Sebagai pekerja, momen menerima notifikasi transferan gaji itu rasanya melegakan banget. Pikiran saya langsung melayang ke barang-barang di keranjang kuning atau sekadar jajan ini itu untuk self-reward.
Namun, euforia ini biasanya tidak bertahan lama saat saldo ATM cepat menipis untuk membayar tagihan-tagihan rutin. Dari fakta ‘nyesek’ itu saya sadar: kalau tidak pintar mengerem, gaji bulanan cuma bisa numpang lewat.
Prinsip ekstrem yang melarang kita jajan ini-itu demi menabung 80% gaji terasa menyiksa. Apalagi buat saya, bekerja keras tentu untuk menikmati hidup, alias self-reward, tentu layak dilakukan sebagai bentuk apresiasi diri.
Namun, kuncinya bukan berhenti jajan, tapi tahu batasan. Berdasarkan pengalaman trial dan error saya, begini cara saya mengatur gaji bulanan agar bisa tetap self-reward tanpa perlu menderita di akhir bulan.
Mengunci Jatah "Amankan Diri" di Awal Bulan
Dulu, saya selalu memakai prinsip "menabung dari sisa gaji". Faktanya? Tidak pernah ada sisa. Sekarang, begitu gaji masuk, saya langsung membaginya menggunakan rumus yang fleksibel tapi disiplin: formula 50/30/20.
Untuk kebutuhan pokok, saya menyediakan 50% dari gaji untuk biaya hidup, termasuk transportasi, makan sehari-hari, dan tagihan wajib. Lalu, 20% untuk masa depan langsung saya kunci di rekening terpisah.
Kamu bisa membuka tabungan baru atau reksa dana. Porsi ini saya anggap uang yang "sudah hilang". Sementara 30% lainnya saya gunakan untuk keinginan dan self-reward. Nah, ini adalah happy money yang boleh saya habiskan tanpa rasa bersalah.
Membuat "Rekening Khusus Hura-hura"
Salah satu kesalahan terbesar saya dulu adalah menyatukan uang makan, tagihan, dan uang untuk kebutuhan pokok di satu rekening yang sama. Akibatnya, saya sering kebablasan memakai uang biaya hidup untuk beli baju baru.
Sekarang, saya membuka satu rekening bank digital tanpa biaya admin khusus untuk pos self-reward (30% tadi). Begitu uang di rekening itu habis, artinya jatah bersenang-senang saya bulan itu sudah selesai. Tidak ada cerita "pinjam" dari pos kebutuhan pokok.
Menerapkan Rule of 48 Hours Sebelum Checkout
Hidup di era digital yang serba cepat dan instan, tentu godaan terbesar ada di jempol kita. Doomscrolling di media sosial sering kali berakhir dengan impulse buying di e-commerce karena racun review influencer.
Untuk mengatasinya, saya menerapkan aturan 48 jam. Jika saya melihat barang lucu atau baju yang saya inginkan, saya akan memasukkannya ke keranjang belanja dulu dan mendiamkannya selama dua hari.
Biasanya, setelah dua hari, rasa kepengin itu hilang atau berkurang. Kalau setelah 48 jam saya masih memikirkannya, baru saya beli—itu pun kalau pos self-reward masih cukup.
Mengubah Definisi Self-Reward yang Bikin Tekor
Dulu saya pikir self-reward itu harus mahal: makan di restoran fine dining atau beli barang-barang branded. Lambat laun saya sadar, esensi dari self-reward adalah menghargai diri sendiri, bukan pada gengsi sosial.
Sekarang, saya sering melakukan micro self-reward yang murah bahkan gratis tapi tetap bikin bahagia. Misalnya, beli es krim minimarket setelah hari kerja yang melelahkan, maraton Netflix di akhir pekan tanpa gangguan, atau sekadar tidur siang puas di hari Minggu.
Self-reward tidak harus membuat dompet kita menangis apalagi sampai mengorbankan biaya untuk mencukupi kebutuhan pokok atau malah terjebak paylater. Mengubah definisi self-reward tanpa tekor akan menjadi langkah sederhana yang bijak.
Saatnya Kendalikan Keuangan Sendiri
Membahas tentang finansial dan self-reward memang terkadang menjadi fase belajar mandiri lewat pengalaman, termasuk belajar mengendalikan keuangan sendiri. Bukan harus pelit pada diri sendiri sampai stres, atau malah terlalu royal sampai harus meminjam uang di akhir bulan.
Dengan memisahkan pos keuangan sejak hari pertama gajian, kita bisa menikmati hasil keringat sendiri dengan tenang dan penuh gaya—tentunya tanpa drama bokek. Ingat, semua kendali ada di tangan kita sendiri.
Gaji memang akan masuk tiap bulan, tapi tagihan dan biaya hidup juga harus ditunaikan. Berhenti menggunakan gaji untuk membiayai gaya hidup bahkan sampai harus terjebak budaya paylater yang malah menjerat finansial.
Semua ada porsinya. Semua ada aturannya. Dan kendali penuh ada pada diri kita. Mau berhemat, mau foya-foya, mau self-reward, atau mengelola dengan bijak. Setiap aksi akan punya dampak dan kita sendiri yang merasakannya.
Baca Juga
-
Stop Merasa Nggak Enakan! Ini Alasan Perempuan Wajib Berani Nego Gaji Saat 'Interview'
-
Jangan Tunggu Burnout: Pentingnya Ambil Ruang Jeda Sebagai Kebiasaan Rutin
-
Dari Sebentar Saja Jadi Berjam-jam: Jebakan Doomscrolling Sebelum Tidur?
-
Pendidikan di Era ChatGPT: Apakah Budaya Menghafal Masih Relevan?
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
Artikel Terkait
-
Punya Gaji Rp17 Juta Perbulan? Kini Bisa Ambil KPR Subsidi
-
Stop Merasa Nggak Enakan! Ini Alasan Perempuan Wajib Berani Nego Gaji Saat 'Interview'
-
Punya Akses Keuangan Belum Tentu Finansial Sehat, Ini Tantangan UMKM Perempuan
-
Perkiraan Gaji Yoseph Jhon Ferry, Kasi Binadik Lapas Cibinong yang Dinonaktifkan
-
Manajer Kopdes Digaji Rp8,3 Juta, Setara Profesi Software Engineer di Jakarta
Lifestyle
-
5 Running Shoes Terbaik untuk 10K, Mana yang Cocok Buat Kamu?
-
Bukan Cuma Murah, 5 HP Xiaomi Ini Cocok untuk Dipakai Jangka Panjang
-
Bikin Makeup Flawless dan Tahan Lama: 5 Primer Serum Pengunci Kelembapan
-
Awas Ketagihan! 5 Street Food Legendaris Korea yang Paling Dicari Saat Musim Gugur
-
Segar Sekaligus Kencang, 5 Eye Treatment Mentimun untuk Cegah Penuaan Dini
Terkini
-
Kupu-Kupu Kertas: Bertahannya Cinta di Tengah Kebencian yang Diwariskan
-
Review Film Galaksi: Luka Tersembunyi di Balik Sikap Keras Seseorang
-
Anime Slow Living Berjudul Hirayasumi Ungkap Seiyuu Utama lewat Teaser Baru
-
Stop Merasa Nggak Enakan! Ini Alasan Perempuan Wajib Berani Nego Gaji Saat 'Interview'
-
Jangan Tunggu Akun Kebobolan! Kenali 8 Tanda HP Disadap dan Disusupi 'Malware'