Kolaborasi akademisi lintas perguruan tinggi bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menghadirkan inovasi untuk memperkuat komunikasi bencana di kawasan wisata rawan bencana. Inisiatif tersebut diwujudkan melalui diseminasi hasil penelitian RISPRO LPDP dan peluncuran aplikasi SIGUMI di Wantilan Sabha Prakerti, Kabupaten Karangasem, Bali, Senin (12/10/2026).
Kegiatan yang melibatkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Diponegoro (UNDIP), dan MDMC ini menjadi bagian dari peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana 2026. Fokus utamanya adalah mendorong komunikasi risiko bencana yang lebih inklusif, terintegrasi, dan melibatkan berbagai pihak, terutama di kawasan wisata rawan bencana Gunung Agung.
Penelitian yang menjadi dasar kegiatan ini mengusung tajuk “Mitigasi Komunikasi Bencana Inklusif melalui Aplikasi SIGUMI dalam Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan di Kawasan Objek dengan Daya Tarik Wisata (ODTW) di Indonesia”. Penelitian tersebut mencakup tiga kawasan gunung berapi, yakni Gunung Merapi di Yogyakarta, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.
Rangkaian kegiatan meliputi pemaparan hasil penelitian, peluncuran dan uji coba aplikasi SIGUMI, serta edukasi mitigasi bencana bagi masyarakat dan pemangku kepentingan. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, komunitas, dan berbagai pihak yang berperan dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Menghubungkan Hasil Penelitian dengan Kebutuhan di Lapangan
Ketua Tim Peneliti RISPRO, Prof. Dr. Adhianty Nurjanah, S.Sos., M.Si., Ph.D. dari UMY, menjelaskan bahwa penelitian ini berupaya menghadirkan solusi komunikasi bencana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di Kabupaten Karangasem.
Menurutnya, komunikasi bencana tidak cukup hanya mengandalkan penyampaian informasi. Diperlukan sistem yang mampu menjangkau berbagai kelompok masyarakat serta mendorong keterlibatan pemerintah, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Penelitian ini merupakan wujud konkret kontribusi akademisi dalam membantu menyelesaikan persoalan kebencanaan, khususnya di kawasan wisata rawan bencana. Salah satu tantangan yang perlu dijawab adalah belum optimalnya komunikasi bencana yang efektif, inklusif, dan melibatkan seluruh unsur pentahelix. Melalui pengembangan aplikasi SIGUMI dan kolaborasi lintas perguruan tinggi serta mitra pengabdian, kami berupaya menghadirkan inovasi komunikasi bencana inklusif yang dapat mendukung kebutuhan komunikasi risiko bencana di Kabupaten Karangasem,” ujar Adhianty.
Ia menambahkan, masyarakat dan pengelola destinasi wisata perlu dilibatkan dalam upaya kesiapsiagaan. Dengan begitu, teknologi dapat membantu memperkuat hubungan antara penyedia informasi, pengambil kebijakan, dan masyarakat yang membutuhkan informasi kebencanaan.
SIGUMI Hadir sebagai Pendukung Komunikasi Risiko Bencana
Salah satu agenda utama kegiatan ini adalah peluncuran dan uji coba aplikasi SIGUMI. Aplikasi tersebut dikembangkan sebagai bagian dari penerapan hasil penelitian untuk mendukung komunikasi risiko bencana di kawasan wisata rawan bencana.
Sesi pengenalan dan praktik penggunaan aplikasi dipandu oleh Kurniawan Teguh Martono, S.T., M.T. dari UNDIP selaku perancang aplikasi, bersama tim peneliti RISPRO. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai aplikasi sekaligus kesempatan untuk mencoba penggunaannya secara langsung.
SIGUMI diharapkan dapat membantu membuat komunikasi risiko bencana lebih terstruktur dan terkoordinasi. Namun, pemanfaatannya secara berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan kelembagaan, pengelolaan informasi yang tepat, serta koordinasi antarinstansi.
Penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat dan mekanisme penanggulangan bencana di daerah juga menjadi hal penting agar aplikasi tersebut dapat memberikan manfaat nyata.
Pemkab Karangasem Dukung Pemanfaatan SIGUMI
Pemerintah Kabupaten Karangasem turut menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan penelitian RISPRO dan pengembangan aplikasi SIGUMI. Dalam kegiatan tersebut, sambutan Bupati Karangasem disampaikan oleh Sekretaris Daerah.
Dukungan pemerintah daerah dinilai penting untuk mendorong pemanfaatan hasil penelitian agar tidak berhenti pada pengembangan teknologi, tetapi juga dapat diterapkan sesuai kebutuhan di lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karangasem, I Made Aditya Sugiharta, juga menyampaikan apresiasi kepada tim peneliti atas kontribusinya dalam menghadirkan inovasi komunikasi kebencanaan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada tim peneliti RISPRO atas kontribusi dan inovasi yang dihadirkan melalui aplikasi SIGUMI. BPBD Kabupaten Karangasem mendukung upaya pemanfaatan aplikasi ini agar dapat memberikan manfaat nyata dalam memperkuat komunikasi kebencanaan dan mengurangi risiko bencana, khususnya di kawasan Gunung Agung, Karangasem, Bali. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut sehingga SIGUMI dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan mendukung kesiapsiagaan masyarakat,” ujar I Made Aditya Sugiharta.
Ke depan, kolaborasi antara tim peneliti dan pemerintah daerah diharapkan dapat berlanjut melalui koordinasi dengan BPBD serta instansi terkait. Dengan demikian, penerapan SIGUMI dapat disesuaikan dengan kebutuhan lapangan dan sistem penanggulangan bencana yang berlaku.
MDMC Dorong Edukasi Mitigasi bagi Masyarakat dan Wisatawan
Selain memperkenalkan teknologi, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi mitigasi bencana yang disampaikan oleh Budi Setiawan dari MDMC selaku mitra pengabdian.
Materi yang diberikan menyoroti pentingnya mengenali potensi bahaya, memahami langkah mitigasi, dan mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika situasi darurat terjadi. Edukasi ini menjadi relevan bagi kawasan wisata karena tidak hanya melibatkan masyarakat setempat, tetapi juga pengunjung yang belum tentu memahami kondisi lingkungan di sekitarnya.
“Dalam rangka memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana, MDMC turut berkontribusi melalui edukasi kebencanaan, khususnya bagi masyarakat dan para pemangku kepentingan di kawasan wisata rawan bencana. Edukasi ini penting untuk meningkatkan pemahaman mengenai potensi risiko, langkah mitigasi, serta tindakan yang perlu dilakukan ketika terjadi situasi darurat. Kawasan wisata tidak hanya melibatkan masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan yang belum tentu memahami kondisi dan potensi ancaman bencana di lokasi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kesiapsiagaan dan komunikasi risiko yang baik agar keselamatan masyarakat maupun wisatawan dapat lebih terlindungi,” ujar Budi Setiawan.
Kolaborasi penelitian ini melibatkan Prof. Dr. Adhianty Nurjanah dari UMY, Riski Apriliani dari UMS, dan Kurniawan Teguh Martono dari UNDIP, dengan Budi Setiawan dari MDMC sebagai mitra pengabdian.
Kerja sama tersebut mempertemukan keahlian akademisi, pengembangan teknologi, dan edukasi kebencanaan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Keterlibatan berbagai unsur diharapkan dapat memperkuat koordinasi serta menciptakan komunikasi kebencanaan yang lebih terpadu.
Perkuat Kesiapsiagaan untuk Pariwisata Berkelanjutan
Kegiatan di Karangasem turut melibatkan berbagai instansi dan pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah kabupaten, BPBD, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, hingga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Sejumlah unsur lainnya juga terlibat, termasuk TNI-Polri, Basarnas, PMI, MDMC, Forum Pengurangan Risiko Bencana, Pasebaya, dan pihak terkait lainnya.
Keterlibatan berbagai lembaga tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan yang tidak hanya bergantung pada satu pihak. Komunikasi yang terkoordinasi, edukasi berkelanjutan, dan dukungan teknologi dibutuhkan agar masyarakat maupun wisatawan dapat memperoleh informasi risiko bencana yang relevan.
Melalui penelitian RISPRO LPDP, UMY, UMS, UNDIP, dan MDMC berharap dapat berkontribusi pada pengembangan sistem komunikasi bencana yang inklusif dan berkelanjutan.
Peluncuran SIGUMI, diseminasi hasil penelitian, serta edukasi mitigasi di Karangasem menjadi langkah untuk mendekatkan hasil riset dengan kebutuhan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kesiapsiagaan menghadapi bencana sekaligus mendorong pengembangan kawasan wisata yang lebih aman dan berkelanjutan.
Baca Juga
-
Drakor Happy Anding Tayang 6 November, Ini Daftar Para Pemain Utamanya
-
Setangkai Melati di Sayap Jibril: Sastra Surealis, Spiritualitas, dan Kegelisahan Zaman
-
Bisakah Limbah Sawit Gantikan Plastik Sekali Pakai? Studi Ungkap Hal Ini
-
Review Film Animals: Ketika Kursi Politik Lebih Berharga daripada Nyawa Anak Sendiri?
-
Purim Baskets: Buku Anak tentang Kebaikan dan Kegembiraan Berbagi
Artikel Terkait
-
Pakar Hukum Desak Pembebasan Bersyarat Mas Bechi Dicabut
-
Cerita Pilu Sopir Truk di Bali Dibakar Bos Gegara Setoran, Tewas Setelah Seminggu Kritis
-
Kisah Pemilah Sampah Tumbangkan Petahana: Sinyal Kuat Perubahan Politik dari Desa hingga Pilpres
-
Pakar Ingatkan BGN: Sertifikat Higiene Tak Cukup Cegah Keracunan MBG
-
Polisi Punya Dapur Terbanyak, Pakar: Jangan Tutup Mata Soal Kasus Keracunan MBG!
News
-
Bisakah Limbah Sawit Gantikan Plastik Sekali Pakai? Studi Ungkap Hal Ini
-
Membedah Luka Lewat Sastra dan Psikologi di Communitimes: Book Talk and Community Support Circle
-
Gandeng Tiga Mitra Industri, SaIG UPI Gelar GEOCAB untuk Bincang Karier
-
Bukan Musim Semi, Mengapa Bunga-Bunga Bermekaran Serentak di Jalanan Kota?
-
Mengenal Urban Rainfall Effect: Alasan Ilmiah Kenapa Hujan di Perkotaan Jauh Lebih Ekstrem
Terkini
-
Drakor Happy Anding Tayang 6 November, Ini Daftar Para Pemain Utamanya
-
Setangkai Melati di Sayap Jibril: Sastra Surealis, Spiritualitas, dan Kegelisahan Zaman
-
Review Film Animals: Ketika Kursi Politik Lebih Berharga daripada Nyawa Anak Sendiri?
-
Purim Baskets: Buku Anak tentang Kebaikan dan Kegembiraan Berbagi
-
Tak Harus Selalu Upgrade Skill: Kita Juga Butuh Waktu Menjadi Diri Sendiri