Ketika membaca buku-buku lawas bernapaskan sejarah, saya selalu berdoa dan memantapkan hati untuk tidak memihak dan menetralkan otak saya. Hal ini karena, sejarah selalu ditulis atas sudut pandang subjektif. Maka dari itu, membacanya butuh konsistensi untuk membandingkan dan melengkapinya dengan buku-buku yang lain.
Buku Memoar Pulau Buru karya Hersri Setiawan merupakan catatan pribadi, juga sebuah kesaksian sejarah yang membuka lapisan gelap masa lalu Indonesia. Dengan cover merah terang, membaca buku ini seperti menantang siapa pun untuk menyelesaikan bacaan ini hingga halaman terakhir.
Ditulis berdasarkan manuskrip “Di Sela-sela Intaian”, buku setebal lebih dari 600 halaman ini menghadirkan potret kehidupan para tahanan politik (tapol) di Pulau Buru pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965. Sebuah periode yang hingga kini masih menyisakan perdebatan dan luka kolektif.
Isi Buku
Melalui gaya penulisan yang intim, selayaknya catatan harian, Hersri tidak hanya menceritakan pengalaman pribadinya, tetapi juga merekam kehidupan sesama tapol dengan detail yang menyayat. Buku ini menjadi penting karena menghadirkan perspektif yang selama bertahun-tahun nyaris absen dalam narasi resmi negara.
Dalam banyak buku sejarah, kisah para tahanan politik sering kali direduksi atau bahkan dihapus. Di sinilah Memoar Pulau Buru berdiri sebagai manuskrip, mengembalikan suara mereka yang pernah dibungkam.
Tidak melulu berupa prosa panjang, Hersri menyisipkan puisi, renungan, hingga kisah-kisah kecil yang tampak sederhana. Misalnya, kisah Supardjo P.A., seorang tapol yang menghibur rekan-rekannya dengan memelesetkan lagu-lagu menjadi kritik politik.
Humor getir semacam ini justru menjadi mekanisme bertahan hidup di tengah tekanan yang tidak manusiawi. Dalam kondisi serba terbatas mulai dari makanan seadanya, kerja paksa, dan tekanan psikologis, para tapol tetap berusaha mempertahankan kewarasan dan martabat mereka.
Hal yang paling menggugah adalah bagaimana buku ini mengurai realitas ketidakadilan. Para tahanan dikirim ke Pulau Buru tanpa proses pengadilan yang jelas. Mereka tidak diberi kesempatan membela diri, bahkan tidak tahu kapan atau apakah mereka akan dibebaskan.
Situasi ini menjadi gambaran nyata pelanggaran hak asasi manusia pada masa Orde Baru. Hersri tidak menuliskan ini dengan nada retoris atau menggurui, melainkan dengan ketenangan yang justru membuat pembaca merasakan kengerian itu secara perlahan.
Menariknya, Memoar Pulau Buru juga dapat dibaca sebagai dokumen sosiologis. Relasi antar-tapol, dinamika kekuasaan kecil di dalam kamp, hingga cara mereka membangun solidaritas menjadi cerminan bagaimana manusia beradaptasi dalam kondisi ekstrem.
Bahkan dalam keterbatasan, muncul bentuk-bentuk kreativitas dan kritik. Baik melalui tulisan, humor, maupun ingatan kolektif yang terus dijaga.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini sering dikaitkan sebagai pelengkap dari Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer, yang juga lahir dari pengalaman di Pulau Buru. Keduanya saling melengkapi dalam menghadirkan mosaik sejarah dari sudut pandang korban.
Namun, Hersri menawarkan pendekatan yang lebih fragmentaris dan reflektif, seolah mengajak pembaca menyusuri ingatan yang terpecah-pecah namun justru terasa lebih autentik.
Salah satu bagian paling kuat dalam buku ini adalah interpretasi terhadap plesetan Pancasila oleh para tapol. Di tangan Supardjo P.A., sila-sila yang seharusnya menjadi dasar negara justru berubah menjadi kritik tajam terhadap realitas yang mereka alami.
“Kemanusiaan yang dirantai” atau “Keadilan sosial di kuburan” bukan sekadar permainan kata, melainkan refleksi pahit atas kondisi yang mereka hadapi. Ini menunjukkan jurang antara idealisme negara dan praktik kekuasaan yang terjadi saat itu.
Sebagai karya memoar, buku ini memang kacau secara struktur. Alurnya kadang meloncat, penuh amarah, bahkan terasa mentah. Namun justru di situlah keunikan buku ini. Ia tidak mencoba menyederhanakan pengalaman yang kompleks menjadi narasi yang mudah dicerna.
Sebaliknya, ia mempertahankan kekacauan itu sebagai bagian dari kejujuran sejarah.
Membaca Memoar Pulau Buru bukanlah pengalaman yang ringan. Ia menuntut kesabaran, empati, dan keberanian untuk menghadapi kenyataan yang pahit. Namun, di tengah beratnya isi buku ini, tersimpan pelajaran penting.
Bahwa sejarah tidak pernah tunggal, dan bahwa suara-suara yang pernah dibungkam harus terus dihadirkan agar ketidakadilan serupa tidak terulang.
Identitas Buku
- Judul: Memoar Pulau Buru
- Penulis: Hersri Setiawan
- Penerbit: IndonesiaTera
- Tahun Terbit: 2004
- ISBN: 9799375932
- Tebal: xxii + 616 halaman
- Kategori: Memoar, Sejarah, Hak Asasi Manusia
Baca Juga
-
Meneladani Spirit Pemimpi di Negeri Orang dalam Buku Lost in the USA
-
Indonesia Tak Cukup Mencetak Insinyur, Kita Harus Membangun Industrinya
-
Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?
-
PPN Pembalut Bukan Aturan Baru, Lantas Mengapa Baru Ramai Dipersoalkan?
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
Artikel Terkait
-
Buku Karena Hidup Enggak Sebercanda Itu, Motivasi yang Menenangkan Jiwa
-
Antara Aturan Adat Bali dan Suara Kenanga yang Menulis Takdirnya Sendiri
-
Review Jujur dari Buku Hati yang Kuat: Merawat Hati di Tengah Amukan Badai
-
500 Juta Won atau Nyawa: Menyelami Teror Psikologis dalam Novel Bone
-
Buku Aku Bukan Kamu: Tak Perlu Menjadi Siapa-Siapa, Cukup Jadi Diri Sendiri
Ulasan
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
Terkini
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog
-
Warisan Resep Dapur Ibu
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!