Sekar Anindyah Lamase | e. kusuma .n
Ilustrasi perempuan muda (Pexels/Blue Bird)
e. kusuma .n

Bagi seorang perempuan, menginjak usia dewasa sering kali terasa seperti berdiri di atas panggung interogasi yang tidak pernah selesai. Dalam setiap kumpul keluarga, reuni, atau bahkan sekadar obrolan santai, ruang privat selalu diusik oleh pertanyaan bernada tuntutan.

Perempuan yang memilih fokus mengejar beasiswa S2 akan disindir, "Nanti sekolah tinggi-tinggi, cowok pada takut lho." Perempuan yang memilih naik tangga korporat dan berkarier dituding egois dan melupakan kodrat.

Bahkan saat perempuan memutuskan menikah muda setelah lulus sarjana juga masih saja dicibir, "Sayang banget ijazahnya cuma jadi pajangan di dapur." Setiap pilihan yang diambil perempuan seolah selalu ada celah kesalahan.

Di titik ini, pertanyaan sederhana yang sempat dipendam lama kembali terlintas: mengapa di era yang katanya sudah maju ini, setiap jengkal pilihan hidup perempuan selalu dipertanyakan dan dihakimi?

Standar Ganda yang Melekat pada Tubuh Perempuan

Akar dari interogasi pilihan perempuan yang masih terus terjadi tidak lepas dari masih kuatnya standar ganda dalam masyarakat. Sejak kecil, perempuan memang dididik untuk bisa mandiri dan berpendidikan tinggi.

Namun, saat benar-benar mempraktikkan kemandirian tersebut, struktur sosial kita mendadak panik. Ada ketakutan bawah sadar bahwa perempuan yang terlalu berdaya tidak akan bisa "dikendalikan" dalam sistem patriarki konvensional.

Coba bandingkan dengan laki-laki. Ketika aki-laki berusia 25 tahun memilih menunda pernikahan demi melanjutkan studi atau membangun bisnis, masyarakat akan memujinya sebagai sosok visioner dan bertanggung jawab.

Sebaliknya, jika perempuan melakukan hal yang persis sama, dia akan dicap sebagai sosok yang terlalu pemilih, ambisius, atau mengabaikan "jam biologisnya". Standar ganda ini masih melekat dalam tubuh perempuan meski zaman sudah modern.

Mitos "Sukses Sempurna" dan Penjara Ekspektasi

Perempuan hari ini juga terjebak dalam mitos “super woman”—sebuah ekspektasi tidak realistis yang menuntut perempuan untuk bisa sukses di segala bidang secara bersamaan tanpa cela.

Diharapkan berpendidikan tinggi agar bisa mendidik anak dengan cerdas, memiliki karier mapan untuk membantu ekonomi keluarga, sekaligus menjadi ibu rumah tangga sempurna yang selalu ada di dapur.

Ketika perempuan tidak bisa—atau memilih untuk tidak—memenuhi salah satu pilar tersebut, masyarakat langsung melabelinya sebagai sosok gagal. Narasi ini tentu saja sangat melelahkan secara psikologis.

Padahal, memilih untuk memprioritaskan satu hal—apakah itu tesis, target penjualan kantor, atau mengurus tumbuh kembang anak—adalah hal logis. Mempertanyakan pilihan tersebut sama saja menolak melihat perempuan sebagai manusia utuh yang memiliki batas lelah.

Komodifikasi Pilihan di Era Digital

Ironisnya, tekanan ini makin diperparah oleh ruang digital. Media sosial yang seharusnya menjadi wadah saling mendukung, kini sering berubah menjadi arena kompetisi gaya hidup yang memunculkan kubu-kubu digital saling melempar sindiran halus.

Ada konten yang mengagungkan “independent woman” dengan estetika kantor mewah, yang secara tidak langsung merendahkan perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Di sisi lain, ada konten yang meromantisasi pengorbanan domestik penuh waktu, yang memicu mom guilt.

Konsumerisme digital memanfaatkan celah rasa tidak aman ini. Perempuan terus-menerus disuguhi narasi bahwa mereka kurang cukup. Padahal, setiap ruang memiliki tingkat kesulitan dan kehormatannya masing-masing. Tidak ada satu pilihan yang lebih mulia dari pilihan lainnya.

Merebut Kembali Hak untuk Menentukan Jalan

Menikah, berkarier, atau melanjutkan pendidikan bukanlah lembar ujian dengan satu jawaban benar. Ketiganya adalah pilihan sah yang nilainya ditentukan oleh kenyamanan dan kesiapan individu yang menjalaninya, bukan oleh komentar kerabat apalagi netizen.

Masyarakat perlu berhenti memperlakukan hidup perempuan seperti sebuah checklist yang harus diselesaikan dalam lini masa yang seragam. Sudah saatnya kita membangun lingkungan yang memberikan rasa aman bagi perempuan untuk melangkah ke mana pun mereka mau.

Bagi para perempuan, langkah terbesar untuk melawan interogasi ini adalah dengan bersikap abai secara anggun. Ingatlah bahwa satu-satunya orang yang memegang kendali penuh atas kebahagiaan dan masa depan adalah diri kita sendiri, bukan ekspektasi orang lain.