Selama ini Ario Bayu dikenal luas sebagai aktor layar lebar. Namun di balik sosok publiknya, tersimpan kisah perjalanan hidup yang jarang diungkap, sebuah cerita tentang resiliensi, kegagalan, dan keberanian untuk bangkit.
Kisah itu ia bagikan dalam Ruang Gagasan Edisi Kemerdekaan bertema “Rayakan Kemerdekaan, Raih Peluang Global” yang digelar CORE Indonesia. Bukan sekadar nostalgia tentang panggung seni, Ario hadir dengan narasi hidup penuh belokan tajam yang justru membentuk dirinya hari ini.
Sejak kecil, Ario sudah “dipaksa” keluar dari zona nyaman. Tahun 1994, ibunya memutuskan membawa keluarga pindah ke Selandia Baru hanya demi satu tujuan: agar anak-anaknya fasih berbahasa Inggris.
Dari negeri baru itu, ia jatuh cinta pada seni peran hingga terpilih mewakili Selandia Baru di ajang global Sheilwin Shakespeare Festival.
Latar keluarganya serba akademis, ayah bergelar Master in Business, ibu ahli ekonomi, dan adik lulusan firma hukum top dunia, namun Ario justru memilih jalur seni. Ironisnya, justru dari seni ia belajar hal-hal yang melampaui panggung: kemanusiaan, antropologi, hingga sosiologi.
Puncak kariernya datang saat memerankan Bung Karno dalam film Soekarno (2013). Namun, setelah itu ia mengalami artistic fatigue.
Seni di Indonesia, menurutnya, saat itu tak memberi ruang untuk bertumbuh. Dengan tabungan 10 tahun dari dunia film, ia banting setir ke bisnis perikanan, bahkan sempat mengekspor ke Korea. Tapi dua tahun kemudian, ia jatuh bangkrut dan sempat mengalami depresi.
“Bisnis itu sulit sekali,” katanya jujur. “Tapi kegagalan itu justru menempa saya kembali.”
Kini, Ario kembali ke dunia seni, tapi dengan perspektif baru: seorang kreator sekaligus wirausahawan. Publik mengenalnya sebagai aktor, namun di balik layar ia terus membangun bisnis. Sejak Februari 2025, ia bahkan dipercaya menjadi CEO PLT Multivision Plus, salah satu perusahaan hiburan terbesar yang tercatat di bursa.
Bagi Ario, dua hal menjadi kunci dari setiap fase hidupnya: resilience dan passion.
“Hidup kadang terasa berat, tapi satu-satunya cara adalah maju terus. Resiliensi itu yang membuat kita bisa bertahan, bangkit, dan menemukan peluang baru,” ujarnya.
Pesan itu sejalan dengan semangat Ruang Gagasan Edisi Kemerdekaan: merdeka dalam berpikir, berani mengambil risiko, dan menjadikan pengalaman, baik manis maupun pahit, sebagai bekal untuk menatap dunia.
Penulis: Muhammad Ryan Sabiti
Baca Juga
-
Panggilan dari Dasar Laut Terdalam
-
Hari Autisme Sedunia: Melihat Dunia dari Mata Sam yang Bikin Kamu Sadar Kalau Beda Itu Indah
-
iPhone Air Jadi iPhone Tertipis, Apakah Ada Spek yang Dikorbankan?
-
3 Parfum White Tea Terbaik untuk Halalbihalal, Wangi Clean Anti-Nyengat
-
Hati-Hati "Antek" Asing Berinsang: Sisi Gelap Ikan Sapu-Sapu yang Merusak Ekosistem
Artikel Terkait
Lifestyle
-
iPhone Air Jadi iPhone Tertipis, Apakah Ada Spek yang Dikorbankan?
-
3 Parfum White Tea Terbaik untuk Halalbihalal, Wangi Clean Anti-Nyengat
-
Manly tapi Sweet! Ini 4 Parfum Pria dengan Nuansa Vanilla yang Wajib Dicoba
-
Mulai Sekarang! 5 Hobi Sehat yang Bisa Kamu Kuasai Kurang dari 7 Hari
-
Dari Hangout sampai Ngantor, Intip 4 Ide Outfit Chic ala Shin Ye Eun!
Terkini
-
Panggilan dari Dasar Laut Terdalam
-
Hari Autisme Sedunia: Melihat Dunia dari Mata Sam yang Bikin Kamu Sadar Kalau Beda Itu Indah
-
Hati-Hati "Antek" Asing Berinsang: Sisi Gelap Ikan Sapu-Sapu yang Merusak Ekosistem
-
Menghardik Gerimis, Menikmati Cerita-Cerita Pendek Sapardi Djoko Damono
-
Hidup Terasa Blur: 'Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan' Hadir untuk Jiwa yang Lelah