Fenomena cerita buatan AI yang makin marak di Threads terasa relate dan penuh pesan kehidupan. Namun, semakin banyak konten sejenis ini justru membuat pengguna media sosial, terutama warga Threads sulit percaya pada sebuah cerita.
Pernah membaca sebuah cerita di Threads yang terasa begitu dekat dengan kehidupan sendiri? Ceritanya bisa tentang percintaan, hubungan keluarga, sampai pengalaman sederhana seperti bertemu orang asing yang kemudian memberi pelajaran hidup.
Bahasanya mengalir. Konfliknya terasa nyata. Ending-nya bahkan sering membuat kita berhenti scrolling sebentar. Kita mungkin berpikir, “Wah, ternyata masih ada orang yang mengalami hal seperti ini.”
Namun beberapa saat kemudian muncul pertanyaan lain. “Ini cerita beneran atau dibuat AI, ya?” Kita tidak lagi fokus pada pesan cerita dan merenungkannya. Justru perlahan semakin curiga saking rapinya cerita yang disuguhkan.
Inilah fenomena menarik yang belakangan terasa semakin dekat dengan kehidupan pengguna media sosial. Cerita yang dibuat atau dibantu AI bisa terasa sangat relate, tapi pada saat yang sama justru menciptakan trust issue baru.
Cerita AI yang Terasa Sangat Manusiawi
Salah satu kekuatan AI adalah kemampuannya menghasilkan tulisan yang terdengar natural. AI bisa membuat cerita dengan konflik sederhana, dialog emosional, karakter yang terasa dekat, bahkan menyisipkan pesan moral di epilog.
Format seperti ini sebenarnya sangat cocok dengan karakter media sosial. Cerita pendek mudah dibaca, mudah dibagikan, dan ketika menyentuh pengalaman banyak orang, responsnya bisa datang dengan cepat.
Masalahnya, semakin bagus sebuah cerita dibuat, semakin sulit pula pembaca mengetahui apakah cerita tersebut benar-benar berasal dari pengalaman seseorang. Di sinilah persoalannya mulai menarik.
Ketika “Relate” Tidak Lagi Berarti “Nyata”
Dulu, saat membaca cerita personal di media sosial, kita mungkin cenderung menganggapnya sebagai pengalaman nyata seseorang. Sekarang situasinya berbeda ketika AI semakin sering digunakan untuk membuat konten.
Pembaca mulai memiliki refleks baru: curiga terlebih dahulu. Cerita tentang perjuangan hidup bisa saja benar-benar terjadi. Namun, bisa juga merupakan cerita fiksi yang dibuat untuk mendapatkan engagement.
Bahkan ada kemungkinan pengalaman nyata ditulis ulang dengan bantuan AI hingga gaya bahasanya menjadi jauh lebih dramatis. Pembaca jadi mudah terbawa dalam alur cerita yang disuguhkan sekaligus mencurigai kebenarannya.
Akibatnya, pembaca menghadapi persoalan baru: bukan hanya membedakan informasi benar dan salah, tapi juga membedakan pengalaman manusia dan cerita yang dibuat untuk terlihat seperti pengalaman manusia.
Pesan Kehidupan yang Bagus, Tapi Apakah Konteksnya Nyata?
Menariknya, cerita AI tidak selalu berarti tidak memiliki nilai. Sebuah cerita fiksi tetap bisa mengajarkan empati, mengingatkan kita untuk menghargai orang lain, atau membuat seseorang melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.
Masalahnya muncul ketika cerita fiksi dipresentasikan seolah-olah merupakan kejadian nyata tanpa penjelasan. Pembaca akhirnya memberikan respons berdasarkan asumsi bahwa cerita tersebut benar-benar terjadi.
Kalau kemudian diketahui cerita itu dibuat AI, yang hilang bukan hanya kepercayaan terhadap satu unggahan, tapi bisa merembet menjadi ketidakpercayaan terhadap cerita personal lainnya yang bisa saja benar-benar nyata.
Threads dan Krisis Kepercayaan Baru
Threads memang menjadi salah satu ruang bagi orang untuk berbagi cerita, pemikiran, dan pengalaman sehari-hari. Namun, semakin banyak konten yang dibuat dengan bantuan AI, pengguna mungkin akan semakin sering melakukan pengecekan dalam kepala.
“Benarkah kejadian ini?”, “Apakah orang ini benar-benar mengalaminya?”, atau “Jangan-jangan ini cuma dibuat agar viral?”. Kecurigaan tersebut sebenarnya merupakan bentuk literasi digital yang semakin penting.
Kita tidak harus langsung percaya hanya karena sebuah cerita terasa emosional. Sebaliknya, kita juga tidak perlu langsung menganggap semua cerita sebagai kebohongan hanya karena gaya tulisannya terasa terlalu rapi.
Jangan Sampai Semua Cerita Kehilangan Kredibilitas
Menurut saya, tantangan terbesar dari fenomena ini bukan sekadar soal AI. Persoalannya adalah kepercayaan mengingat media sosial selama ini dibangun dari cerita manusia dari pengalaman pribadi hingga kisah sederhana yang membuat kita merasa, “Ternyata aku tidak sendirian.”
Jika semua cerita mulai dianggap sebagai kemungkinan hasil AI, hubungan emosional antara pembaca dan penulis juga bisa ikut berubah. Karena itu, penggunaan AI dalam membuat cerita sebenarnya membutuhkan transparansi.
Jika sebuah cerita merupakan fiksi, tidak ada salahnya menyebutnya sebagai fiksi. Jika pengalaman seseorang ditulis ulang dengan bantuan AI, konteks tersebut juga bisa dijelaskan. Sebab teknologi boleh semakin pintar membuat cerita terasa manusiawi, tapi kepercayaan tetap membutuhkan kejujuran.
Pada akhirnya, mungkin kita memang perlu menikmati cerita di Threads tanpa kehilangan sikap kritis. Boleh tersentuh. Boleh merasa relate. Boleh mengambil pesan kehidupannya. Hanya saja, jangan buru-buru menganggap semuanya sebagai fakta.
Di era ketika AI bisa membuat cerita yang terasa begitu nyata, kemampuan paling penting bukan hanya tentang membuat konten, melainkan kemampuan untuk tetap bertanya: “Apakah ini benar-benar terjadi?”
Baca Juga
-
Sisi Gelap Wanita Karier: Jebakan Beban Ganda di Balik Kemandirian Finansial
-
The Second Shift: Beban Tak Terlihat Perempuan Modern setelah Jam Kantor
-
Gaji Habis sebelum Akhir Bulan: Saat Mandiri Finansial Jadi Tantangan Berat
-
Belanja karena FOMO atau Memang Butuh? Tantangan Lawan Konsumerisme Digital
-
Menikah, Karier, Lanjut Studi: Saat Pilihan Perempuan Selalu Dipertanyakan
Artikel Terkait
-
Tak Punya Ahli IT, Media Daerah Ini Manfaatkan AI untuk Bikin Platform Pantau Iklim
-
Local Media Summit 2026 Dimulai, Kolaborasi Jadi Kunci Hadapi Era AI
-
Perwakilan Kampus Luar Negeri Pelajari Transformasi Digital Pertamina
-
Dewan Pers Akui Teknologi AI Jadi 'New Normal' Bagi Industri Media RI
-
Google dan Unity Siapkan AI untuk Bikin Game Tanpa Perlu Banyak Coding
Kolom
-
Menolak Ego Sektoral: Ini yang Akan Dikritik Tan Malaka dari Demo DPRD DIY
-
Oposisi Dilemahkan dari Parlemen, Kritik Rakyat vs Musuh Imajiner
-
Digitalisasi Pendidikan: Ambisi Sekolah di Tengah Keterbatasan Fasilitas
-
Menafsir Hari Santri: Dari Resolusi Jihad ke Realitas Sosial Hari Ini
-
Definisi Korupsi Dikaji Ulang, Kepentingan Rakyat Jangan Terabaikan
Terkini
-
Rilis Trailer, Film The Apothecary Diaries Gaet Kenshi Yonezu Isi Lagu Tema
-
Ulasan Film Hear Me: Our Summer: Saat Cinta dan Ketulusan Tak Hanya Butuh Suara
-
Inovasi Media MUWAKIB: Cara Guru NU Pekalongan Bikin Belajar Bahasa Arab Jadi Seru
-
Bukan Sekadar Dongeng, Ini Alasan Buku Pangeran Cilik Wajib Kamu Baca Ulang Saat Dewasa
-
Jangan Telan Mentah-Mentah! Ini Alasan Video Jurnalisme Warga Tetap Butuh Verifikasi