Bagi orang yang mempunyai hobi menggambar, peralihan dari gambar manual ke digital sering kali terasa menakutkan, bukan karena proses belajarnya, tetapi karena harga perangkat yang terkesan mahal.
Tablet gambar identik dengan iPad, Apple Pencil, dan aplikasi berbayar yang membuat banyak pemula mengurungkan niat. Padahal, memasuki 2026, ekosistem tablet Android sudah berkembang jauh. Di harga di bawah Rp3 juta, kini tersedia tablet yang bukan hanya “bisa dipakai gambar”, tetapi memang layak untuk belajar digital art secara serius.
Kuncinya ada pada tiga hal, yaitu dukungan stylus aktif, palm rejection yang berfungsi baik, dan layar yang cukup lega. Dengan kombinasi ini, tablet murah tidak lagi terasa sebagai alat kompromi, melainkan pintu masuk yang realistis untuk mengembangkan skill.
1. Redmi Pad 2
Xiaomi menjadi nama pertama yang paling masuk akal dibahas. Redmi Pad 2 hadir sebagai tablet serba bisa yang ternyata juga ramah untuk kebutuhan menggambar.
Layarnya berukuran 11 inci dengan resolusi 2.5K dan refresh rate 90 Hz. Di kelas harga Rp2 jutaan, kombinasi ini tergolong mewah dan sangat membantu saat menggambar detail kecil atau melakukan zoom ekstrem pada kanvas.
Stylus memang tidak langsung tersedia di dalam box, tetapi Xiaomi menyediakan paket bundling resmi dengan harga sekitar Rp2,5 jutaan. Masih aman secara budget. Dari sisi pengalaman, tekanan pena terasa responsif, tracking garis rapi, dan hampir tidak ada delay saat membuat goresan cepat. Palm rejection juga bekerja konsisten, membuat telapak tangan bisa menempel di layar tanpa gangguan.
Redmi Pad 2 cocok untuk ilustrator pemula yang ingin tablet “aman”, tanpa banyak drama, dan bisa dipakai juga untuk kebutuhan lain seperti nonton, catatan kuliah, atau kerja ringan.
2. Huawei MatePad SE 11
Jika Redmi Pad 2 unggul di keseimbangan hardware, Huawei MatePad SE 11 punya nilai jual unik di sisi software. Tablet ini terasa sangat “artist-oriented” berkat aplikasi GoPaint, aplikasi gambar gratis yang secara konsep dan workflow sangat mirip Procreate di iPad.
GoPaint menawarkan brush yang natural, pengaturan layer lengkap, dan respons tekanan stylus yang halus. Untuk sketching, inking, hingga shading, feel-nya terasa dekat dengan menggambar manual.
Layarnya berukuran 11 inci FHD+, memang tidak setajam 2.5K, tetapi masih cukup nyaman untuk sesi menggambar panjang tanpa membuat mata cepat lelah.
Stylus Huawei M-Pencil dijual terpisah dan menjadi titik lemah terbesar. Total biaya bisa melewati Rp3 juta. Namun, kualitas tracking stylus-nya memang terasa lebih rapi dan presisi dibanding tablet Android murah lain.
Palm rejection tersedia dan sangat bisa diandalkan. Untuk yang mengincar pengalaman menggambar “ala iPad” dengan biaya lebih rendah, MatePad SE 11 tetap menarik, meski perlu kompromi di harga stylus.
3. Itel Vista Tab 30 Pro
Nama Itel mungkin belum identik dengan digital art, tetapi Vista Tab 30 Pro justru tampil berbeda. Tablet ini membawa layar IPS FHD+ berukuran 13 inci, paling besar di daftar ini. Untuk ilustrator yang suka kanvas lega, ukuran layar ini terasa sangat membantu, terutama saat membuat storyboard, komik, atau ilustrasi dengan banyak detail.
Stylus sudah termasuk dalam paket pembelian, sehingga pengguna tidak perlu pusing mencari pena tambahan. Berdasarkan spesifikasi dan informasi resmi, tablet ini sudah mendukung palm rejection. Ditambah baterai berkapasitas besar, Vista Tab 30 Pro cocok untuk sesi menggambar lama tanpa sering mencari charger.
Performa memang bukan yang paling kencang, tetapi untuk sketching, line art, dan coloring ringan, tablet ini masih sangat fungsional.
4. Moto Pad 60 Neo
Motorola lewat Moto Pad 60 Neo menawarkan pendekatan yang sederhana dan efisien. Tablet ini sudah termasuk stylus di dalam box, dengan harga yang justru lebih murah dibanding Itel. Dari pengalaman penggunaan untuk menggambar, feel pena cukup natural, respons layar memadai, dan palm rejection bekerja dengan baik.
Memang, performanya tidak ditujukan untuk ilustrasi super kompleks dengan banyak layer. Namun, untuk belajar digital art, membuat sketsa harian, atau mencatat ide visual, Moto Pad 60 Neo terasa praktis dan tidak ribet. Ini tipe tablet yang “langsung pakai”, tanpa banyak pertimbangan tambahan.
Tablet gambar Rp3 jutaan di 2026 bukan lagi sekadar alternatif darurat. Pilihannya sudah matang, fungsional, dan cukup serius untuk belajar digital art dari nol. Redmi Pad 2 unggul di keseimbangan, Huawei MatePad SE 11 kuat di sisi pengalaman menggambar, Itel Vista Tab 30 Pro menawarkan kanvas besar, sementara Moto Pad 60 Neo menjadi opsi paling praktis.
Namun, satu hal yang penting, perangkat hanyalah alat. Tablet terbaik tidak akan otomatis menghasilkan karya bagus tanpa latihan dan konsistensi. Pilih tablet yang sesuai kebutuhan dan budget, lalu fokus mengasah tangan dan mata. Karena, kualitas karya tidak ditentukan oleh harga device, tetapi oleh skill di balik stylus.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Bukan Kaleng-Kaleng, Ini 5 Gamepad Rexus yang Paling Worth It
-
5 Kipas Portabel Rp200 Ribuan Terbaik 2026: Ada yang Dingin Seperti AC!
-
5 Laptop Terbaru Awal 2026 yang Bikin Harga Rp4-8 Jutaan Terasa Murah
-
Bingung Pilih Laptop Gaming 2026? Ini 5 Terbaik di Harga Rp15-20 Juta
-
Cari HP 3 Jutaan Rasa Flagship? Ini 5 Pilihan Paling Worth di Januari 2026
Artikel Terkait
-
5 Tablet Windows Termurah untuk Pelajar dan Mahasiswa, Pilihan Terbaik Selain Laptop
-
Terpopuler: Fakta Game TheoTown yang Viral, Pilihan Tablet Xiaomi Performa Kencang
-
7 Tablet Xiaomi Terbaik untuk Kerja, Performa Kencang Mulai Rp1 Jutaan
-
Terpopuler: Spesifikasi Pesawat ATR 42-500, Daftar Promo HP Imlek 2026
-
5 Rekomendasi Tablet Spek Laptop untuk Kerja, Ringkas Dibawa ke Mana Saja
Lifestyle
-
4 Tone Up Day Cream Panthenol untuk Kulit Cerah dan Skin Barrier Kuat!
-
4 Ide Outfit Harian ala Liz IVE yang Sat Set tapi Stylish Buat Disontek!
-
5 OOTD Nerdy Look ala I.N Stray Kids, Cocok untuk yang Gak Suka Gaya Ribet
-
4 Pelembab Marine Collagen Mampu Rawat Kelembapan dan Elastisitas Kulit
-
Tecno Spark Go 3 Segera Meluncur: Bawa Layar 120Hz, Desain Mirip iPhone 17
Terkini
-
Belum Berakhir, Waralaba The Conjuring Umumkan Film Baru First Communion
-
Pandji Pragiwaksono dan Polemik Kebebasan Berekspresi: Bisakah Komedi Dipolisikan?
-
Anomali Pendidikan: Hilangnya Rasa Takut, tapi Tak Ada Rasa Hormat
-
Dampak Hiatus Manga, Episode Anime Frieren Season 2 Dipastikan Lebih Sedikit
-
Buku Home Learning, Belajar Seru Meski dari dalam Rumah