M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Sekelompok pria mengatur peralatan kamera untuk syuting film di hutan yang rimbun. (dok.Pexels/JEFERSON GOMES)
Chairun Nisa

Ketika menonton film, perhatian penonton langsung tertuju pada cerita, akting, dan visual yang ditampilkan. Namun, ada proses panjang di balik layar yang membutuhkan begitu banyak sumber daya.

Film dengan produksi besar ternyata melibatkan ratusan orang dan berbagai peralatan. Mulai dari para pemain, kru, produser, hingga pekerja di balik layar yang harus berpindah lokasi selama proses syuting berlangsung.

Mengutip laman The Starfish, Kamis (8/10), aktivitas tersebut justru meninggalkan jejak terhadap lingkungan. Bahkan, produksi film dengan anggaran sekitar 70 juta USD mampu menghasilkan jejak karbon sekitar 3.370 metrik ton.

Jumlah itu setara dengan emisi dari penggunaan listrik sekitar 656 rumah selama satu tahun. Lalu, sebenarnya dari mana saja jejak karbon produksi film itu bermula?

Perjalanan Kru hingga Pemain Menyumbang Emisi Karbon

Salah satu sumber emisi berasal dari perjalanan, baik udara maupun darat. Produksi film berskala besar tidak selalu diadakan hanya di satu lokasi.

Semakin banyak perjalanan yang dilakukan, emisi yang dihasilkan terus membesar. Kondisi tersebut menjadi tantangan, mengingat industri transportasi seperti penerbangan menjadi salah satu sumber emisi karbon.

Begitu besarnya kebutuhan perjalanan bahkan bisa terlihat pada produksi film berskala besar. Pada proses praproduksi hingga syuting dapat melibatkan perjalanan kru dalam jarak yang sangat jauh.

Generator Diesel Jadi Sumber Emisi di Lokasi Syuting

Permasalahan lingkungan tidak berhenti hanya pada perjalanan. Kebutuhan energi di lokasi syuting turut menjadi bagian penting.

Sebuah produksi bisa saja membutuhkan trailer, kendaraan rekreasi, lampu, kamera, hingga peralatan suara. Semua perlengkapan tersebut akan sangat mengandalkan energi agar dapat digunakan selama proses syuting berlangsung.

Generator menjadi salah satu sumber energi yang umum digunakan di lokasi produksi. Sebagian generator tersebut masih menggunakan diesel sebagai bahan bakar fosil.

Dari kebutuhan energi inilah yang tanpa disadari dapat meningkatkan emisi jika proses syutingnya dilakukan dalam kondisi cuaca ekstrem.

Bahkan pada musim dingin, misalnya, generator harus bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap nyaman.

Kurang lebih 30 persen bahan bakar dalam produksi dipakai untuk menjalankan generator. Sebagian besar penggunaan lainnya berhubungan dengan kebutuhan transportasi.

Ratusan Kru juga Memproduksi Sampah

Begitu banyaknya jumlah orang yang terlibat dalam produksi turut menimbulkan persoalan baru. Misalnya, pola konsumsi selama proses produksi juga jadi perhatian tersendiri.

Produksi yang berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ini membutuhkan pasokan makanan dalam jumlah besar. Dari aktivitas tersebut, sampah makanan dan kemasan juga dapat dihasilkan.

Di sini diketahui bahwa pengelolaan sampah menjadi hal yang sangat penting. Sebab, tidak semua limbah produksi secara otomatis berakhir di tempat yang tepat. Penggunaan berbagai perlengkapan sekali pakai turut menambah beban sampah.

Artinya, jejak lingkungan sebuah film tidak hanya bersumber dari emisi karbon. Pola konsumsi selama proses produksi juga perlu menjadi perhatian.

Usut punya usut, permasalahan ini juga berdampak pada kawasan alam. Hutan, pantai, gurun, hingga taman nasional biasanya sering dipilih sebagai latar belakang sebuah film.

Karena alam mampu memberikan latar yang sesuai dengan kebutuhan cerita.

Namun, aktivitas produksi di kawasan alam berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem. Kendaraan maupun peralatan yang keluar-masuk lokasi tanpa sadar meninggalkan jejak pada lingkungan.

Salah satu contohnya ada dalam produksi film Mad Max: Fury Road di Namibia.

Pengelolaan area syuting yang kurang baik dan matang dinilai menimbulkan jejak kendaraan di kawasan tersebut. Padahal sebelumnya kawasan itu minim intervensi.

Aktivitas tersebut juga berdampak pada tanaman serta habitat satwa tertentu. Masalah tersebut membuktikan bahwa pemilihan lokasi syuting perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Kini Industri Film Mulai Bergerak Lebih Hijau

Dampak lingkungan yang sangat besar kemudian mendesak munculnya berbagai upaya untuk membuat produksi film menjadi lebih berkelanjutan.

Salah satunya melalui Green Production Guide yang membantu produksi film untuk mengurangi jejak karbon.

Dari praktik tersebut mencakup pengurangan sampah dan penggunaan sumber energi yang lebih bersih.

Sejumlah proyek juga didapati telah mulai beralih menggunakan skema kompensasi karbon untuk menyeimbangkan emisi yang dihasilkan.

Selain itu, konsultan lingkungan juga ikut dilibatkan dalam produksi untuk memberikan masukan terkait praktik yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Langkah-langkah itu dinilai dapat mengubah proses produksi film menjadi lebih ramah lingkungan. Mulai dari meminimalkan perjalanan yang dirasa tidak begitu penting hingga mengelola energi dan sampah yang lebih baik.

Pada dasarnya, kemegahan sebuah film tidak hanya dilihat dari hasil akhir yang tayang di layar. Ada jejak lingkungan yang tertinggal jauh sebelum film tersebut bisa dinikmati oleh penonton.