Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Penampilan Kim Yoo-jung dalam Drama Dear X (IMDb)
Ukhro Wiyah

Drama Korea Dear X merupakan series bergenre psychological-thriller yang tayang perdana pada November 2025. Drama ini mengangkat tema gelap seperti trauma masa kecil, ambisi, manipulasi, balas dendam, hingga sisi kelam dunia hiburan.

Cerita dibuka dengan Baek Ah-jin (Kim Yoo-jung) yang berdiri di karpet merah untuk menerima penghargaan sebagai aktris terbaik. Ia tampil anggun, tenang, dan sempurna di hadapan publik. Namun di balik citra tersebut, Ah-jin menyimpan masa lalu yang penuh trauma dan luka mendalam.

Sejak kecil, Ah-jin hidup dalam keluarga abusif. Ibunya adalah pecandu alkohol yang kerap melakukan kekerasan. Trauma itu semakin parah ketika ia menyaksikan ayahnya membunuh sang ibu. Peristiwa tersebut menjadi titik awal perubahan psikologis Ah-jin. Alih-alih mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ia justru terus mengalami kekerasan dari ayah dan ibu tirinya.

Pengalaman pahit itu membentuk Ah-jin menjadi sosok sosiopat yang manipulatif. Ia tumbuh sebagai siswi cerdas dan berprestasi dengan citra baik di sekolah. Namun di balik sikap manisnya, Ah-jin mampu melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi tujuannya. Manipulasi menjadi senjata utamanya untuk bertahan hidup sekaligus membalas luka masa lalu.

Dalam perjalanan hidupnya, Ah-jin didukung dua sosok yang berperan penting. Yoon Jun-seo (Kim Young-dae) adalah anak dari ibu tiri Ah-jin yang menyimpan rasa bersalah dan rela melakukan apa pun demi dirinya. Sementara itu, Kim Jae-oh (Kim Do-hoon) juga selalu berada di sisi Ah-jin dan membantunya tanpa banyak pertanyaan. Hubungan ketiganya membentuk dinamika kompleks antara obsesi, ketergantungan, dan manipulasi emosional.

Review Drama Dear X

Drama Dear X menjadi salah satu series thriller paling berkesan yang pernah saya tonton di tahun 2025. Alur 12 episode-nya dibangun dengan rapi dan intens. Setiap konflik terasa saling terhubung tanpa bertele-tele. Tempo cerita yang cepat membuat drama ini tidak terasa membosankan meski mengangkat isu yang cukup berat.

Penggunaan flashback dari masa kecil hingga dewasa juga disusun dengan jelas. Transisi antar timeline tidak terasa membingungkan dan justru memperkuat perkembangan karakter Baek Ah-jin. Penonton dapat memahami bagaimana trauma yang dialaminya perlahan membentuk kepribadian yang dingin dan manipulatif.

Akting Kim Yoo-jung menjadi salah satu kekuatan utama drama ini. Ia berhasil menampilkan karakter dengan dua wajah yang kontras: lembut di luar, namun gelap di dalam. Perubahan ekspresi yang tiba-tiba terasa sangat natural dan membuat karakter Ah-jin semakin hidup. Tatapan matanya saja sudah cukup membangun ketegangan. Dengan pengalaman dan jam terbang di dunia akting yang sudah lebih dari 20 tahun, Kim Yoo-jung membuktikan kemampuannya yang sangat baik di bidang tersebut.

Chemistry antara Kim Yoo-jung dan Kim Young-dae juga berhasil menciptakan atmosfer yang intens. Interaksi keduanya terasa dingin namun emosional. Hubungan mereka tidak hanya romantis, tetapi juga penuh ketergantungan yang tidak sehat.

Pemeran pendukung seperti Kim Do-hoon, Kim Ji-hoon, Hwang In-yeop, hingga Hong Jong-hyun turut memberikan warna pada cerita. Kehadiran mereka memperkuat konflik sekaligus memperdalam dunia gelap yang melingkupi kehidupan Ah-jin.

Sebagian penonton menilai ending drama ini terasa terburu-buru. Namun secara keseluruhan, penutup cerita masih terasa realistis. Baek Ah-jin akhirnya harus menghadapi konsekuensi dari ambisi dan manipulasi yang telah menghancurkan banyak orang. Ending tersebut tidak menawarkan kebahagiaan, tetapi justru memperkuat pesan bahwa setiap tindakan memiliki harga yang harus dibayar.

Melalui karakter Baek Ah-jin, drama ini menunjukkan bagaimana kekerasan dan pengabaian emosional pada anak dapat membentuk pribadi yang minim empati. Manipulasi yang ia lakukan bukan hanya bentuk kejahatan, tetapi juga mekanisme pertahanan diri dari trauma yang tidak pernah sembuh. Sebagai penonton, saya cukup setuju dengan pernyataan salah satu tokoh dalam drama ini. Andai di masa kecilnya dulu, Ah-jin memiliki satu saja orang dewasa yang menolongnya, mungkin nasibnya akan jauh berbeda.

Drama ini juga menyoroti bahaya hubungan toxic. Dedikasi tanpa batas yang diberikan Jun-seo dan Jae-oh pada Ah-jin justru menghancurkan hidup mereka sendiri. Hubungan yang dibangun atas rasa bersalah, obsesi, dan ketergantungan emosional pada akhirnya tidak membawa siapa pun pada kebahagiaan.

Dalam drama Dear X, ditunjukkan pula sisi gelap di balik gemerlapnya dunia hiburan. Di mana karakter dan kepribadian yang dibangun di depan publik bisa menutupi keburukan di balik layar. Namun, seperti halnya peribahasa, “Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, pasti baunya akan tercium juga.” Itulah yang terjadi pada Baek Ah-jin. Hidup, karier, citra baik, dan semua yang ia upayakan bertahun-tahun hancur dalam sekejap sebab masa lalu kelamnya yang terungkap.

Secara keseluruhan, Dear X bukan sekadar thriller tentang balas dendam, tetapi juga potret kelam tentang trauma masa kecil, ambisi tanpa batas, hubungan yang saling menghancurkan, dan sisi gelap dunia hiburan. Drama ini mengingatkan bahwa luka masa kecil yang tidak pernah disembuhkan dapat tumbuh menjadi sisi gelap yang menghancurkan diri sendiri maupun orang lain.