Bagi sebagian orang, makan di restoran adalah bagian dari gaya hidup. Namun, bagi sebagian lainnya, hal itu justru bisa dianggap sebagai bentuk pemborosan atau gaya hidup yang tidak tahu diri. Makanan yang sama bisa mendapat penilaian berbeda hanya karena orang yang membelinya berasal dari kelas ekonomi yang berbeda.
Standar ganda ini juga terlihat dalam cara kita memandang keinginan untuk hidup lebih nyaman. Bagi mereka yang berkecukupan, mengonsumsi makanan sehat, tinggal di tempat yang nyaman, atau sesekali berlibur dianggap sebagai cara menikmati hasil kerja keras.
Sebaliknya, ketika orang berpenghasilan pas-pasan menginginkan hal serupa, mereka justru bisa dicap boros, terlalu mengikuti gengsi, atau kurang pandai bersyukur.
Padahal, kita tentu tidak asing dengan nasihat, “Bersyukur, kita masih bisa makan.” Rasa syukur memang penting, tetapi bukan berarti keinginan untuk hidup lebih baik harus berhenti sampai di situ.
Sebab, hidup yang layak bukan sekadar tentang mengisi perut, tapi juga tentang mendapatkan makanan bergizi, tempat tinggal yang nyaman, dan kesempatan menikmati hidup tanpa terus-menerus dibayangi kekhawatiran soal uang.
Miskin Bukan Berarti Harus Puas dengan Keadaan
Ada semacam tuntutan tak tertulis bahwa orang miskin harus tahu batas. Jangan banyak mengeluh, jangan terlalu banyak keinginan, dan jangan berharap hidup terlalu nyaman. Seolah-olah, kondisi ekonomi bukan cuma menentukan apa yang bisa mereka beli, tetapi juga seberapa jauh mereka boleh menginginkan sesuatu.
Masalahnya, tuntutan semacam ini sering kali luput mempertanyakan mengapa seseorang berada dalam keterbatasan. Kita lebih cepat menasihati orang untuk mengencangkan ikat pinggang daripada membicarakan upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup. Kita sibuk mengoreksi cara mereka membelanjakan uang, tetapi jarang mempertanyakan mengapa uang yang mereka miliki tidak pernah cukup.
Padahal, hidup pas-pasan bukan berarti seseorang kehilangan hak untuk punya keinginan. Yang keliru bukan ketika orang miskin menginginkan lebih, melainkan ketika kita menganggap mereka seharusnya tidak menginginkan lebih. Seolah-olah, tugas mereka bukan memperbaiki keadaan, melainkan belajar menerima keterbatasan sebagai nasib yang tidak perlu dipertanyakan.
Kata "Bersyukur" Bisa Jadi Cara Membungkam Kritik
Kita sering menggunakan rasa syukur sebagai jawaban untuk berbagai masalah. Ketika seseorang mengeluhkan penghasilan yang tidak cukup, ia diminta bersyukur masih punya pekerjaan. Ketika masyarakat mempersoalkan layanan publik, mereka diingatkan bahwa masih banyak orang yang tidak mendapatkan bantuan sama sekali.
Padahal, membandingkan kesulitan seseorang dengan kesulitan orang lain tidak serta-merta membuat keadaan menjadi lebih baik. Bahwa masih ada orang yang lebih menderita bukan berarti masalah yang kita hadapi tidak penting. Logika semacam ini justru membuat standar kehidupan yang layak terus diturunkan.
Jangan sampai kata "bersyukur" lebih sering dipakai untuk menenangkan orang yang kesulitan daripada mendorong perubahan atas kesulitan itu sendiri. Masyarakat tidak bisa terus diminta berdamai dengan keadaan jika keadaan yang sama justru membuat mereka sulit keluar dari kemiskinan.
Orang Kaya Boleh Ambisius, Masa Orang Miskin Harus Realistis?
Ketika orang kaya ingin memperluas bisnis, membeli properti, atau mengejar peluang baru, kita cenderung melihatnya sebagai sosok yang visioner. Namun, saat orang berpenghasilan pas-pasan ingin mencoba hal serupa, saya yakin tidak sedikit yang akan mencibur.
Di sinilah standar gandanya terlihat. Keinginan orang yang sudah memiliki modal dianggap sebagai investasi masa depan, sementara keinginan orang yang belum mapan mudah dicurigai sebagai gengsi.
Ironisnya, orang kaya sering diberi ruang untuk mengejar kemungkinan, sedangkan orang miskin terus diingatkan pada keterbatasan. Akibatnya, ketimpangan bukan hanya terlihat dari perbedaan jumlah uang, tetapi juga dari perbedaan kebebasan untuk membayangkan masa depan. Padahal, kemiskinan seharusnya menjadi alasan untuk memperluas kesempatan seseorang, bukan alasan untuk mempersempit mimpinya.
Baca Juga
-
The Spies Who Loved Me: Uniknya Kisah Cinta di Balik Operasi Intelijen
-
Ironi Ruang Publik: Spanduk Protes Ditertibkan, Bendera Partai Dibiarkan
-
Ulasan A Piece of Your Mind: Merawat Ingatan, Berdamai dengan Kehilangan
-
Ironi The Perfect Victim: Mengapa Korban Harus Sempurna untuk Layak Dibela?
-
The Ordinary Jackpot: Apa yang Berubah saat Karyawan Biasa Menang Lotre?
Artikel Terkait
Kolom
-
Di Balik Aksi Greenpeace: Sigap Copot Spanduk, Lambat Tangani Karhutla
-
DPR Usulkan UU Anti Bullying: Apakah UU Khusus Bisa Jadi Jawaban Tepat?
-
Menikah, Karier, Lanjut Studi: Saat Pilihan Perempuan Selalu Dipertanyakan
-
Rela Antre Berjam-jam di Tempat Viral: Ketika FOMO Mengalahkan Logika
-
Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit: Skema Busuk Legalisasi Perusakan Alam
Terkini
-
Keruntuhan Wibawa Mataram di Perlawanan Penguasa Madura Atas Hegemoni Jawa
-
Resmi Debut! Seventeen JxJ Naksir Sosok Misterius di Lagu 12 o'clock
-
Love, Death & Robots Volume 1: Eksperimen Animasi Dewasa yang Sangat Liar!
-
Lebih Higienis, Bebas Kuman! 5 Pelembap Kemasan Tube untuk Kulit Berjerawat
-
Ulasan Love Between Lines: Ketika Asmara Menembus Batas Fiksi dan Realita