Ruang redaksi yang biasanya hanya diisi suara ketikan cepat dan diskusi berita yang serius mendadak berubah total. Selasa (13/10/2026) pagi, markas Suara.com 'dibajak' oleh suara langkah-langkah kecil dan celoteh penuh semangat dari 60 jurnalis cilik! Mereka adalah siswa-siswi kelas 5 VIS School Kelapa Gading yang datang menuntaskan rasa penasaran lewat kegiatan Media Visit. Hari itu, mereka tak sekadar datang sebagai murid, tetapi siap membongkar rahasia di balik dapur media digital.
Kegiatan dibuka dengan pengenalan Suara.com oleh Sisfira dari tim Marketing Commuication. Sisfira menjelaskan jika saat ini, media tidak hanya berbentuk teks saja, tapi juga merambah dunia konten kreator.
Sesi selanjut adalah materi tentang dunia jurnalistik oleh Reza Sulaiman dari tim Yoursay/Komunitas Suara.com. Para siswa diperkenalkan pada dunia media digital: bagaimana media bekerja di era serba online, apa saja jenis-jenis media massa, dan bagaimana sebuah berita dibuat sebelum sampai ke layar gawai pembaca.
Reza menjelaskan bahwa tugas seorang reporter adalah menyampaikan informasi kepada masyarakat. Peran ini terdengar sederhana, tetapi mengandung tanggung jawab besar, karena informasi yang disampaikan akan dibaca, dipercaya, dan bisa memengaruhi cara orang memandang suatu peristiwa.
Ada satu pesan yang ia tekankan kepada anak-anak: jadilah pembaca yang pintar. Jangan langsung percaya pada berita yang hanya berasal dari satu sumber. Biasakan memverifikasi fakta, membandingkan dengan sumber lain, dan memeriksa kebenarannya sebelum percaya atau membagikan. Bagi generasi yang tumbuh dengan gawai di genggaman, pesan ini bekal yang sangat relevan.
Sesi Tanya Jawab: Kecil-kecil, Kritis!
Begitu sesi tanya jawab dibuka, suasana ruangan makin hidup. Beberapa siswa tampak sangat antusias bertanya kepada para kakak mentor, dan pertanyaan mereka terbilang kritis. Para mentor sampai harus menjawab dengan hati-hati.
Salah satu pertanyaan yang cukup menarik berasal dari siswa bernama Tobias. Ia bertanya tentang apa alasan sebuah berita bisa terbit, yang dijawab dengan lugas.
"Berita yang terbit dipilih berdasarkan news value yang dimiliki. Tingginya news value didasarkan pada apakah berita tersebut memengaruhi kepentingan orang banyak atau tidak. Salah satu contohnya, berita tentang kebakaran hutan di Kalimantan memiliki news value lebih tinggi daripada copet di lampu merah. Sehingga, redaktur akan memilih berita kebakaran hutan untuk diterbitkan," terang Reza.
Antusiasme sesi tanya jawab menunjukkan bahwa anak-anak punya rasa ingin tahu yang besar tentang dunia informasi yang setiap hari mereka konsumsi. Rasa ingin tahu semacam inilah yang menjadi modal penting, baik untuk menjadi pembaca cerdas maupun, siapa tahu, jurnalis di masa depan.
Main Peran Hingga Mengintip Dapur Berita
Setelah menyimak materi, para siswa langsung praktik lewat bermain peran. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok dan memerankan profesi yang ada di industri media, yaitu reporter, marketing communication (marcomm), dan redaktur.
Setiap kelompok mewawancarai mentor mereka tentang pekerjaan di balik peran-peran tersebut. Dari hasil wawancara itu, kelompok diberi waktu 10 menit untuk menulis sebuah berita, lalu mempresentasikannya di depan kepada teman-teman.
Waktu yang singkat membuat suasana terasa seperti ruang redaksi sungguhan: ada tenggat, pembagian tugas, dan kerja sama tim. Dari sini anak-anak merasakan sendiri bahwa membuat berita bukan pekerjaan satu orang. Reporter mencari dan menyampaikan informasi, redaktur menyusun dan menyunting, dan marcomm ikut berperan dalam menjembatani kebutuhan redaksi dengan pihak lainnya.
Lalu, sesi terakhir adalah office tour. Para siswa diajak berkeliling melihat suasana kerja di kantor Suara.com. Mereka menjelajahi berbagai ruangan dengan penuh rasa penasaran, melihat bagaimana pekerjaan di industri media berlangsung, dan sesekali menyapa para pekerja yang sedang bertugas.
Bagi banyak anak, ini mungkin pertama kalinya mereka melihat langsung tempat berita yang biasa mereka baca dibuat. Rasa kagum itu terlihat jelas dari wajah mereka sepanjang tur.
Bekal Berharga untuk Generasi Digital
Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali menyesatkan, membekali anak-anak dengan literasi media sedini mungkin adalah langkah pelindung yang krusial. Media Visit ini sukses mematahkan anggapan bahwa cara kerja jurnalistik terlalu berat untuk dipahami anak usia SD.
Entah kelak mereka akan benar-benar terjun menjadi jurnalis atau memilih profesi lain, 60 siswa VIS School ini telah mengantongi satu pelajaran mahal. Mereka pulang tak hanya membawa pengalaman seru mengintip dapur redaksi, tetapi juga kebiasaan baru yang akan terus mereka pakai seumur hidup: keengganan untuk langsung percaya pada sebuah kabar dan selalu memverifikasinya lewat pertanyaan sederhana, "Benarkah ini?"
Baca Juga
-
Lelah Batin dan Patah Hati? Coba 7 Langkah Pemulihan ala Penulis Satoshi Yagisawa Ini
-
Merayakan Usia 23 Tahun: Belajar Merangkul Sepi dari Penulis 'Days at the Morisaki Bookshop'
-
Merasa Bersalah Kalau Lagi Istirahat? Saatnya Belajar Seni Memberi Jeda Lewat Tulisan Reflektif
-
Menelisik Pameran 'On Equal Grounds": Saat Hierarki di Dunia Seni Diruntuhkan
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
Artikel Terkait
-
Ancaman RUU Penyiaran: Larang Investigasi hingga Pangkas Kode Etik Jurnalis
-
Donald Trump Kembali Izinkan CNN, MS NOW, dan Politico Liputan di Gedung Putih
-
Jenazah ABK Arupadhatu 1 Dimakamkan, 7 Korban Masih Hilang
-
Satu Kru Ditemukan di Enggano, Basarnas Pastikan Pencarian 5 Jurnalis Hilang Tak Berhenti
-
Jasad ABK Surakman Ditemukan, Keluarga Tak Kuasa Menahan Tangis di Rumah Duka
News
-
SIGUMI Diluncurkan di Karangasem, Dorong Kesiapsiagaan Bencana di Kawasan Wisata
-
Bisakah Limbah Sawit Gantikan Plastik Sekali Pakai? Studi Ungkap Hal Ini
-
Membedah Luka Lewat Sastra dan Psikologi di Communitimes: Book Talk and Community Support Circle
-
Gandeng Tiga Mitra Industri, SaIG UPI Gelar GEOCAB untuk Bincang Karier
-
Bukan Musim Semi, Mengapa Bunga-Bunga Bermekaran Serentak di Jalanan Kota?
Terkini
-
Sering Terlupakan, 3 Serealia Lokal Ini Bisa Jadi Pengganti Gandum
-
Harganya Bikin Mikir Dua Kali, Kenapa Kafe Estetik Tetap Banyak Diminati?
-
Review Love Story: Saat Nama Kennedy Terlalu Besar bagi Sebuah Cinta
-
Dialog Indonesia dan Masa Depan: Antara Modernisasi vs Kemanusiaan
-
Kolektor Kisah Unik Para Pelanggan Toko Buku Bekas: Ketika Buku Menyimpan Luka dan Kenangan