Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kalian saat akan pergi ke tempat menarik untuk berfoto?
Yap, bagi sebagian orang, outfit bisa menjadi salah satu hal yang langsung dipikirkan. Sebelum memikirkan berbagai persiapan lainnya, terkadang pertanyaan pertama yang muncul justru, “Pakai baju apa?”
Padahal, jika lemari dibuka, kita bisa melihat tumpukan pakaian yang memenuhi ruang di dalamnya. Jadi, masalahnya bukan selalu karena tidak punya baju sama sekali, melainkan karena outfit yang tersedia terasa sudah pernah dipakai untuk berfoto dan diunggah ke media sosial. Sementara itu, pakaian lainnya dianggap kurang menarik untuk dijadikan konten, meskipun banyak di antaranya masih bagus dan layak digunakan.
Namun, mengapa outfit yang sudah ada di lemari tak lagi terasa menarik?
Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan hal tersebut. Setiap orang tentu memiliki alasan berbeda. Sebagian mungkin khawatir dianggap memakai baju yang itu-itu saja. Sebagian lainnya terbiasa melihat konten orang lain yang selalu menampilkan penampilan berbeda atau ingin memberikan kesan baru kepada pengikut media sosial di setiap unggahan. Pada intinya, output dari beberapa alasan itu adalah adanya dorongan untuk selalu bisa tampil dengan outfit berbeda di setiap konten yang diunggah di media sosial.
Persoalan ini semakin menarik untuk kita bahas, karena keinginan dan dorongan tersebut jika terus-menerus dipenuhi, maka akan berubah menjadi kebiasaan belanja. Ketika koleksi pakaian yang ada terasa tidak cukup atau kurang menarik untuk menghasilkan konten baru, membeli baju bisa menjadi solusi yang terus berulang. Ironisnya, pembelian itu dilakukan bukan lagi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan berpakaian, tetapi juga demi menghadirkan penampilan berbeda di media sosial.
Saya mengerti semua orang berhak untuk melakukan hal tersebut. Tak ada salahnya juga berekspresi melalui unggahan dengan penampilan berbeda di media sosial. Namun, melalui tulisan ini, saya ingin kita mencoba untuk merenungkan dampaknya bersama. Sebab ketika hal itu sudah berubah menjadi kebiasaan berbelanja, pengeluaran bisa terus bertambah untuk membeli outfit-outfit baru yang belum tentu dipakai dalam waktu lama. Sementara itu, semakin banyak pakaian baru yang kita miliki, pakaian lama akan semakin jarang dipakai atau bahkan hanya menjadi tumpukan yang memenuhi lemari.
Awalnya, membeli baju baru untuk membuat konten mungkin terasa menyenangkan. Selain memenuhi kebutuhan berpakaian, fashion juga bisa menjadi sarana berekspresi. Namun, situasinya bisa berbeda ketika seseorang mulai merasa harus mengenakan outfit yang belum pernah diunggah setiap kali ingin membagikan foto baru. Akibatnya, pakaian yang sebenarnya masih bagus dan layak digunakan kembali terasa kurang menarik hanya karena sudah pernah muncul di Instagram. Bahkan, keinginan pergi ke tempat menarik untuk berfoto pun bisa berujung pada keputusan membeli baju baru, meskipun koleksi pakaian di rumah sebenarnya masih mencukupi.
Jika kita tarik kembali ke topik utama, maka yang jadi pertanyaan adalah kalau seseorang ingin menghadirkan penampilan berbeda di media sosial, apakah harus selalu dengan outfit yang benar-benar baru?
Saya rasa, tidak ada keharusan untuk selalu mengenakan pakaian baru demi menghadirkan penampilan berbeda di media sosial. Ada beberapa alternatif yang bisa dicoba tanpa harus mengeluarkan uang tambahan. Misalnya, memadupadankan kembali pakaian lama dengan kombinasi yang berbeda, menambahkan aksesori seperti belt, syal, atau bros yang sudah dimiliki, maupun mencoba gaya berpakaian yang berbeda dari biasanya. Dengan begitu, kita tetap bisa bereksplorasi melalui fashion tanpa harus selalu membeli sesuatu yang baru.
Tak masalah jika sesekali ingin membeli pakaian untuk menunjang penampilan. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa setiap foto baru tidak selalu membutuhkan outfit yang berbeda. Sebab, yang membuat sebuah unggahan menarik bukan semata-mata pakaian yang belum pernah kita kenakan, melainkan bagaimana kita bisa menikmati momen dan mengekspresikan diri dengan apa yang sudah kita miliki.
Baca Juga
-
Review Once We Were Us: Saat Masa Depan Membawa Cinta ke Arah yang Berbeda
-
Lagu 'Coba Lagi' Jadi Pengingat bagi Kita yang Hampir Menyerah pada Hidup
-
The First Ride: Perjalanan Kacau yang Menyimpan Pesan tentang Persahabatan
-
Take Charge of My Heart: Romcom Sederhana yang Menghangatkan Hati
-
Antrean Kuliner hingga Produk Viral, Kenapa Kita Ikut Tertarik Mencoba?
Artikel Terkait
-
Dari Curhat hingga Sindiran: Menelaah Sisi Gelap Akun Menfess Kampus
-
Upaya Sensor Konten Karhutla Demi Citra, Guru Besar UII Sebut Tindakan Bodoh dan Kontraproduktif
-
Tips Bikin Konten AI di Medsos Biar Lebih Bijak
-
Okky Madasari Sentil Influencer: Jangan Sampai Opinion Leaders Jadi Opinion Dealers
-
4 Ide OOTD Casual Chic ala Kim Young Kwang, Cocok buat Cowok Anti-Ribet
Kolom
-
Perempuan dan Hak Bersuara: Memaknai Kebebasan Berekspresi di Era Modern
-
Mengapa Kekayaan Alam Tak Cukup untuk Membawa Indonesia Berlayar Mandiri?
-
Hutan Terbakar, Korporasi Harus Diusut, Pemerintah Jangan Berkelit
-
Urgensi Tata Kelola Energi: Mengurai Akar Masalah Kelangkaan BBM yang Lumpuhkan Bali
-
Membongkar Greenwashing: Saat Label Ramah Lingkungan Cuma Jadi Gimik Jualan
Terkini
-
Cegah Iritasi! 4 Low pH Cleanser Buat Remaja untuk Perkuat Skin Barrier
-
Kisah Nyata! Polisi Melawan Kecanduan Opioid Putrinya di Film Clean Hands
-
5 Rekomendasi Sheet Mask Affordable untuk Kulit Cerah dan Tenang
-
Sinopsis The Lament of Autumn, Taruhan Berubah Jadi Cinta Selama 10 Hari
-
Jujukan Bromo: Persinggahan Tak Terduga dengan View Elok dan Ramah Kantong