Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Dua siswa kelas VIII SMP IT Abu Bakar Yogyakarta, Lintang Irana Arioko dan Syifa Nauli Hidayat (tengah), mempresentasikan inovasi beras analog berbahan singkong dan daun kelor didampingi moderator (kiri) serta guru pendamping (kanan) dalam ajang Festival Inovasi Jogja (FIJ) 2026, Rabu (14/10/2026). (YourSay/Fairus Farizki)
Fairus Farizki

Dua siswa kelas VIII SMP IT Abu Bakar Yogyakarta, Lintang Irana Arioko dan Syifa Nauli Hidayat, mempresentasikan inovasi beras analog berbahan singkong dan daun kelor dalam Festival Inovasi Jogja (FIJ) 2026, Rabu (14/10/2026).

Penelitian berjudul “Beras Analog Berbasis Ketela Pohon Kolaborasi Oleifera Antioksidan Upaya Pencegahan Penyakit Jantung” tersebut meraih Juara 1 Anugerah Inovasi dan Penelitian (AIP) Kota Yogyakarta 2025.

Presentasi berlangsung di Ruang Seminar Pdt. Dr. Rudy Budiman, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), pukul 13.00–15.00 WIB. Diseminasi ini menjadi bagian dari rangkaian FIJ 2026, festival yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk memperkenalkan hasil inovasi serta membuka peluang kolaborasi.

Dalam presentasinya, Lintang dan Syifa menjelaskan pengembangan AnaRice, produk beras analog yang memanfaatkan potensi pangan lokal. Formulasi yang mereka gunakan terdiri atas 98 persen singkong atau ketela pohon dan 2 persen ekstrak daun kelor.

“Kesehatan jantung kita jaga, pangan lokal kita rawat, Indonesia maju bersama,” ujar Lintang dan Syifa saat membuka presentasi penelitian mereka secara bersama.

Gagasan tersebut berangkat dari kebiasaan masyarakat Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai pangan pokok, sementara singkong memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif. Penambahan ekstrak daun kelor ditujukan untuk memanfaatkan kandungan antioksidannya. Melalui penelitian ini, keduanya menguji karakteristik produk, kandungan nutrisi, serta penerimaan masyarakat terhadap beras analog yang dikembangkan.

Uji Produk dan Tantangan Penelitian

Dalam proses penelitian, Lintang dan Syifa menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Mereka melibatkan 30 panelis untuk menilai aspek organoleptik, meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur. Berdasarkan paparan mereka, tingkat penerimaan rata-rata produk mencapai lebih dari 80 persen.

“Untuk uji organoleptik, kami melibatkan 30 orang panelis dari berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga orang tua, agar mewakili keberagaman populasi,” jelas keduanya ketika menjawab pertanyaan peserta diskusi.

Guru pembimbing mereka, Puri Nengse Sri Sukowati, menjelaskan bahwa penelitian tersebut berlangsung pada Februari hingga Agustus 2025. Gagasan awalnya muncul dari keprihatinan terhadap kondisi kepala sekolah yang mengidap penyakit jantung serta keinginan mengembangkan alternatif pangan untuk mendukung kesehatan.

“Proses pembimbingannya membutuhkan kesabaran luar biasa. Karena siswa masih baru lulus SD, mereka belum paham teknis dasar seperti menyimpan file Word atau memindahkan data ke flashdisk,” ujar Puri.

Ia menambahkan, proses pengembangan produk sempat menghadapi kendala ketika adonan belum berhasil membentuk butiran menyerupai beras. Tim kemudian mengirimkan sampel ke Bandung untuk diproses menggunakan mesin granulator khusus.

Meski meraih penghargaan, AnaRice masih berada pada tahap pengembangan penelitian laboratorium. Lintang dan Syifa berharap produk tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kerja sama dengan petani singkong dan kelor di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Harapan itu sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan inovasi membutuhkan tahapan lanjutan setelah penelitian dilakukan. Dukungan pembimbing, pengujian produk, dan peluang kolaborasi menjadi faktor penting agar sebuah gagasan dapat terus berkembang. Semangat tersebut juga menjadi bagian dari ruang yang hendak dibangun melalui Festival Inovasi Jogja (FIJ) 2026.

FIJ Jadi Ruang Kolaborasi Inovasi

Festival Inovasi Jogja (FIJ) 2026 telah berlangsung sejak Selasa (13/10/2026) di UKDW. Memasuki penyelenggaraan tahun ke-10, festival ini memamerkan 30 karya inovasi organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Yogyakarta yang telah dikurasi dari 136 produk inovasi. Kegiatannya berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 dengan agenda pameran, seminar, diskusi, dan layanan publik.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta, Kadri Renggono, menilai kolaborasi menjadi kunci untuk mengembangkan inovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Pemerintah juga punya keterbatasan, baik dari sisi daerah, sumber daya manusia, anggaran, dan sebagainya. Namun, kalau kita bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak, tentu ini akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” ujar Kadri dalam pembukaan FIJ 2026, dikutip dari rilis resmi Pemerintah Kota Yogyakarta.

Melalui forum ini, hasil penelitian dapat diperkenalkan kepada publik dan membuka peluang pengembangan lebih lanjut. Presentasi Lintang dan Syifa menunjukkan bahwa gagasan inovasi dapat tumbuh sejak bangku sekolah, dengan dukungan pembimbing serta ruang kolaborasi yang memungkinkan penelitian berkembang melampaui lingkungan pendidikan.