M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Daftar peserta Story on Stage episode 10 di ZOW Kopitiam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (17/10). (dok.Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Bayangkan kalau kita bisa bertemu seseorang berkali-kali tanpa betulan mengetahui kisah hidupnya. Kita mungkin mengenali wajahnya, tahu sedikit tentang kesehariannya, atau mungkin sesekali bertukar sapa dengannya. 

Namun, seberapa banyak yang benar-benar kita ketahui tentang perjalanan hidup orang tersebut? 

Pemikiran itu terlintas di benak saya setelah saya berkesempatan untuk bergabung dalam agenda rutin sebuah komunitas storyteller bernama Story on Stage di ZOW Kopitiam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam (17/10).

Malam itu, saya disambut oleh sejumlah orang yang sudah berkumpul di meja. Masing-masing melingkar, mengobrol santai. 

Tak lama kemudian Luqman Baehaqi menyambut saya dengan hangat dan berbincang sebentar. Selang beberapa menit, ia maju ke depan dan memandu jalannya kegiatan.

Masing-masing kebagian tujuh menit untuk membagikan cerita mereka. Saya tidak menyangka cerita yang muncul akan begitu beragam.

Ada yang membagikan pandangannya tentang arti kehidupan ini, ada juga yang mengenang pengalaman masa kecil terkait sosok wewe gombel, dan ada juga yang menceritakan tradisi di lingkungan pekerjaannya.

Malam itu bahkan diwarnai pertunjukan sulap dan hipnosis dari peserta.

Di antara cerita-cerita tersebut, saya jadi menyadari bahwa setiap orang membawa pengalaman hidup yang tidak selalu dapat terlihat dari luar.

Tujuh Menit untuk Sebuah Cerita

Sesi cerita oleh peserta komunitas Story on Stage episode 10, di Zow Kopitiam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (17/10). (dok. Pribadi/ Chairun Nisa)

Awalnya saya berpikir tujuh menit mungkin terdengar singkat untuk menceritakan sesuatu tentang diri sendiri. Apalagi setiap orang punya pengalaman yang berbeda dan tidak semuanya mudah diceritakan kepada orang lain.

Lalu saya bertanya kepada Luqman, "Kalau misalkan bingung ingin cerita apa, itu gimana?"

Luqman menjawabnya dengan santai, "Mulai aja dulu dengan cerita who i am, nanti begitu dibiarin jadi ngalir sendiri."

Pandangan saya kembali melihat ke arah depan, satu per satu peserta bergantian tampil. Di sini saya melihat bagaimana waktu yang terbatas bisa menjadi ruang bagi seseorang untuk membagikan bagian hidupnya. 

Ada yang tampil dengan cerita yang mengundang tawa. Ada yang membuat penasaran. Ada pula yang memperlihatkan sisi kehidupan yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Saya mungkin memang tidak mengenal mereka sebelumnya. Saya pun tidak mengetahui detail bagaimana kehidupan mereka sebenarnya. Akan tetapi, melalui cerita yang dibagikan, saya mendapat kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Hal tersebut membuat saya becermin bahwa mengenal seseorang tidak selalu cukup hanya dengan mengetahui nama, pekerjaan, atau kegiatan sehari-hariinya. Di baliknya, ada pengalaman, kenangan, keyakinan, hingga peristiwa yang membentuk seseorang menjadi dirinya sekarang.

Sayangnya, hal-hal semacam itu tidak selalu muncul dalam percakapan sehari-hari. Kita bisa bertemu orang yang sama setiap hari tanpa pernah mengetahui apa yang sedang mereka hadapi.

Tetap perlu ditekankan ini bukan berarti setiap orang harus menceritakan seluruh kehidupannya kepada orang lain. Setiap orang pastinya mempunyai batasan hal-hal yang ingin dibagikan. Namun, begitu seseorang memutuskan untuk bercerita, sudah seharusnya kita menyediakan ruang untuk mendengarkan.

Belajar Menjadi Pendengar Bagi Orang Lain

Penampilan sulap oleh peserta komunitas Story on Stage episode 10, di Zow Kopitiam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (17/10). (dok. Pribadi/ Chairun Nisa)

Bagi saya sendiri, pengalaman menghadiri Story on Stage bukan sekadar kesempatan biasa untuk menyaksikan orang-orang tampil di depan peserta lain.

Lebih dari itu, acara tersebut secara tidak langsung menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak mendapat perhatian.

Kita sering kali merasa terburu-buru menilai seseorang berdasarkan apa yang terlihat sekelibat mata. Padahal, apa yang kita lihat mungkin hanya sebagian kecil dari kehidupannya. 

Di balik seseorang yang tampak ceria, misalnya, bisa saja ada pengalaman yang tidak kita ketahui. 

Cerita-cerita malam itu mengingatkan saya bahwa setiap orang memiliki cara tersendiri dalam memaknai kehidupan ini. Pengalaman yang bagi seseorang terasa biasa saja bisa menjadi sesuatu yang menarik bagi orang lain. 

Sebaliknya, hal yang terdengar sederhana bagi kita mungkin menyimpan arti besar bagi orang yang mengalaminya.

Saya juga jadi belajar kalau mendengarkan tidak harus selalu diikuti nasihat maupun tanggapan panjang. Ada kalanya dengan memberi kesempatan kepada seseorang untuk menyelesaikan ceritanya saja sudah lebih dari cukup.

Pada akhirnya, di perjumpaan malam itu saya pulang dengan pemikiran sederhana: kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh cerita seseorang hanya dari pertemuan singkat. Selalu ada saja bagian dari kehidupan mereka yang belum kita ketahui.

Mungkin, itulah alasan mengapa ruang seperti Story on Stage terasa sangat berarti. Di sana, ada orang-orang yang awalnya asing bisa saling mengenal melalui cerita, meski hanya selama beberapa menit.

Dari sini, saya ingin mengingat satu hal yang saya dapatkan dari pengalaman tersebut bahwa setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak untuk didengar.

Sebab, terkadang, untuk mengenal seseorang lebih jauh, kita hanya perlu berhenti sejenak, memberi ruang, lalu benar-benar mendengarkan.