“Cinta seumpama matahari, ia tidak pernah mengharapkan cahaya dari bumi. Tapi, ia selalu memberikan cahaya bagi bumi, biarpun bumi tidak merasakan cahayanya.” (Hal. 92). Kalimat puitis ini menjadi pembuka yang manis sekaligus kontras bagi sebuah novel yang sebenarnya membawa kita ke dalam labirin konflik yang kelam. Novel Seumpama Matahari karya Arafat Nur hadir dengan ketebalan yang pas, tidak terlalu tebal, sehingga sangat cocok bagi pembaca yang sedang mencari stimulan untuk mengembalikan gairah membaca. Saya sendiri berhasil menuntaskannya dalam sekali duduk, sebuah pengalaman membaca yang sangat memuaskan.
Asrul dan Pilihan Hidup yang Terjepit
Novel bersampul kuning ini berpusat pada tokoh bernama Asrul, seorang pemuda Aceh yang terjebak dalam pusaran Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Membaca kisah ini memberikan pengalaman yang unik, terutama karena penulis mengambil sudut pandang dari pihak gerilyawan. Jujur, pada mulanya saya merasa sedikit terganggu karena perspektif "pemberontak" ini sangat bertolak belakang dengan jiwa nasionalisme saya yang masih mencintai negeri ini dengan segala kerumitannya.
Namun, Arafat Nur dengan piawai menjelaskan latar belakang mengapa Asrul harus menjadi seorang gerilyawan. Asrul bukan sekadar ingin memberontak; ia adalah korban dari lingkaran dendam. Ayahnya dibunuh oleh tentara sebagai pelampiasan atas kegagalan mereka menangkap para pemberontak. Didorong oleh rasa sakit hati dan pengaruh lingkungan, Asrul pun mengikuti pelatihan militer di hutan. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul kelelahan batin. Ia mulai mempertanyakan tujuan perang dan merindukan kehidupan normal demi ibu, adik, serta tunangannya.
Belajar Sejarah Lewat Narasi Romansa
Hal yang paling berkesan dari buku ini adalah cara penulis menyajikan sejarah GAM secara bertahap. Kita diajak memahami latar belakang kemunculan gerakan ini yang dipicu oleh ketidakadilan pembangunan di daerah Aceh pada masa itu. Meskipun memuat unsur sejarah yang serius, buku ini tidak terasa berat layaknya buku teks sekolah. Arafat Nur menyisipkan elemen romansa antara Asrul dan seorang wanita berambut hitam yang wangi, yang memberikan warna tersendiri dalam cerita.
Menariknya, latar belakang budaya Aceh yang religius sangat menjaga kemurnian kisah cinta ini. Meskipun imajinasi saya sempat membayangkan dorongan nafsu masa muda Asrul, nilai-nilai keislaman dalam novel ini dengan tegas membentengi perilaku para tokohnya. Di sana, pacaran atau berduaan di tempat sepi dianggap sebagai aib besar yang bisa berujung pada hukuman sosial. Hal ini menjadi bahan renungan yang menarik jika dibandingkan dengan kondisi pergaulan bebas di zaman sekarang.
Bahasa yang Sopan dan Kesenjangan Karakter
Gaya bahasa Arafat Nur dalam novel ini cenderung formal dan sopan, mencerminkan tata krama masyarakat Aceh yang luhur. Namun, saya merasakan adanya sedikit "jarak" atau kesenjangan dalam penggambaran karakter. Penulis kurang mendetail dalam mendeskripsikan ciri fisik maupun kedalaman sifat Asrul. Kita tahu ia berambut panjang, tapi bagaimana raut wajahnya? Apakah ia pemberani, pekerja keras, atau bijak? Sifatnya terasa agak samar sehingga sulit bagi saya untuk menjadikan Asrul sebagai tokoh teladan yang menonjol.
Kekurangan ini justru memicu rasa penasaran saya untuk menjelajahi karya-karya Arafat Nur yang lain. Saya ingin melihat apakah gaya bercerita yang samar ini merupakan ciri khasnya ataukah terdapat variasi lain di buku berbeda.
Kesimpulan: Perenungan tentang Hidup dan Kematian
Secara keseluruhan, Seumpama Matahari adalah novel yang menyenangkan dan sangat informatif. Ia menjadi jembatan bagi pembaca untuk memahami salah satu fragmen sejarah penting di Indonesia melalui kacamata fiksi. Kutipan di halaman 55 sungguh menggetarkan: "Nak, berusaha untuk mati itu lebih cepat berhasil daripada kau berusaha untuk terus hidup." Sebuah pengingat betapa tipisnya batas antara perjuangan dan keputusasaan di medan konflik.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan sejarah sambil menikmati alur cerita yang mengalir dan penuh makna.
Identitas Buku:
- Judul: Seumpama Matahari
- Penulis: Arafat Nur
- Editor: Yetti A. KA
- Penerbit: DIVA Press
- Terbit: Cetakan pertama, Mei 2017
- Tebal buku: 144 halaman
- ISBN: 9786023914159
Baca Juga
-
Dari Tanah Wajo ke Belanda: Perjalanan Cinta Lintas Milenium di Novel Lontara
-
Rumah Kertas: Ketika Cinta Buku Kelewat Batas Sampai Jadi Tembok Rumah
-
Membaca Unfinished Goodbye: Tentang Luka, Trauma, dan Berhenti Berpura-pura
-
Sabar Tanpa Batas: Kisah Haru Pengorbanan Kakak demi Masa Depan Adik
-
Menonton Kembali Kembang Api: Tentang Luka, Bertahan, dan Urip Iku Urup
Artikel Terkait
Ulasan
-
Romansa dalam Bayang-Bayang Perang Saudara Amerika di Novel Glorious Angel
-
Mitos Lereng Ciremai dan Wajah Metropolitan dalam Buku Monyet Bercerita
-
Ketika Hujan Berbicara: Jangan Dengerin Lagu Ref:rain dari Aimer Kalau Belum Sedia Tisu
-
Keluarga juga Perlu Minta Maaf: Membaca Novel Kisah Untuk Alana
-
Menjelajah Dimensi Lain di Novel Tujuh Kelana
Terkini
-
Lebaran di Era Paylater: Religiusitas dalam Bayang-bayang Utang Digital
-
Ramadan dan Seni Menahan Jari di Media Sosial, Siap Puasa Digital?
-
Menu Sahur Hemat dan Bergizi: 4 Olahan Telur yang Satset dan Ramah Kantong
-
Kesadaran Vaksin di Indonesia yang Menurun dan Dampaknya pada Syarat Umroh
-
Baju Lebaran: Ketika Satu Keluarga "Dipaksa" Estetik oleh Algoritma