Beredar di media sosial khususnya Youtube yang menarasikan jika anak Presiden Joko Widodo yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep korupsi.
Video tersebut diunggah oleh akun Youtube Pejuang Muda dengan judul "Kaesang & Gibran Terbukti Gunakan Cuan Dari Rakyat"
Ditampilkan thumbnail video dengan foto Gibran dan Kaesang yang mengenakan pakaian oranye di ruangan dengan logo KPK.
BACA JUGA: CEK FAKTA: Hakim Temukan Puluhan Tengkorak di Rumah Ferdy Sambo, Benarkah?
Dalam foto tesebut terdapat Ketua KPK Firli Bahuri yang sedang memberikan pernyataan ke awak media dengan membawa alat bukti yaitu setumpuk uang.
Tak hanya itu, terlihat tulisan di thumbnail yaitu "Viral News...!! Di Jerat Pasal Berlapis UU ITE. Gibran & Kaesang Sampaikan Maaf Pada Indonesia,"
Video tersebut diunggah pada Rabu, 18 Januari 2023, berdurasi 8 menit 21 detik, dan telah ditonton oleh ribuan orang.
Lantas benarkah klaim tersebut?
BACA JUGA: Ridwan Kamil Naik Vespa Kuning Bareng Arkana, Ada Pesan Tersirat?
Penjelasan
Berdasaarkan penelusuran, ternyata video tersebut tidat memuat informasi dengan jelas yang sesuai dengan judul maupun thumbnailnya. Tidak ada informasi resmi terkait Gibran dan Kaesang yang dituduh korupsi.
Video tersebut hanya membahasa respon dari warganet atas kehebohan bulan madu Kaesang Pangarep dan Erina Gudono saat di Eropa.
Isi video hanya menampilkan sejumlah momen kebersamaan Kaesang daan Erina beserta rombongannya.
Narasi itu dipakai karena ada warganet yang menilai perjalanan bulan madu Kaesang dan Erina ke Eropa sebagai bentuk pemborosan semata.
Cuitan ini kemudian mendapat respons tak biasa dari Gibran yang malah mendukung warganet untuk melaporkan Kaesang ke KPK.
Kesimpulan
Video yang menarasikan Kaesang dan Gibran ditangkap KPK karena korupsi merupakan konten hoaks dan menyesatkan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
7 Dekade Berlalu, Ini 4 Alasan Mengapa Kritik Novel '1984' Makin Relevan Hari Ini
-
Tujuh Hari Sebelum Aku Menghilang
-
Terorisme Ekologi Bernama Karhutla: Saat Rakyat Terpaksa Berhenti Bernapas
-
Tidak Semua Luka Terlihat, Ini Pentingnya Menjadi Pendengar Tanpa Menghakimi
-
Menanti Kejelasan Laporan Insiden Prambanan, PSHT Minta Adil dan Transparan
Artikel Terkait
-
Megawati Effect Ngeri Banget! Jokowi Disebut Makin Mirip Bebek Lumpuh, Gerindra dan Golkar Langsung 'Mbalelo'
-
Cek Fakta: Pergoki Sarwendah Berdua di Kamar, Ruben Onsu Ancam Akhiri Hak Asuh Betrand Peto, Benarkah?
-
Pakar Hukum Buka Suara Soal Heboh Cak Nun Sebut Jokowi Firaun, Kalau Buzzer Sudah Lebih Dulu Sebut Anies Baswedan Firaun
-
Jokowi Bakal Kunjungi Bunaken hingga Pantai Malalayang Hari Ini
-
CEK FAKTA: Anies Baswedan dan Istri Dijemput Paksa KPK, Korupsi Bansos Sebabkan Kerugian Rp3 T
News
-
Menanti Kejelasan Laporan Insiden Prambanan, PSHT Minta Adil dan Transparan
-
Dugaan Cacat Prosedur Tersangka Insiden Prambanan, Kuasa Hukum Buka Suara
-
Menyelamatkan Nyawa di Ujung Perbatasan: Akhir Tragis Pelarian Kapal Penyelundup di Bintan
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
Terkini
-
7 Dekade Berlalu, Ini 4 Alasan Mengapa Kritik Novel '1984' Makin Relevan Hari Ini
-
Tujuh Hari Sebelum Aku Menghilang
-
Terorisme Ekologi Bernama Karhutla: Saat Rakyat Terpaksa Berhenti Bernapas
-
Tidak Semua Luka Terlihat, Ini Pentingnya Menjadi Pendengar Tanpa Menghakimi
-
Tak Harus Nunggu Teman: Seni Menemukan Ketenangan Lewat Solo Date