M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi tekanan di tempat kerja (Pexels/Pavel Danilyuk)
e. kusuma .n

Bagi generasi muda, memasuki dunia profesional tidak pernah menjadi perjalanan yang selalunya mudah. Namun, ledakan ‘popularitas’ kecerdasan buatan (AI) belakangan ini benar-benar telah mengubah total aturan main.

Awalnya, semua tampak tidak berbahaya: menggunakan ChatGPT untuk memoles surat lamaran kerja, memanfaatkan Midjourney untuk membuat draf konsep desain cepat, atau memakai alat otomatis untuk merapikan kode pemrograman yang berantakan.

Begitu euforia awal memudar, kecemasan kolektif mulai terasa. Jika sebuah algoritma bisa menghasilkan artikel berkualitas, mendesain logo perusahaan, atau membedah perangkat lunak yang rumit hanya dalam hitungan detik, di mana posisi para profesional manusia?

Ini bukan sekadar ketakutan biasa di tempat kerja, tapi kecemasan eksistensial yang mendalam dan sistemik. Lalu, apakah saat ini kita sedang bersaing dengan entitas yang tidak pernah tidur, tidak bisa lelah, dan tidak pernah berhenti belajar?

Fatamorgana Pintu Masuk Entry-Level

Secara historis, transisi menuju dunia kerja mengandalkan kontrak sosial yang sederhana: meraih gelar pendidikan, mengambil tugas-tugas entry-level, melakukan kesalahan, belajar darinya, dan secara bertahap menaiki tangga karier.

Namun bagi Gen Z, anak tangga paling bawah dari struktur tersebut kini sedang dihapus secara sistematis oleh otomatisasi yang secara biaya memang jauh lebih murah. Akibatnya, standar untuk memasuki dunia kerja tiba-tiba melonjak drastis.

Perusahaan tidak lagi sekadar mencari pemula yang mau belajar, tapi juga menuntut kandidat tingkat awal sudah memiliki kapasitas setara manajer senior demi mengalahkan efisiensi alur kerja otomatis.

Kultus Beracun Produktivitas Tanpa Batas

Kemajuan AI juga memperparah narasi kapitalistik yang berbahaya: obsesi terhadap hiper-produktivitas. Ketika AI masuk ke tempat kerja, teknologi ini jarang berfungsi sebagai alat yang memberi ruang napas lebih atau memperpendek jam kerja.

Ironisnya, teknologi ini malah dimanfaatkan oleh organisasi untuk menaikkan kuota produksi ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam realitas korporat sehari-hari, hal ini berarti muncul tuntutan produktivitas ekstra.

Teknologi memang mempercepat proses mekanis, tapi beban kognitif untuk menyunting, memahami konteks, dan menyempurnakan hasil kerja—yang katanya dipermudah oleh AI—tersebut tetap menguras energi manusia.

Kita pun terjebak dalam paradoks yang melelahkan—menggunakan teknologi untuk bekerja lebih cepat, hanya untuk dihargai dengan volume pekerjaan yang jauh lebih besar demi membenarkan status pekerjaan.

Komodifikasi Keotentikan Manusia

Masalah besar dari pergeseran ini terletak pada bagaimana teknologi menurunkan nilai dari sifat unik manusia. Ketika AI bisa meniru kecerdasan emosional, menyusun surel yang menyentuh hati, hingga menulis puisi kreatif, lanskap digital kita dibanjiri oleh kesempurnaan sintetis.

Sebagai respons, pasar kerja mulai mengomodifikasi keotentikan manusia, mengubahnya menjadi sekadar metrik penilaian lainnya. Gen Z dipaksa untuk terus-menerus personal branding, membuktikan diri memiliki "sisi manusiawi yang unggul" tanpa henti.

Tekanan konstan untuk mementaskan kemanusiaan demi bukti kita lebih kreatif, lebih berempati, dan lebih adaptif dari sebuah mesin adalah hal yang sangat menguras energi emosional. Kita dihadapkan situasi untuk selalu bersaing dengan perangkat lunak.

Dari Persaingan Menuju Koeksistensi yang Sadar

Membingkai hubungan kita dengan teknologi sebagai perang yang saling meniadakan adalah strategi yang pasti kalah. Manusia akan selalu kalah dalam persaingan murni terkait kecepatan, memori, dan pemrosesan data melawan AI.

Gen Z perlu secara aktif melangkah keluar dari roda putar mekanis hiper-produktivitas ini. Nilai kita tidak terletak perilaku seperti algoritma yang lebih cepat, melainkan kapasitas penilaian etis, empati budaya yang mendalam, serta kemampuan unik untuk merangkul kreativitas.

AI bisa memprediksi fakta logis berikutnya berdasarkan masa lalu, tapi tidak akan pernah bisa secara otentik merasakan beratnya krisis manusia atau berani melanggar aturan demi sebuah inspirasi murni.

Jalan keluar dari kecemasan ini bukanlah berlari lebih cepat dari mesin, melainkan mengingat kembali mengapa mesin itu diciptakan—untuk melayani tujuan manusia, bukan untuk menggantikan jiwa manusia.