Hayuning Ratri Hapsari | Fathorrozi 🖊️
Mobil Listrik Xiaomi SU7 (Notebookcheck)
Fathorrozi 🖊️

Nama besar Xiaomi selama ini identik dengan smartphone, tablet, televisi, hingga berbagai perangkat pintar di rumah. Namun, ketika perusahaan asal China ini memasuki industri otomotif, batas antara perusahaan teknologi dan produsen mobil perlahan menjadi semakin memudar. Xiaomi SU7 menjadi bukti paling nyata dari perubahan tersebut.

Sedan listrik ini bukan sekadar eksperimen pertama Xiaomi di dunia kendaraan. Sejak diperkenalkan, SU7 justru tampil seperti sebuah pernyataan keras bahwa Xiaomi ingin bermain serius di industri otomotif.

Desain agresif, teknologi pintar, performa tinggi, serta harga yang kompetitif membuatnya langsung menjadi perhatian, bahkan sebelum mobil ini benar-benar banyak terlihat di jalan.

Respons pasar ketika sedan listrik ini terbilang luar biasa. Hanya dalam 27 menit setelah peluncuran, jumlah pesanan SU7 telah mencapai 50.000 unit. Angka tersebut menjadi sinyal awal bahwa Xiaomi tidak datang sebagai pemain kecil di pasar kendaraan listrik.

Dari Smartphone ke Sedan Listrik

Keputusan Xiaomi terjun ke dunia otomotif memang terasa berani. Industri mobil memiliki karakter yang berbeda jauh dari bisnis smartphone. Membuat kendaraan membutuhkan investasi besar, rantai pasok kompleks, fasilitas produksi, standar keselamatan ketat, serta jaringan penjualan dan layanan yang luas.

Namun, Xiaomi mencoba membawa pendekatan khas perusahaan teknologi ke dalam mobil. SU7 dirancang bukan hanya sebagai alat transportasi, melainkan sebagai bagian dari ekosistem perangkat pintar.

Langkah tersebut semakin menarik karena Xiaomi menempatkan SU7 sebagai sedan listrik dengan perpaduan antara desain, performa, konektivitas, dan teknologi. Bahkan sejak awal, mobil ini diposisikan sebagai penantang Tesla Model 3, tetapi dengan strategi harga yang agresif.

Pada peluncuran pertamanya, Xiaomi SU7 tersedia dalam tiga varian, yakni Standard, Pro, dan Max. Harga resminya dimulai dari 215.900 yuan untuk Standard, 245.900 yuan untuk Pro, dan 299.900 yuan untuk Max. Jika dikonversikan menggunakan nilai tukar yang diberitakan saat itu, harganya berada di kisaran Rp473 juta hingga Rp658 juta.

Harga tersebut menjadi salah satu senjata utama Xiaomi. Dengan tampilan yang menyerupai sedan sport premium dan spesifikasi yang agresif, SU7 menawarkan mobil listrik dengan citra premium tetapi harga yang relatif kompetitif.

Desain yang Mengawinkan Elegansi dan Aerodinamika

Dari sisi visual, Xiaomi SU7 tidak terlihat seperti mobil listrik yang sengaja dibuat sederhana. Siluetnya rendah dan memanjang, sementara lekukan bodinya menciptakan kesan sedan sport.

Bagian depan dibuat bersih dengan lampu utama yang ramping. Garis kap mesin mengalir menuju kaca depan, kemudian diteruskan oleh atap yang melandai ke bagian belakang. Proporsi seperti ini membuat SU7 terlihat lebih dekat dengan sedan performa tinggi ketimbang mobil listrik keluarga biasa.

Spoiler kecil di belakang turut memperkuat karakter sporty. Xiaomi juga tidak mengabaikan sisi aerodinamika. Bentuk bodi yang rendah dan mengalir membantu kendaraan bergerak lebih efisien sekaligus memberikan karakter visual yang kuat.

Performa Listrik yang Tidak Main-Main

Di balik bodi yang elegan, Xiaomi SU7 menyimpan karakter yang jauh lebih agresif. Pada generasi awal, SU7 Standard menggunakan baterai sekitar 73,6-73,8 kWh dan motor listrik dengan tenaga 220 kW atau sekitar 295 hp serta torsi 400 Nm.

Dengan penggerak roda belakang, akselerasi 0-100 km per jam dapat ditempuh dalam 5,28 detik. Jarak tempuhnya berada di kisaran 668-700 km berdasarkan standar CLTC, tergantung konfigurasi dan sumber yang digunakan.

SU7 Pro hadir dengan baterai 94,3 kWh. Varian ini menawarkan jarak tempuh yang lebih panjang, sementara sistem pengisian cepat memungkinkan tambahan jarak ratusan kilometer dalam waktu relatif singkat.

Pada saat peluncuran generasi pertama, Xiaomi mengklaim pengisian 15 menit dapat memberikan tambahan jarak hingga 510 km untuk konfigurasi tertentu.

Sementara itu, SU7 Max menjadi varian yang benar-benar menunjukkan ambisi performa Xiaomi. Model tersebut dibekali baterai sekitar 101 kWh dan tenaga hingga 495 kW atau sekitar 663 hp. Akselerasi 0-100 km per jam diklaim hanya membutuhkan 2,78 detik, dengan kecepatan maksimum mencapai 265 km per jam.

Angka tersebut menjelaskan mengapa SU7 sejak awal tidak hanya dipandang sebagai sedan listrik ekonomis. Xiaomi ingin menciptakan mobil yang juga mampu menawarkan sensasi berkendara berperforma tinggi.

Generasi Baru Semakin Efisien

Perjalanan SU7 tidak berhenti pada generasi pertama. Pada Maret 2026, Xiaomi memperkenalkan versi terbaru SU7 dengan sejumlah peningkatan teknologi.

Generasi terbaru tersebut menggunakan sistem kelistrikan 752 volt pada varian Standard dan Pro, sedangkan varian Max mendapatkan arsitektur 897 volt. Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus mempercepat pengisian baterai. Xiaomi mengklaim SU7 Max dapat memperoleh tambahan jarak hingga 670 km hanya dalam 15 menit pengisian.

Jangkauan juga mengalami peningkatan. SU7 Standard diklaim mampu menempuh hingga 720 km, sedangkan SU7 Pro menjadi varian dengan angka jangkauan paling tinggi, mencapai 902 km berdasarkan siklus pengujian CLTC. SU7 Max berada di angka hingga 835 km.

Untuk versi terbaru yang diperkenalkan pada 2026, harga resmi yang diberitakan berada mulai 219.900 yuan untuk SU7 Standard, 249.900 yuan untuk Pro, dan 303.900 yuan untuk Max. Jika dikonversikan berdasarkan kurs yang digunakan media Indonesia saat pemberitaan, masing-masing berada di kisaran Rp539 juta, Rp613 juta, dan Rp745 juta.

Perlu dicatat, angka rupiah tersebut merupakan konversi harga China, bukan harga resmi penjualan Xiaomi SU7 di Indonesia. Hingga informasi yang dirujuk dalam artikel ini, SU7 belum memiliki harga resmi pasar Indonesia.

Mobil yang Semakin Pintar

Sebagai perusahaan teknologi, Xiaomi mencoba menjadikan perangkat lunak sebagai bagian penting dari pengalaman berkendara. Pada versi terbaru, sistem komputasi kendaraan diklaim mampu mencapai 700 triliun operasi per detik untuk mendukung sistem bantuan berkendara Xiaomi HAD.

Pada konfigurasi tertentu, mobil ini juga mendapatkan teknologi LiDAR dan berbagai perangkat sensor untuk membantu kemampuan penginderaan kendaraan.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa Xiaomi melihat masa depan kendaraan bukan hanya soal mesin listrik dan baterai. Mobil juga diperlakukan sebagai komputer bergerak yang memiliki sensor, sistem operasi, konektivitas, dan kemampuan pemrosesan data.

Di dalam kabin, karakter minimalis berpadu dengan nuansa sporty. Bucket seat dan tata letak interior memberikan kesan bahwa SU7 ingin menjadi mobil yang menyenangkan dikendarai sekaligus nyaman digunakan sehari-hari.

Pada pembaruan 2026, Xiaomi juga melakukan penyempurnaan pada konsol tengah agar pengoperasian sejumlah fungsi menjadi lebih ergonomis.

Dari 50 Ribu Pesanan ke 500 Ribu Pengiriman

Yang membuat kisah SU7 semakin menarik bukan hanya spesifikasinya, tetapi juga kecepatan Xiaomi membangun pasar. Jika pada Maret 2024 SU7 mencatat 50.000 pesanan hanya dalam 27 menit, maka sekitar 28,5 bulan kemudian pencapaiannya sudah berada pada level yang jauh lebih besar.

Pada Agustus 2026, Xiaomi mengumumkan bahwa pengiriman kumulatif SU7 telah menembus 500.000 unit. Tonggak tersebut dicapai sekitar 28,5 bulan setelah mobil pertama kali dipasarkan. Angka 500.000 unit tersebut secara khusus merujuk pada SU7 dan tidak memasukkan pengiriman SUV YU7.

Pencapaian ini penting karena menunjukkan bahwa Xiaomi berhasil mengubah reputasinya sebagai perusahaan elektronik menjadi kekuatan baru di industri kendaraan listrik dalam waktu relatif singkat.

Xiaomi bahkan terus memperluas jaringan penjualannya. Pada akhir 2025, perusahaan dilaporkan memberikan paket insentif lebih dari 100 juta yuan untuk mendorong pertumbuhan jaringan dealer dan showroom. Jaringan tersebut ketika itu telah berkembang menjadi ratusan toko di berbagai kota di China.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa membuat mobil hanyalah satu bagian dari ambisi Xiaomi. Perusahaan juga harus membangun ekosistem penjualan, layanan, dan pengalaman pelanggan agar mampu bersaing dengan produsen otomotif yang telah puluhan tahun berada di pasar.

Bukan Sekadar Penantang Tesla

Xiaomi SU7 memang sering dibandingkan dengan Tesla, terutama Model 3. Namun, perkembangan mobil ini memperlihatkan bahwa Xiaomi tidak sekadar ingin menjadi versi lain dari Tesla.

Xiaomi memiliki modal yang berbeda. Perusahaan sudah memiliki ekosistem perangkat elektronik, sistem operasi, konektivitas, kecerdasan buatan, serta basis pengguna teknologi yang besar. Semua itu dapat menjadi fondasi untuk membangun konsep kendaraan yang semakin terintegrasi dengan kehidupan digital.

Di sisi lain, tantangannya juga tidak kecil. Industri otomotif menuntut konsistensi kualitas, keselamatan, layanan purnajual, keandalan baterai, dan kemampuan produksi dalam skala besar. Keberhasilan menjual ratusan ribu unit menjadi langkah penting, tetapi mempertahankan kualitas ketika volume produksi terus meningkat merupakan tantangan berikutnya.