Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Seorang admin misterius yang mengenakan topeng Guy Fawkes dan sweter bertudung hitam tampak fokus menatap layar komputer. (Pexels/Tima Miroshnichenko)
Fairus Farizki

Akun menfess kini sudah menjadi bagian erat dari kehidupan mahasiswa. Lewat platform anonim ini, mereka bisa dengan mudah mencari informasi kos, bertanya soal tugas, mengirim pesan cinta, hingga berbagi cerita dan keluhan seputar kampus.

Cara kerjanya pun sederhana. Pengirim cukup mengirimkan pesan ke admin untuk diunggah secara anonim agar bisa dibaca banyak orang. Beberapa akun bahkan menyediakan fitur berbayar untuk kebutuhan khusus. Alhasil, menfess berfungsi layaknya papan pengumuman digital yang efektif menampung berbagai suara mahasiswa.

Kehadiran ruang ini sangat membantu, terutama bagi mereka yang kurang nyaman berbicara terbuka. Menfess menjadi solusi aman untuk menyampaikan keresahan atau menjangkau pihak kampus tanpa harus khawatir dihakimi atau menjadi bahan pembicaraan.

Penelitian Maya Ristining Tyas dari Ilmu Komunikasi UGM (2021) menunjukkan bahwa anonimitas di media sosial justru bisa membangun solidaritas. Melalui studi netnografi pada akun @collegemenfess di Twitter, riset ini menemukan bahwa banyak mahasiswa memilih mengirim pesan anonim karena butuh bantuan tetapi malu jika identitasnya ketahuan. Menariknya, pengguna lain tetap bersedia membantu meski tidak mengenal identitas asli pengirim.

Hasilnya, ruang anonim ini sukses menjadi wadah saling dukung. Mahasiswa yang kesulitan mengadu ke pihak kampus bisa dengan mudah mendapatkan bantuan dari sesama pengguna. Masalah yang awalnya bersifat pribadi pun akhirnya bisa mendapat perhatian dan solusi dari lingkaran yang lebih luas.

Di balik kemudahannya, menfess juga punya tantangan tersendiri. Ketika platform ini dipakai untuk menyindir, urusan pribadi bisa seketika menjadi konsumsi publik. Akibatnya, orang-orang yang tidak tahu duduk perkaranya ikut membaca dan menilai berdasarkan informasi yang terbatas.

Saya sendiri pernah mengalami situasi ini. Saat melakukan kesalahan yang waktu itu belum saya pahami, seseorang ternyata menyindir saya lewat menfess. Pengalaman tersebut menyadarkan saya bahwa membawa masalah ke ruang publik tidak serta-merta menyelesaikannya.

Padahal, jika dibicarakan langsung secara baik-baik, kesalahpahaman justru lebih mudah diluruskan. Kita bisa saling memahami, meminta maaf, dan memperbaiki hubungan. Sebaliknya, ketika masalah langsung dibawa ke media sosial, respons publik menjadi sulit diprediksi dan konflik yang awalnya kecil justru berpotensi melebar ke mana-mana.

Risiko ini memang perlu menjadi perhatian bersama. Penelitian M. Rizki Septian dari Psikologi UGM (2023) terhadap 219 mahasiswa menemukan bahwa anonimitas berkontribusi sebesar 17 persen terhadap tindakan perundungan siber di media sosial. Angka ini tentu bukan berarti semua pengguna anonim melakukan perundungan, atau bahwa semua akun menfess itu berbahaya.

Oleh karena itu, solusi yang tepat bukan berarti kita mesti menghapus fitur anonimitas ini. Bagaimanapun, identitas yang dirahasiakan tetap sangat membantu korban intimidasi atau pelecehan untuk berani mencari dukungan. Fokus utamanya adalah bagaimana kita bisa lebih bijak menggunakan ruang tersebut, tanpa menjadikannya sarana untuk menyerang orang lain.

Di sinilah peran penting admin dalam mengelola ruang publik digital. Dengan menyaring konten berbahaya seperti ancaman, doxing, dan perundungan, serta menyediakan menu pengaduan yang jelas, admin bisa mencegah penyalahgunaan platform. Di sisi lain, pengguna juga perlu sadar bahwa kebebasan berekspresi tetap memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, kebebasan berbicara dan mengkritik dalam ruang demokrasi harus selalu beriringan dengan tanggung jawab. Akun menfess bisa menjadi wadah solidaritas yang sangat membantu, namun bisa juga memperlebar konflik jika sindiran menggeser peran dialog. Ruang digital yang sehat adalah ruang aman yang memungkinkan masalah diselesaikan tanpa harus menjatuhkan orang lain di depan publik.