Selama ini, orang awam mengasosiasikan stuntman sebagai orang-orang nekat atau orang yang suka cari penyakit. Saya pun berpikir demikian. Aksi ekstrem yang mereka lakukan terlihat seperti sesuatu yang mengandalkan keberanian semata.
Namun, pandangan tersebut berubah drastis setelah saya melihat prosesnya secara langsung.
Hari itu, saya bersama rekan saya, Zarina, berkesempatan bertemu dengan penggagas komunitas stunt fighter, Andhi Iqbal.
Pertemuan tersebut berlangsung di Jakarta International Climbing Wall Park, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (4/10).
Begitu pertama kali menginjakkan kaki di lokasi, justru hanya sepi dan embusan angin yang menyapa kami. Sampai akhirnya samar-samar terdengar suara bugh! HA! Gubrak! di balik tingginya dinding tebing.
Kami pun mencoba untuk mengintip dari balik tebing tersebut. Ternyata oh ternyata, beberapa orang tengah sibuk melakukan gerakan pukul-pukulan.
Sekilas, mereka seperti sedang berkelahi. Namun, setelah diperhatikan saksama, gerakan tersebut justru dilakukan secara terarah.
Andhi kemudian menghampiri kami dan memperkenalkan komunitasnya yang bernama TNT Fighter.
Saat itu, beberapa anggota dari komunitas tersebut sedang berlatih bersama. Mereka berlatih mengenai dasar-dasar bela diri secara berpasangan. Ada yang melakukan gerakan tendangan dan pukulan secara silih berganti.
Bahkan, kalau saya perhatikan lamat-lamat, tidak hanya gerakan tangan maupun kaki yang bermain, ada ekspresi yang ikut membersamai. Mereka juga membuat suara efek secara manual guna mendukung aksi itu.
Dari situlah, saya mulai memahami bahwa stunt fighting bukan hanya soal keberanian. Di baliknya, ada perhitungan pada setiap gerakan.
Bukan Sekadar Berkelahi Belaka
Selain perhitungan, ada kerja sama antara orang yang melakukan serangan dan menerima serangan, begitu pun sebaliknya.
Mungkin ini terlihatnya sederhana, tetapi begitu tahu prosesnya, ternyata tidak semudah membalikkan tangan.
Menurut Andhi, setiap anggota harus bekerja sama untuk menyelaraskan gerakan saat disorot kamera.
"Kesulitannya itu menyatukan ritme, frekuensi teman-teman. Harusnya itu satu frekuensi," ujar Andhi.
Tidak mengherankan jika gerakan tersebut tidak ada yang dilakukan secara seorang diri. Begitu satu orang melayangkan pukulan, yang lainnya harus mengetahui responsnya akan seperti apa.
Andhi mengatakan bahwa proses tersebut membutuhkan trial and error. Setiap kesalahan perlu dievaluasi, supaya gerakan tetap aman sekaligus terlihat bagus di kamera.
Bagian ini sejujurnya cukup membuka mata saya. Sebab, dari luar, gerakan mereka memang terlihat seperti perkelahian sungguhan. Namun, sebenarnya mereka sedang membangun gerakan yang harus tampak seperti nyata.
Satu Detik di Layar, Ternyata Prosesnya Panjang
Hal lain yang membuat saya semakin menyadari sulitnya stunt fighting adalah soal durasi.
Mungkin bagi penonton, satu gerakan mungkin hanya berlangsung selama satu detik. Seperti pukulan datang, lawan terhuyung, sedetik kemudian sudah berganti adegan lain.
Padahal, proses di balik satu detik tersebut tidaklah seringkas itu.
Andhi menjelaskan bahwa beberapa gerakan saja sudah dapat membuat tubuh terasa lelah saat latihan. Ia pun menekankan menjaga stamina merupakan hal terpenting untuk mengoptimalkan adegan yang sekiranya membutuhkan durasi panjang.
"Kalau kalian lihat, satu gerakan itu baru satu detik di film," katanya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut bisa jauh berbeda dengan adegan berlangsung selama beberapa menit. Maka dari itu, seorang stunt fighter harus mampu mengontrol rasa lelah sekaligus menjaga ritme agar sesuai koreografi.
Saya jadi kembali membayangkan setiap adegan perkelahian yang selama ini saya tonton. Mungkin terlihatnya seperti adegan sepele. Padahal di balik gerakan singkat tersebut membutuhkan latihan berulang kali.
Dalam bayangan saya, semakin keras pukulan dilakukan, akan terlihat sangat meyakinkan adegannya. Ternyata, pukulan tersebut justru harus dikontrol.
Sebagai seorang penggagas sekaligus pelatih dari komunitas yang dibangunnya, Andhi sering kali menemukan anggota yang baru belajar biasanya masih kesulitan mengendalikan tenaga.
Ada kalanya pukulan bisa terlepas dan mengenai wajah maupun tubuh lawan. Demikian, kontrol pukulan menjadi salah satu hal yang harus terus dilatih.
"Yang rutin itu kita training gimana mereka mengontrol pukulan. Pernah itu ada kejadian yang kena muka lawannya beneran," ungkap Andhi.
Tidak hanya pukulan, tendangan pun harus ikut dikendalikan. Tujuannya agar gerakan terlihat keras tanpa benar-benar mencederai orang lain.
Pada titik ini, saya merasa anggapan bahwa stuntman hanya mengandalkan keberanian semakin keliru, ya.
Justru dengan kemampuan mengendalikan diri menjadi hal terpenting. Mereka harus tahu kapan mengeluarkan tenaga dan kapan harus menahannya.
Selain kontrol diri, mereka juga diharuskan untuk mempelajari respons atau reaksi pada setiap adegan tersebut.
Ketika terkena pukulan, misalnya, respons tubuh harus terlihat meyakinkan. Andhi menyebutkan kemampuan tersebut tidak terlepas dari kemampuan akting.
"Bagaimana sih akting sakit? Cara merasakannya dengan benar-benar terasa itu gimana, ya kita latih itu," jelas Andhi.
Melihat Adegan Film dengan Cara Berbeda
Potret seseorang sedang menendang lawan mainnya dalam sesi latihan dalam komunitas TNT Fighter. (dok.TNT Fighter/Andhi Iqbal)
Potret seseorang sedang menendang lawan mainnya dalam sesi latihan dalam komunitas TNT Fighter. (dok.TNT Fighter/Andhi Iqbal)
Pengalaman baru turut dirasakan oleh Zarina. Ia merasa pertemuan tersebut ikut membuka pandangan baru mengenai proses di balik adegan yang selama ini hanya dilihat melalui televisi.
"Ini ngebuka mata aku banget, sih. Apalagi jadi nambah pengetahuan juga, kan. Ternyata di balik adegan yang biasanya lihat di TV, itu melalui proses yang lumayan menantang," ujar Zarina.
Setuju dengan pernyataan Zarina yang cukup mendefinisikan pengalaman kami hari itu. Mungkin selama ini, kami hanya melihat hasil akhirnya melalui layar.
Di sinilah, pengalaman hari itu akhirnya mengubah cara pandang terhadap profesi stuntman.
Tidak hanya harus latihan berulang kali, setiap gerakan yang penuh perhitungan, kontrol terhadap tenaga, hingga koneksi antara pemain.
Mungkin yang disorot kamera hanya berlangsung dalam beberapa detik. Namun, di balik beberapa detik tersebut, terselip proses panjang yang jarang diketahui oleh penonton.
Begitu berkesempatan melihat secara langsung, saya tidak lagi melihat adegan perkelahian dalam film dengan cara yang sama.
Baca Juga
-
Mengintip Keseruan TNT Fighter: Komunitas Stunt Fighting yang Buka Jalan ke Layar Lebar
-
Liputan IIBF 2026: Nonton Bilal Indrajaya, Kulineran, hingga Pesan Puisi Dadakan Seikhlasnya
-
Tak Perlu Jadi Manusia Super, Tanyakan 3 Hal Ini ke Dirimu Sendiri untuk Menjaga Kewarasan
-
Bencana Semakin Intens, Bagaimana Negara Cegah Krisis Pangan?
-
Jamuan Puan Rimba, Membawa Cerita Perempuan Penjaga Hutan Lewat Pangan Lokal
Artikel Terkait
-
Dari Buleleng hingga Meratus, GEF SGP Perkuat Aksi Komunitas untuk Lingkungan
-
Mengintip Keseruan TNT Fighter: Komunitas Stunt Fighting yang Buka Jalan ke Layar Lebar
-
Kisah Pak Rejo PLTMH Kedungrong, Modal Otodidak Wujudkan Listrik Tanpa PLN
-
Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Komunitas Ini Bikin Tren Baru Akhir Pekan Bareng Anjing Kesayangan
-
Mobil Listrik iCAR V23 Tembus Penyerahan 1.000 Unit ke Konsumen Indonesia
News
-
UU Ketenagakerjaan Baru Sah: Ojol dan Kreator Resmi Diakui Pekerja
-
Mengintip Keseruan TNT Fighter: Komunitas Stunt Fighting yang Buka Jalan ke Layar Lebar
-
Seni Perlawanan di JABFest 2026: Lomba Mewarnai Jadi Cara Lawan Impunitas
-
Soroti Pendidikan, Ugoran Sebut Aksi Kamisan Kini Jadi Kampus Rakyat
-
Kisah Ibu Misidah dan Perlawanan Sunyi Petani Karisma di Kulon Progo
Terkini
-
Review Film Bad Apples: Apesnya Bocah Nakal Disandera Guru Sendiri
-
Tentang Masa Depan yang Belum Terjadi dan Pikiran yang Sibuk Khawatir
-
Arin dan Yoon Chan Young Jadi Pemeran Utama Film Horor Bongcheon-dong Ghost
-
Bahaya Brain Rot: Ketika Video Singkat Mengikis Fokus dan Daya Kritis
-
Ulasan Until August: Ketika Usia Tak Menghentikan Pencarian Jati Diri