Hayuning Ratri Hapsari | Dian Haerani
Ilustrasi Konser (Pexels/VINVIVU)
Dian Haerani

Sebagian anak muda menganggap bahwa menonton konser idola tercinta bukan sekadar hiburan, melainkan pengalaman yang sudah lama diimpikan. Melihat penyanyi favorit tampil secara langsung, menyanyikan lagu bersama ribuan penggemar, hingga mengabadikan momen yang selama ini hanya bisa dinikmati melalui layar ponsel menjadi kebahagiaan tersendiri.

Tapi ada satu hal yang kerap menjadi persoalan, yaitu harga tiket konser yang tidak sebanding dengan penghasilan bulanan.

Fenomena ini semakin menarik ketika konser musisi internasional, mulai dari grup K-pop hingga band Barat, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Harga tiket bisa mencapai jutaan rupiah, belum termasuk transportasi, penginapan, makanan, merchandise, dan kebutuhan lainnya.

Sementara itu, tidak semua anak muda memiliki penghasilan besar. Ada yang masih bergaji di bawah upah minimum, bekerja sebagai pekerja lepas, atau baru memulai karier dengan pendapatan terbatas. Lantas, mengapa Gen Z tetap rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi konser?

Bukan Sekadar Menonton, tetapi Membeli Pengalaman

Bagi penggemar, konser memiliki nilai emosional yang sulit diukur dengan uang. Ada perasaan bangga ketika akhirnya bisa melihat idola secara langsung setelah bertahun-tahun mengikuti perjalanan kariernya. Apalagi, kesempatan menonton musisi internasional di Indonesia belum tentu datang setiap tahun.

Pengalaman tersebut juga bisa menjadi hadiah bagi diri sendiri setelah melewati rutinitas yang melelahkan. Di tengah tekanan pekerjaan, tuntutan hidup, dan ketidakpastian masa depan, konser menjadi ruang untuk melepaskan penat sekaligus menikmati sesuatu yang benar-benar disukai.

Tidak sedikit pula penggemar yang menganggap konser sebagai pengalaman sekali seumur hidup. Mereka bersedia menabung berbulan-bulan demi mendapatkan kesempatan tersebut. Dalam situasi seperti ini, mengeluarkan uang untuk konser tidak selalu berarti boros. 

Masalahnya muncul ketika keinginan tersebut tidak lagi mempertimbangkan kondisi keuangan yang sebenarnya.

FOMO dan Tekanan Media Sosial

Selain kecintaan terhadap musisi, media sosial turut memengaruhi keputusan anak muda untuk menonton konser. Setelah konser diumumkan, linimasa biasanya dipenuhi informasi mengenai harga tiket, jadwal penjualan, hingga antusiasme penggemar yang sudah bersiap berburu tiket.

Ketika konser selesai, video penampilan idola, foto bersama teman, dan cerita pengalaman menonton bermunculan di TikTok maupun Instagram. Bagi mereka yang tidak hadir, konten tersebut terkadang menimbulkan perasaan tertinggal atau fear of missing out (FOMO).

Keinginan untuk ikut merasakan pengalaman yang sama akhirnya semakin kuat. Sebagian orang bahkan merasa harus datang karena takut menyesal jika kesempatan tersebut tidak terulang.

Di sinilah media sosial menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial membantu penggemar terhubung dan berbagi kebahagiaan. Di sisi lain, paparan pengalaman orang lain dapat membuat seseorang mengambil keputusan berdasarkan tekanan sosial, bukan kebutuhan atau kemampuan finansialnya sendiri.

Padahal, tidak semua orang memiliki kondisi ekonomi yang sama. Apa yang terlihat mudah dijangkau oleh orang lain belum tentu sesuai dengan kemampuan kita.

Ketika Hiburan Mulai Mengorbankan Kebutuhan

Persoalan finansial muncul ketika seseorang memaksakan diri membeli tiket tanpa perencanaan. Menggunakan dana kebutuhan pokok, menghabiskan tabungan darurat, atau berutang demi menonton konser bisa menimbulkan masalah setelah euforia berakhir.

Konser mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi kebutuhan hidup tetap berjalan. Tagihan, mobilitas sehari-hari, makan, dan kebutuhan lainnya tidak ikut berhenti hanya karena seseorang ingin menikmati momen spesial.

Karena itu, penting untuk membedakan antara berusaha mewujudkan keinginan dan memaksakan diri. Menabung secara konsisten untuk konser merupakan bentuk perencanaan. Sebaliknya, mengorbankan kebutuhan mendasar demi mendapatkan tiket justru berpotensi menghadirkan tekanan baru.

Bukan berarti anak muda harus berhenti menikmati hiburan mahal. Mereka hanya perlu menentukan batas yang realistis dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan finansial.

Menikmati Konser Tanpa Mengorbankan Masa Depan

Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan keinginan Gen Z untuk menonton konser idola. Kebahagiaan tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang produktif secara finansial. Sesekali mengeluarkan uang untuk pengalaman yang berkesan juga merupakan bagian dari menikmati hidup.

Namun, kecintaan terhadap idola seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Sebelum membeli tiket, ada baiknya menghitung seluruh biaya, menentukan batas pengeluaran, dan memastikan kebutuhan pokok tetap terpenuhi.

Jika belum mampu, menunda keinginan bukan berarti kurang maksimal menjadi penggemar. Tidak datang ke satu konser juga tidak mengurangi rasa cinta terhadap musisi favorit. Karena hiburan seharusnya membuat hidup terasa lebih menyenangkan, bukan malah meninggalkan kecemasan setiap kali tanggal gajian masih terasa jauh.