Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Pasar Surabaya (Unsplash/@hsbg99)
Oktavia Ningrum

Kemiskinan struktural bisa terasa lebih kejam daripada kematian. Kematian mengakhiri kehidupan, sedangkan kemiskinan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dapat membuat seseorang terus hidup tanpa benar-benar memiliki kesempatan untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Ia bernapas, bekerja, dan menjalani hari, tetapi sebagian besar energinya habis hanya untuk memastikan bahwa besok masih bisa makan.

Bayangkan seorang anak yang sejak kecil tidak memiliki akses pendidikan berkualitas, tumbuh dengan asupan gizi yang tidak memadai, lalu memasuki usia produktif dengan pilihan pekerjaan yang terbatas. Ia ingin melanjutkan sekolah, tetapi keluarganya membutuhkan tambahan penghasilan. Ia ingin mengejar cita-cita, tetapi biaya transportasi, buku, dan kebutuhan sehari-hari sudah menjadi beban. Akhirnya, ia bekerja bukan karena telah menemukan pekerjaan yang diinginkan, melainkan karena keluarganya membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Di mana letak kebebasannya untuk memilih masa depan?

Kemiskinan sering dipersempit menjadi persoalan pendapatan. Seseorang dianggap miskin karena penghasilannya berada di bawah standar tertentu. Padahal, kemiskinan memiliki dimensi yang jauh lebih luas: keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, pangan bergizi, tempat tinggal layak, pekerjaan yang aman, hingga kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Inilah yang membuat kemiskinan struktural perlu dibicarakan secara serius. Kemiskinan struktural terjadi ketika kondisi sosial, ekonomi, dan kelembagaan menciptakan hambatan yang membuat kelompok tertentu terus kesulitan memperbaiki kehidupannya. Hambatan tersebut dapat berupa ketimpangan kesempatan pendidikan, upah yang tidak mencukupi kebutuhan dasar, minimnya lapangan kerja layak, diskriminasi, serta layanan publik yang sulit dijangkau. Akibatnya, kemiskinan bukan sekadar kondisi yang dialami seseorang hari ini. Ia bisa menjadi lingkaran yang sulit diputus.

Anak yang mengalami kekurangan gizi berisiko menghadapi hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Ketika pendidikan berkualitas sulit dijangkau, kesempatan memperoleh pekerjaan dengan penghasilan lebih baik juga dapat menyempit. Jika pekerjaan yang tersedia hanya memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar, ruang untuk menabung, belajar keterampilan baru, atau membangun usaha menjadi sangat terbatas. Seseorang akhirnya terjebak dalam situasi ketika ia membutuhkan sumber daya untuk keluar dari kemiskinan, tetapi justru kemiskinan membuat sumber daya itu sulit diperoleh.

Kita sering mendengar nasihat bahwa siapa pun bisa sukses selama mau bekerja keras. Nasihat tersebut terdengar membangkitkan semangat, tetapi menjadi tidak adil ketika digunakan untuk menjelaskan seluruh persoalan kemiskinan. Kerja keras memang penting. Namun, hasil kerja juga dipengaruhi oleh kesempatan, kondisi kesehatan, kualitas pendidikan, jaringan sosial, ketersediaan pekerjaan, dan perlindungan terhadap risiko ekonomi.

Dua orang dapat bekerja sama keras, tetapi memulai dari titik yang sangat berbeda. Seseorang mungkin memiliki keluarga yang mampu membiayai kuliah, menyediakan tempat tinggal, dan menopang kebutuhan selama mencari pekerjaan. Orang lain mungkin harus berhenti sekolah untuk membantu orang tua, bekerja sejak remaja, dan menanggung kebutuhan keluarga.

Ketika keduanya kemudian memperoleh hasil yang berbeda, tidak masuk akal jika seluruh perbedaan itu dijelaskan melalui kemauan dan usaha pribadi. Masalahnya bukan orang miskin tidak memiliki mimpi atau malas berjuang. Sering kali, mereka harus mengorbankan mimpi karena kebutuhan mendesak tidak bisa ditunda. Makan hari ini lebih penting daripada membayar kursus untuk pekerjaan yang mungkin baru menghasilkan pendapatan beberapa bulan kemudian. Kemiskinan menyempitkan pilihan, bahkan sebelum seseorang sempat mencoba.

Pendidikan, pangan bergizi, kesehatan, dan pekerjaan yang layak bukan seharusnya menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati mereka yang lahir dalam keluarga berkecukupan. Hak-hak dasar tersebut merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang bermartabat.

Karena itu, mengatasi kemiskinan tidak cukup dengan membagikan bantuan sesaat atau mendorong masyarakat agar lebih pandai berhemat. Bantuan sosial tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi harus berjalan bersama upaya yang memperluas kesempatan dan mengurangi hambatan struktural.

Pemerintah perlu memastikan akses pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan yang terjangkau, pemenuhan gizi anak, perlindungan pekerja, serta kebijakan upah yang memperhatikan kebutuhan hidup. Pelatihan kerja juga harus terhubung dengan peluang kerja nyata, bukan sekadar menghasilkan sertifikat tanpa membuka jalan menuju pekerjaan yang layak.

Di saat yang sama, pembangunan harus menjangkau masyarakat yang selama ini tertinggal, termasuk warga di wilayah terpencil yang menghadapi keterbatasan fasilitas dan akses transportasi. Keberhasilan kebijakan tidak cukup diukur dari jumlah program yang diluncurkan. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar memperoleh kesempatan untuk keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

Kita boleh mengagumi orang yang tetap berjuang di tengah keterbatasan. Namun, kekaguman itu jangan sampai membuat kita menerima penderitaan sebagai sesuatu yang lumrah. Tidak semua orang harus membuktikan ketangguhan dengan menahan lapar, bekerja tanpa kepastian, atau mengubur cita-cita demi bertahan hidup. Masyarakat tidak seharusnya dipaksa menjadi luar biasa hanya untuk memperoleh kehidupan yang layak.

Kemiskinan struktural bukan takdir yang harus diterima tanpa pertanyaan. Ia adalah persoalan yang perlu dikenali penyebabnya, diukur dampaknya, dan diatasi melalui kebijakan serta tanggung jawab bersama. Ukuran masyarakat yang adil bukanlah seberapa banyak orang miskin mampu bertahan dalam kesulitan, melainkan seberapa kecil kemungkinan seseorang kehilangan masa depannya hanya karena dilahirkan dalam keluarga yang tidak memiliki banyak pilihan.

Kemiskinan bukan hanya tentang kekurangan uang. Kemiskinan juga tentang hilangnya kesempatan untuk belajar, tumbuh, memilih, dan bermimpi. Dan ketika seseorang harus menghabiskan seluruh hidupnya sekadar untuk bertahan, yang dirampas bukan hanya kesejahteraannya, melainkan juga sebagian kebebasannya sebagai manusia.