Sering kali hujan ekstrem dilihat sebagai ancaman yang menyebabkan banjir di perkotaan. Namun, penelitian terbaru memperlihatkan bahwa hubungan keduanya ternyata berlangsung dua arah.
Melansir laman Phys, Kamis (8/10), kota tidak hanya menerima hujan, melainkan juga bisa memengaruhi proses yang membentuk hujan tersebut.
Temuan tersebut dibahas dalam penelitian yang dipimpin oleh profesor di Nanjing University, China, Long Yang. Bahkan penelitian itu melibatkan peneliti dari berbagai negara dan dipublikasikan dalam jurnal Nature Cities.
Long Yang memperkenalkan konsep urban rainfall effect, yakni sebuah kondisi ketika lingkungan perkotaan dapat memengaruhi perkembangan, intensitas, pergerakan, hingga persebaran hujan.
Salah satu faktor yang berperan penting adalah permukaan perkotaan seperti jalan, atap, dan struktur bangunan.
Material-material tersebut dapat mengubah kapasitas penyerapan dan penyimpanan panas di permukaan.
Kondisi ini yang kemudian memengaruhi sirkulasi energi dan kelembapan antara kota dengan atmosfer sekitar.
Pemanasan yang terjadi lebih kuat di kawasan perkotaan dapat menambah daya apung atmosfer di lapisan dekat permukaan. Bahkan dalam kondisi tertentu, proses tersebut bisa memicu pembentukan awan konvektif dan memperkuat intensitas hujan dalam durasi singkat.
Selain panas, kepadatan bangunan juga bisa mengubah pola angin. Permukaan kota yang lebih kasar bisa saja memengaruhi turbulensi dan pergerakan udara di sekitar bangunan.
Melansir dari penelitian tersebut, kondisi ini dapat menimbulkan bentrok antara massa udara dan penguapan udara. Dampaknya bisa berupa hujan jadi lebih deras di sekitar atau di wilayah yang berada di arah angin dari kota.
Tidak hanya itu, polusi perkotaan ternyata ikut diperhitungkan. Aerosol dari aktivitas manusia dapat berperan dalam proses pembentukan awan dan memengaruhi pergerakan pola hujan.
Namun, pengaruh kota terhadap hujan tidak secara otomatis sama. Hasilnya kembali lagi bergantung pada ukuran kota, kepadatan bangunan, kondisi atmosfer, kelembapan, jumlah aerosol, hingga jenis badainya.
Maksudnya adalah di sini ditekankan bahwa tidak semua kota mengalami hujan yang kian deras. Pengaruh tersebut dapat berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungan dan atmosfer yang melatarbelakanginya.
Kota Bukan Cuma Korban Hujan
Seorang profesor perubahan dampak iklim dari Newcastle University sekaligus salah satu penulis penelitian ini, Hayley Fowler, menyebut hujan ekstrem berdurasi singkat semakin memperparah ancaman yang mengintai kawasan perkotaan.
"Kita tahu perubahan iklim meningkatkan intensitas hujan ekstrem berdurasi singkat yang dapat membebani sistem drainase perkotaan dan menyebabkan banjir bandang yang parah," terangnya.
Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat ternyata dapat membuat air jadi lebih cepat terakumulasi di kawasan perkotaan.
Fenomena inilah yang membuat risiko semakin tinggi. Sebab, kapasitas drainase tidak mampu menampung limpasan air secara lebih maksimal.
Menurut Fowler, penelitian tersebut memberikan pandangan baru dalam melihat risiko hujan ekstrem. Kota tidak hanya menerima dampak hujan, melainkan juga dapat memengaruhi proses pembentukan badai.
"Kota bukan sekadar penerima pasif hujan ekstrem, tetapi juga memengaruhi proses yang membentuk badai itu sendiri," katanya.
Temuan tersebut membuat relasi antara kota dan hujan perlu dinilai sebagai suatu sistem yang saling memengaruhi.
Risiko banjir di perkotaan tidak lagi cukup hanya dilihat dari banyaknya jumlah hujan yang turun. Kondisi permukaan kota, bangunan, pola angin, hingga aktivitas manusia juga penting untuk ikut diperhitungkan.
Para peneliti pun meminta penelitian terkait hujan ekstrem tidak lagi memandang hujan sebagai faktor eksternal. Sebaliknya, ada banyak faktor yang perlu dipahami secara menyeluruh.
Dengan memahami kota sebagai bagian aktif dari sistem hujan, upaya meminimalisir risiko banjir juga bisa dirancang dengan mempertimbangkan cara air itu mengalir, tetapi juga bagaimana lingkungan perkotaan dapat memengaruhi hujan sejak proses pembentukannya berlangsung.
Baca Juga
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau
-
Melihat Langsung Dapur 'Stunt Fighting': Saat 1 Detik Bertarung Butuh Keringat Panjang
-
Mengintip Keseruan TNT Fighter: Komunitas Stunt Fighting yang Buka Jalan ke Layar Lebar
-
Liputan IIBF 2026: Nonton Bilal Indrajaya, Kulineran, hingga Pesan Puisi Dadakan Seikhlasnya
Artikel Terkait
-
Gus Ipul Sambangi dan Salurkan Bantuan Korban Banjir Bandang Solok
-
Rob Diprediksi Rendam Pesisir Jakarta pada 1314 dan 2531 Oktober
-
Tragis! Afghanistan Tersingkir dari Asian Games 2026 Tanpa Bertanding karena Lapangan Banjir
-
WNI Terjebak di Hotel saat Banjir Besar di Bangkok
-
Banjir Bangkok Meluas, 50 Distrik Ditetapkan Sebagai Zona Bencana Nasional
News
-
Menanti Kejelasan Laporan Insiden Prambanan, PSHT Minta Adil dan Transparan
-
Dugaan Cacat Prosedur Tersangka Insiden Prambanan, Kuasa Hukum Buka Suara
-
Menyelamatkan Nyawa di Ujung Perbatasan: Akhir Tragis Pelarian Kapal Penyelundup di Bintan
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
Terkini
-
Jeda dari Performative Happiness: Tersenyum di Medsos, Lelah di Dunia Nyata
-
Anak Takut Salah dan Terobsesi Sempurna? Buku Ini Punya Jawaban Menenangkannya!
-
Mengenang Nasi Pecel Rp2 Ribuan, Kenapa Kuliner Ini Nggak Pernah Ada Matinya?
-
Review Who Is Martin Mull?: Dokumenter Biografi Netflix yang Mengaduk-aduk Emosi Penonton
-
Terjebak FYP Sampai Jam 1 Pagi? Ini Alasan Otakmu Gagal Berhenti Scrolling