Permata Bank melalui program tanggung jawab sosial menggelar Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) di SMP Negeri 3 Ngaglik, Sleman, Jumat (16/10/2026). Mengusung tema “24 Tahun, 24 Kota, Satu CERITA”, kegiatan ini menyasar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan edukasi pengelolaan uang dan keamanan transaksi digital.
Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Bank Indonesia (BI) DIY, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, serta pihak sekolah. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan uang saku, perbedaan kebutuhan dan keinginan, pengenalan pembayaran digital melalui QRIS, serta kewaspadaan terhadap risiko transaksi keuangan digital.
Urgensi edukasi ini tercermin dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun tercatat sebesar 56,04 persen, sedangkan indeks inklusi keuangannya mencapai 89,13 persen. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan belum selalu diiringi pemahaman yang memadai mengenai cara menggunakan layanan dan mengenali risikonya.
Finance and Sharia Business Unit Director Permata Bank, Rudy Basyir Ahmad, mengatakan perkembangan teknologi telah meningkatkan penggunaan transaksi digital di kalangan remaja.
“Banyak di antara mereka yang sudah aktif menggunakan smartphone untuk belanja online, transfer, hingga pembayaran QRIS. Oleh karena itu, kami ingin membangun kesadaran sejak dini agar para siswa lebih berhati-hati saat bertransaksi digital dan tercegah dari risiko kejahatan siber,” ujar Rudy dalam sambutannya di SMPN 3 Ngaglik, Jumat (16/10/2026).
Salah satu materi yang diperkenalkan ialah metode 3A, yakni Amati, Awasi, dan Adukan. Melalui prinsip ini, siswa diajak mencermati transaksi dan rekening tujuan sebelum melakukan pembayaran, menjaga kerahasiaan data pribadi, PIN, serta kata sandi, dan segera melaporkan transaksi mencurigakan. Mereka juga diingatkan agar tidak sembarangan mengeklik tautan dari sumber yang tidak dikenal.
Kepala OJK DIY, Eko Yunianto, turut mengingatkan pelajar agar waspada terhadap penipuan digital, penawaran pinjol ilegal, dan judi online yang dapat ditemukan melalui media sosial maupun iklan permainan. Menurutnya, kecakapan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan menilai risiko.
“Adik-adik sekalian memang harus cerdas secara akademik, juga harus cerdas dan bijak dalam keuangan digital. Penipuan digital saat ini sangat masif, sehingga kehati-hatian adalah kunci utama,” ujar Eko dalam sambutannya.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Hermanto, memperkenalkan prinsip PeKA, yaitu Peduli, Kenali, dan Adukan. Prinsip ini mengajak masyarakat memahami manfaat dan risiko transaksi digital, mengenali produk serta lembaga penyedia layanan keuangan, dan melaporkan masalah transaksi melalui saluran resmi.
“Zaman sekarang generasi muda kalau bepergian lebih cemas jika tertinggal HP daripada tertinggal dompet atau uang cash. Sebagian besar transaksi kini sudah berpindah ke dompet digital atau sistem pembayaran elektronik,” kata Hermanto.
Dari perspektif pendidikan, Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ponidi, menyebut literasi finansial sebagai salah satu kemampuan dasar yang perlu dikuasai siswa. Ia menjelaskan bahwa terdapat enam literasi dasar dalam pendidikan, yakni baca-tulis, numerasi, digital, sains, budaya dan kewarganegaraan, serta finansial.
Ponidi juga menyoroti dukungan terhadap lingkungan belajar siswa melalui pemeliharaan sarana sekolah.
“Bantuan ini bukan sekadar memperindah fisik sekolah, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap terciptanya lingkungan belajar yang bersih, nyaman, sehat, dan menyenangkan,” ujarnya dalam sambutan pada acara tersebut.
Rangkaian edukasi ini menempatkan literasi finansial sebagai bekal praktis bagi pelajar dalam kehidupan sehari-hari. Selain memahami cara mengelola uang saku, siswa perlu membangun kebiasaan memeriksa informasi, melindungi data pribadi, dan mengenali tanda-tanda penipuan sebelum mengambil keputusan dalam transaksi digital.
Baca Juga
-
PLTSa DIY Ubah Sampah Jadi Listrik, Solusi Masalah atau Beban Baru?
-
Jebakan Halusinasi Kemenangan, Mengapa Judi Online Bikin Orang Ketagihan?
-
Membaca The Man Who Knew Infinity: Ketika Timur Menggugat Dominasi Barat
-
Bahaya Deepfake AI: Dari Manipulasi Wajah Sultan hingga Krisis Kepercayaan
-
Bikin Suguhan Segar, Adili Idola Bawa Warna Baru Stand Up Comedy Indonesia
Artikel Terkait
-
Bahaya Deepfake AI: Dari Manipulasi Wajah Sultan hingga Krisis Kepercayaan
-
Bukan Sekadar Tarik Tunai, Agen BRILink Ikut Jadi Ujung Tombak Melek Keamanan Transaksi
-
E-book Bukan Solusi: Menyoal Keterjangkauan Buku di Tengah Digitalisasi
-
Menilik Peluang Bisnis Buku dan Komik Indonesia di Festival Literaia 2026
-
BRILink Agen Perluas Inklusi Keuangan Hingga ke Pelosok Desa, Senantiasa Gerakkan Ekonomi Lokal
News
-
Drama Kelangkaan BBM di Bali: Saat Pertalite Jadi 'Barang Mewah' di Tangan Calo Online
-
Dari Balik Jeruji ke Panggung Dunia: Produk Warga Binaan Nusakambangan Tembus TEI 2026
-
Pamerkan Inovasi, Dua Siswa SMP Presentasikan Inovasi Beras di FIJ 2026
-
Mandatalam Earth Run 2026 1 BIB 1 Bibit: Hadir di 3 Kota, Satu Langkah untuk Bumi yang Lebih Hijau
-
Selamat Jalan Martha Tilaar: Perjalanan sang Maestro Kosmetik Indonesia yang Bermodal Niat di Garasi
Terkini
-
Pulang dari Belanda ke Jakarta: Kapan Artefak Adat Benar-Benar Merdeka?
-
Kita Tak Wajib Menjadi Penampung Masalah Rumah Tangga Orang Lain
-
Apakah Mitos di Waduk Salmokji Seseram di Film Salmokji: Whispering Water?
-
Review Film Street Fighter: Kembalinya Turnamen Bela Diri Paling Ikonik!
-
Kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Pelajaran Berharga dari Sejarahnya