Agenda nonton bareng dan diskusi film “Mengincar Karst di Pracimantoro” di Griya Gusdurian, Sorowajan, Bantul, pada Kamis (22/10/2026) malam mengangkat perjuangan warga Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, dalam mempertahankan ruang hidup dari rencana pertambangan di kawasan karst Gunung Sewu.
Kegiatan yang berlangsung pukul 19.00 hingga 22.00 WIB ini diinisiasi Lingkar Keadilan Ruang (RUANG), Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Jaringan Gusdurian, Watchdoc, serta sejumlah organisasi masyarakat sipil lainnya.
Dalam diskusi tersebut, Armen, perwakilan Paguyuban Tali Jiwa Pracimantoro, menyampaikan tembang Pangkur yang menggambarkan kedekatan warga dengan alam dan kehidupan pertanian.
“Gunung Sewu dadi guru, urip tansah narimo, tani lestari kanggo bebrayan.”
Tembang tersebut menyimpan pesan tentang kehidupan yang ingin dipertahankan warga Pracimantoro. Gunung Sewu menjadi guru kehidupan, kesederhanaan membawa kecukupan dan kedamaian, sementara pertanian perlu terus dilestarikan tanpa gangguan janji-janji pertambangan. Bagi warga, tembang itu menjadi salah satu cara merawat semangat perjuangan mempertahankan lahan pertanian dan peternakan yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Purwantoro, petani Pracimantoro, menegaskan bahwa masa depan warga bertumpu pada tanah yang mereka kelola. “Kami memiliki lahan pertanian, memelihara sapi dan kambing, serta sumber penghidupannya bergantung penuh pada lahan tersebut. Kami punya mimpi, dan mimpi kami lahir dari lahan pertanian kami, bukan dari perusahaan,” ujar Purwantoro.
Paguyuban Tali Jiwa mengorganisasi warga untuk menolak rencana pertambangan tersebut. Menurut Armen, ancaman terhadap kawasan Gunung Sewu bukan persoalan baru. Pengalaman menghadapi rencana pembangunan pabrik semen di wilayah Giriwoyo pada 2012–2013 menjadi salah satu latar perjuangan warga saat ini.
“Pracimantoro ini bukan pertama kalinya terancam rencana pertambangan di Kawasan Karst Gunung Sewu. Beberapa dekade lalu, wilayah ini selalu menjadi incaran pengusaha maupun penguasa. Tahun 2012–2013, Giriwoyo yang berjarak hanya 20 menit dari Pracimantoro pernah mengalami ancaman serupa,” kata Armen.
Di tengah perjuangan tersebut, jalur kebudayaan digunakan untuk menjaga ingatan dan semangat warga, terutama para sepuh dan petani yang sehari-hari bekerja di tegalan. Tembang Pangkur Tali Jiwa merangkum nilai yang mereka pegang, seperti hidup bersahaja, menjaga pertanian, dan mempertahankan kehidupan yang telah dibangun bersama.
Armen juga menjelaskan bahwa warga memperkuat komitmen melalui kesepakatan untuk tidak menjual tanah garapan kepada makelar atau perwakilan perusahaan. Mereka menjaga silaturahmi dan mempertahankan Posko Perjuangan sebagai ruang untuk merawat komunikasi serta keberlanjutan gerakan.
Upaya itu berlangsung di tengah ketegangan sosial akibat perbedaan sikap warga terhadap rencana pertambangan. Armen menggambarkan bagaimana perselisihan yang awalnya muncul dalam percakapan di media sosial merembet ke kehidupan sehari-hari.
“Konflik sengit terjadi di grup Facebook warga lokal dan merembet ke kehidupan sosial nyata. Warga pro dan kontra tidak saling mendatangi hajatan atau lelayu duka cita,” tambah Armen.
Kondisi tersebut membuat solidaritas menjadi bagian penting dari perjuangan. Kesepakatan mempertahankan tanah, menjaga hubungan personal, dan merawat posko menjadi cara warga menjaga komitmen ketika perbedaan pandangan berpotensi memutus hubungan sosial mereka.
Saleh dari CELIOS menilai gerakan warga Pracimantoro memiliki nilai yang perlu diwariskan. Ia menyoroti berbagai cara yang ditempuh warga untuk mempertahankan perjuangan, mulai dari kegiatan kebudayaan hingga pengorganisasian di tingkat lokal.
“Gerakan sosial masyarakat Pracimantoro yang dibangun secara organik, mulai dari siaran film di sekolah/pesantren, tembang kebudayaan, hingga diplomasi posko, adalah sejarah perjuangan yang hidup,” ujar Saleh.
Melalui Tembang Pangkur, kesepakatan sosial, dan keberlanjutan posko, Paguyuban Tali Jiwa berupaya menjaga agar perjuangan tidak berhenti setelah demonstrasi atau audiensi selesai. Tradisi menjadi pengingat tentang kehidupan yang hendak dipertahankan, sedangkan kerja kolektif memastikan komitmen itu tetap hadir dalam keseharian warga dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Baca Juga
-
Diskusi Film Karst: Petani Pracimantoro Soroti Ancaman Tambang Semen
-
Ulasan Novel Membunuh Commendatore: Bahasa Simpel, Misteri Berlapis
-
Joki Baca Buku dan Komodifikasi Literasi, Solusi atau Sekadar Ilusi?
-
Sisi Kelam Naruto Shippuden: Dari Marginalisasi Hingga Radikalisme Rakyat
-
Menolak Ego Sektoral: Ini yang Akan Dikritik Tan Malaka dari Demo DPRD DIY
Artikel Terkait
News
-
Diskusi Film Karst: Petani Pracimantoro Soroti Ancaman Tambang Semen
-
New Normal Jurnalistik: Saat Mesin Pencari dan Media Sosial Rebut Audiens Portal Berita
-
Inovasi Media MUWAKIB: Cara Guru NU Pekalongan Bikin Belajar Bahasa Arab Jadi Seru
-
Jangan Telan Mentah-Mentah! Ini Alasan Video Jurnalisme Warga Tetap Butuh Verifikasi
-
Bakom RI Apresiasi Local Media Summit, Dorong Media Lokal Terhubung ke Panggung Global
Terkini
-
Film Takopi's Original Sin Rilis Cuplikan Adegan Baru, Tele Isi Lagu Tema
-
Review The Childe: Film Aksi Menegangkan dengan Akhir yang Tak Terduga
-
4 Ampoule Korea Hyaluronic Acid Lembapnya Tahan Lama agar Skin Barrier Kuat
-
Tenaga Ahli Diekspor, Teknologi Diimpor: Paradoks Pembangunan Indonesia
-
Sinopsis Clayface, Soroti Sejarah Kelam dari Musuh Klasik Batman