik sedang menggoreskan canting pada kain. (Foto: Pexels/Yazid N)
Sukatman Sukatman

Pujian Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, terhadap corak batik Indonesia di Jakarta baru-baru ini menyedot perhatian publik. Guterres menyebut batik—yang lahir dari perjumpaan budaya Arab, China, Persia, hingga Eropa—memberikan pelajaran berharga bagi multilateralisme dunia.

Di saat sebagian besar media asyik merayakan sanjungan tersebut sebagai bentuk komplasensi diplomasi budaya, kita perlu bersikap kritis. Jangan-jangan, apresiasi PBB ini bukan sekadar puji-pujian kosmetik, melainkan sindiran halus atas kerapuhan tata kelola dunia saat ini?

Mengapa Multilateralisme Global Sering Gagal?

Mari kita jujur: lembaga-lembaga multilateral hari ini sedang berada di titik nadir. Konflik geopolitik tak kunjung usai, veto berulang kali melumpuhkan resolusi perdamaian, dan ketimpangan ekonomi makin tajam.

Penyebab utamanya? Diplomasi modern kerap memaksakan kesepakatan serba cepat (instant compromise). Para diplomat dipaksa menghasilkan konsensus dalam hitungan hari lewat pemungutan suara biner (setuju atau tidak setuju). Model penyeragaman instan ini mengabaikan detail, sensitivitas lokal, dan dinamika sejarah tiap negara. Akibatnya, kesepakatan yang dihasilkan kerap kali rapuh dan mudah patah di lapangan.

Di sinilah letak kekeliruan kita jika hanya menganggap batik sebagai selembar kain indah. Kita lupa bahwa kekuatan utama batik tidak terletak pada tampilan akhirnya semata, melainkan pada filosofi proses pembuatannya.

Menjajal Kerangka Kerja 'Batik-Style Diplomacy'

Jika PBB mau belajar dari batik, maka pola negosiasi internasional harus ditransformasikan secara menyeluruh. Proses pembuatan batik tulis melibatkan tahap-tahap yang membutuhkan ketelitian ekstra: perancangan pola, penutupan lilin (malam), pencelupan warna bertahap, hingga pelorotan. Tak ada rute pintas.

Kerangka kerja "Batik-style Diplomacy" menawarkan dua prinsip mendasar bagi meja perundingan dunia:

  1. Konsensus Bertahap (Gradual Consensus): Negosiasi konflik tidak boleh dipaksa selesai dengan logika "menang-kalah" atau resolusi kilat. Diplomasi butuh fase pacing—proses pencelupan warna demi warna secara sabar. Kesepakatan dibangun dari titik-titik kecil yang disetujui bersama, bukan paksaan deklarasi besar di awal.
  2. Penerimaan atas Contradictory Harmony: Dalam selembar batik tulis, tidak ada dua garis yang 100% identik. Ada jejak goresan canting yang berbeda, tetapi justru keterbatasan dan inkonsistensi minor itulah yang melahirkan keutuhan motif yang indah. PBB harus belajar menerima perbedaan sistem politik dan aspirasi tiap negara tanpa harus memaksakan penyeragaman nilai secara sepihak.

Mendorong Diplomasi Indonesia Lebih Bertaji

Sudah saatnya Kementerian Luar Negeri RI tidak hanya bangga memamerkan kain batik dalam photo-op atau suvenir diplomatik. Indonesia memiliki modal historis dan moral untuk merumuskan doktrin perundingan baru. Mengapa tidak menerjemahkan filosofi batik ini menjadi concept paper resmi diplomasi perdamaian di Sidang Majelis Umum PBB?

Sanjungan Sekjen PBB telah memberi kita panggung. Pertanyaannya kini kembali ke kita: apakah batik akan terus berhenti sebagai kostum formal di ruang sidang internasional, atau berani kita jadikan cetak biru baru demi menyelamatkan perdamaian dunia yang makin tercabik?