M. Reza Sulaiman | Chyndi Lumolos
Ilustrasi Karhutla (pexels.com/Marek Piwnicki)
Chyndi Lumolos

Sebuah video bisa membuat kita berhenti menggulir layar. Asap tebal, api yang membesar, atau kebakaran yang mendekati permukiman dapat langsung menarik perhatian audiens. Namun, setelah melihatnya, pernahkah kita bertanya: apakah video tersebut sudah cukup menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?

Pertanyaan ini penting di tengah perkembangan jurnalisme digital. Sekarang, masyarakat tidak hanya menjadi penonton berita saja. Mereka juga bisa menjadi orang pertama yang merekam peristiwa, membagikannya di media sosial, bahkan menyediakan bahan yang kemudian digunakan oleh media profesional.

Salah satu contohnya adalah video BBC News Indonesia Berjudul “Karhutla Kalteng Terekam Drone Warga, Api Mendekati Permukiman”, yang dipublikasikan pada 12 Agustus 2026. Video tersebut menampilkan rekaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah yang diambil seorang warga menggunakan drone. Dalam deskripsinya, BBC juga mencantumkan data BPBD Kota Palangka Raya mengenai kejadian karhutla dan luas lahan yang terbakar.

Kasus ini memperlihatkan bahwa kamera yang dibawa warga dapat membantu menghadirkan gambaran nyata mengenai sebuah peristiwa. Akan tetapi, ada hal yang tidak boleh dilupakan: video yang memperlihatkan kejadian belum tentu menjelaskan seluruh fakta di baliknya.

Video warga membuat berita lebih dekat

Dalam jurnalisme, gambar bergerak memiliki kekuatan tersendiri. Audiens tidak hanya membaca penjelasan tentang kebakaran, tetapi juga dapat melihat kondisi yang terekam di lapangan. Pada penggunaan drone dalam kasus ini memberikan sudut pandang dari udara yang membantu memperlihatkan situasi wilayah terdampak.

Di sinilah kontribusi warga menjadi penting. Mereka bisa berada dekat dengan lokasi kejadian dan merekam media menyampaikan informasi yang lebih kaya secara visual.

Fenomena ini berkaitan dengan jurnalisme warga atau citizen journalism. Dalam artikelnya, Wahyudi membahas bagaimana masyarakat dapat berperan dalam memperoleh dan menyebarkan informasi melalui perkembangan teknologi digital. Artinya, kegiatan menyampaikan informasi tidak lagi sepenuhnya terbatas pada orang-orang yang bekerja di perusahaan media.

Meski demikian, menjadi orang yang merekam kejadian tidak otomatis menjadikan seseorang mampu menjelaskan seluruh aspek peristiwa tersebut. Warga mungkin mengetahui apa yang dilihatnya, tetapi belum tentu mengetahui penyebab kejadian, jumlah kerugian, atau tindakan yang dilakukan oleh pihak terkait.

Karena itu, rekaman warga sebaiknya dipandang sebagai bahan informasi yang berharga, bukan sebagai pengganti seluruh proses jurnalistik.

Jangan berhenti pada apa yang dilihat

Bayangkan kita melihat video kebakaran yang tersebar di media sosial. Api terlihat besar dan asap memenuhi udara. Kita mungkin langsung menyimpulkan bahwa kebakaran tersebut merupakan yang tersebar di wilayah itu atau bahwa seluruh permukiman sedang terancam.

Padahal, kesimpulan tersebut belum tentu sesuai dengan fakta. Video mungkin hanya merekam satu lokasi, diambil pada waktu tertentu, atau tidak memperlihatkan dari keseluruhan kondisi di lapangan.

Pentingnya proses ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdullah dan Sirait (2022) mengenai penggunaan video warga dalam program berita televisi Indonesia. Penelitian tersebut membahas pemanfaatan video warga oleh media arus utama dan menyoroti pentingnya penerapan prinsip jurnalistik, termasuk konfirmasi dan verifikasi.

Pentingnya mengenai fact-checking oleh Nurlatifah dan Irwansyah juga relevan untuk memahami bagaimana pemeriksaan fakta menjadi bagian penting dalam jurnalisme digital. Teknologi dapat membantu proses penelusuran informasi, tetapi keputusan untuk menyajikan suatu informasi tetap membutuhkan pertimbangan jurnalistik.

Dalam kasus karhutla di Kalimantan Tengah, data BPBD yang dicantumkan dalam deskripsi video BBC membantu memberikan gambaran mengenai skala peristiwa. Namun, pencantuman data ini saja tidak cukup untuk menyimpulkan seluruh tahapan verifikasi berita, kita juga perlu membedakan informasi yang tersedia dari hal-hal yang belum dijelaskan oleh sumber.

Cepat bukan berarti boleh mengabaikan akurasi

Di media sosial, informasi dapat menyebar dalam waktu singkat. Video yang menarik perhatian bisa dibagikan berkali-kali sebelum orang sempat memeriksa kebenaran dan konteksnya. Keadaan ini menjadi tantangan bagi media profesional yang juga dituntut untuk menyampaikan informasi dengan cepat.

Menurut saya, kecepatan dan ketelitian seharusnya tidak dipertentangkan. Media tetap dapat memanfaatkan rekaman warga untuk memperkaya berita, tetapi proses pemeriksaan informasi tidak boleh diabaikan hanya karena sebuah video sedang ramai diperbincangkan.

Media juga perlu memberikan keterangan yang jelas kepada audiens. Jika suatu informasi belum dapat dipastikan, keterbatasan tersebut sebaiknya dijelaskan. Jika video digunakan sebagai materi pemberitaan, asal rekaman dan konteksnya perlu disampaikan dengan tepat.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab ketika membagikan video. Sebelum meneruskan suatu rekaman, kita dapat memeriksa sumber awalnya, membaca keterangan yang menyertainya, dan memastikan bahwa informasi tersebut tidak diambil di luar konteks. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi penyebaran informasi yang menyesatkan.

Sampai pada akhirnya, perkembangan teknologi memang membuka kesempatan bagi siapa pun dapat ikut menghadirkan informasi. Namun, banyaknya video yang beredar tidak otomatis membuat masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih baik.

Video warga dapat menjadi bagian penting dari jurnalisme multimedia karena menghadirkan gambaran visual yang mungkin tidak mudah diperoleh dengan cara lain. Meski begitu, kekuatan gambar tetap perlu disertai konteks, data pendukung, data verifikasi. Sebab, berita yang baik bukan hanya berita yang membuat orang berhenti menonton, melainkan juga berita yang membantu mereka memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Baca Juga